Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #63

Kehancuran Hendra

Di lantai dua restoran L'Aura, suasana berada di puncak keanggunan. Alunan musik jazz kontemporer dari live band di sudut ruangan berpadu indah dengan dentingan pelan garpu dan pisau perak yang beradu dengan piring porselen.

Aroma truffle, daging panggang, dan red wine menguar mewah di udara yang sejuk. Para tamu elit undangan tampak sangat menikmati hidangan karya Konita, memuji setiap gigitan yang meleleh di lidah mereka.

Namun, melodi kesempurnaan itu robek secara paksa. Tiba-tiba terdengar suara gebrakan pintu dari lantai bawah, disusul derap langkah kaki kasar yang menaiki tangga kayu oak.

Empat orang pria berseragam safari khas dinas kesehatan menerobos masuk ke area private dining dengan wajah yang arogan, didampingi seorang pria berkacamata tebal yang memegang kamera. Pria itu adalah seorang kritikus makanan bayaran yang terkenal lewat ulasan-ulasan kejamnya di internet.

"Mohon perhatian semuanya! Hentikan aktivitas makan Anda!" teriak salah satu petugas berbadan gempal, suaranya yang lantang dan kasar langsung membunuh alunan musik jazz.

Semua tamu terkesiap, kaget. Sendok garpu segera diturunkan. Isvara dan Shiela langsung berdiri dari kursi VIP mereka dengan wajah terkejut, sementara Luqman Taher yang duduk tidak jauh dari sana tampak pucat pasi.

Konita yang saat itu sedang ngobrol dengan Ezra dan Robby di lantai satu, merasakan darahnya berdesir dingin begitu mendengar teriakan di lantai dua. Jantungnya merosot ke perut. Trauma masa lalunya bangkit bagaikan monster yang mencekik lehernya.

Kejadian ini persis seperti saat dia diteriaki oleh banyak orang di restoran lamanya di hadapan banyak orang. Napas Konita mulai memburu tidak beraturan, jari-jarinya meremas apron putihnya hingga kusut.

“Siapa mereka?” Ezra tampak kesal, rahangnya mengeras dan bergegas naik ke lantai atas bareng Robby, Konita mengekor di belakang.

"Atas nama Dinas Kesehatan Provinsi, kami membawa surat perintah untuk menyegel restoran ini malam ini juga! Kami menerima laporan valid kalau restoran L'Aura menggunakan bahan pengawet kimia berbahaya dan daging selundupan busuk!" seru petugas itu seraya mengacungkan selembar map merah.

"Itu fitnah!" teriak Konita tanpa sadar saat tiba di lantai dua. Matanya memerah menahan marah dan panik. Dia hendak melangkah maju, melabrak orang-orang itu. Namun, sebuah tangan besar menahan lengannya dengan kuat.

"Biar aku yang ngurus orang-orang ini," desis Ezra. Mata pria itu menyala penuh amarah sambil melepaskan jas navy-nya, membuangnya asal ke atas kursi, lalu melangkah maju layaknya malaikat maut. "Coba tunjukkan surat tugas Anda! Dan atas dasar hukum apa Anda berani melakukan sidak tanpa pemberitahuan di malam pembukaan kami?"

Sebelum petugas itu sempat menjawab, suara tepuk tangan pelan yang sarkastis menggema dari arah tangga. Hendra Wijaya melangkah naik dengan senyum licik yang tercetak jelas di wajah piciknya.

"Sayang sekali, Konita, Ezra," ucap Hendra dengan nada dibuat-buat sedih, "restoran semewah ini, konsep yang begitu brilian, tapi ternyata dibangun di atas kecurangan. Reputasimu tamat malam ini, Konita. Kamera sedang merekam, dan besok pagi, namamu akan kembali hancur di media."

Konita menggertakkan giginya hingga rahangnya terasa sakit. "Pak Hendra... kamu benar-benar iblis pengecut."

Lihat selengkapnya