Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #64

Akhir Bahagia

Satu tahun kemudian, setelah malam yang penuh badai dan air mata, suasana Jakarta di luar sana masih sama bising dan congkak. Namun, di dalam Grand Ballroom hotel bintang lima di kawasan Thamrin, waktu seolah berhenti berputar.

Ruangan raksasa itu disulap menjadi sebuah taman bunga yang indah. Aroma melati yang sakral berpadu apik dengan wangi ribuan tangkai mawar putih segar yang merambat di pilar-pilar pualam. Pendar cahaya keemasan dari lampu kristal chandelier raksasa di langit-langit memantul pada ornamen kaca, mengisolasi semua tamu undangan dalam kepompong kemewahan yang tidak tersentuh oleh duka.

Di pintu masuk terbentang karpet merah yang panjang hingga ke panggung, Konita Reveena tampak berdiri di sana bareng Luqman Taher. Perempuan itu bukan lagi sebagai chef yang galak berseragam putih dan berlumur keringat dapur, melainkan perwujudan dari dewi kecantikan sejati.

Malam ini dia sudah memantapkan diri untuk menerima Ezra Yogaswara sebagai suaminya setelah menimbang cukup serius soal status mereka yang sebenarnya sebagai saudara sepupu. Namun, hal ini tidak menjadi masalah di mata hukum dan agama.

Konita tampak berdiri dengan tegar dengan tubuh rampingnya yang terbalut gaun pengantin sutra putih berekor panjang dengan detail brokat Prancis yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Kerudung transparan menutupi wajah cantiknya yang merona haru, sementara tiara berlian kecil bertengger anggun di sanggul rambutnya.

Sementara di panggung, Ezra Yogaswara terlihat berdiri menunggunya dengan napas yang tertahan bersama seorang penghulu dan saksi yang notabene adalah ayah angkatnya sendiri. Pria berdarah dingin yang selalu tenang itu kini tampak gelisah karena gugup.

Ezra mengenakan jas tuxedo hitam legam dengan dasi kupu-kupu yang membingkai ketampanannya. Mata elangnya yang tajam tampak memerah, menahan laju air mata kebahagiaan saat melihat wanita yang paling dia cintai di dunia ini melangkah perlahan ke arahnya.

Luqman Taher yang berjalan disamping Konita, menggandeng erat tangan sang putri, mengantarkannya ke pelabuhan terakhir. Pria tua pemilik bengkel kecil itu mengenakan setelan jas terbaik yang dibelikan khusus oleh putri angkatnya. Pria paruh baya itu tersenyum bangga dengan air mata yang mengalir bebas membasahi pipi. Meski bukan darah dagingnya sendiri, Luqman-lah yang telah membentuk Konita menjadi seorang wanita baja. Saat mereka tiba di pelaminan, perlahan Luqman menyerahkan tangan Konita ke Ezra.

"Jaga putriku baik-baik, Nak Ezra, sayangi dan cintai dia," bisik Luqman serak, kedua bola matanya tampak berkaca-kaca.

"Pasti! Dengan nyawaku, Pak," jawab Ezra mutlak.

Ezra segera meraih jemari Konita yang dingin, menggenggamnya begitu erat seolah tangan gadis itu adalah poros kehidupannya, lalu menuntun Konita untuk duduk di kursi yang ada di sebelahnya, sementara penghulu yang bertugas sebagai wali hakim duduk di depan mereka dengan Jenderal Samiaji Brotosuseno dan Luqman Taher sebagai saksi. Alunan musik orkestra pun perlahan memudar, digantikan oleh keheningan yang suci.

Tak lama kemudian, dalam satu tarikan napas, Ezra Yogaswara mengucapkan ijab kabul dengan sangat lancar, “Saya terima nikah dan kawinnya Konita Reveena binti Isvara Jennitra Hanggoro dengan mas kawin tersebut.” Suara bariton Ezra menggema lantang menembus keheningan ballroom.

Lihat selengkapnya