Rumah tahanan, Paledang 1933.
Jaka baru saja sadar dari perkiraan mati yang ia bayangkan. Dari pelipisnya yang pecah darah segar mengalir. Dingin lantai sel menusuk tulang melumpuhkan saraf. Ia meringkuk pada sudut sel berlendir berorama pesing tikus, kecoak, juga manusia. Ia sendirian, seorang Raden Mas yang dielukan jadi calon Bupati Wengker begitu tak ada artinya di Priangan, dan akan berakhir tragis dalam sel tahanan Belanda.
Dalam ruang sempit yang hanya bercahaya remang senja Jaka berusaha duduk menggapai apapun yang ada, suara opsir berlalu- lalang, satu berteriak padanya melempar nasi dengan najis seperti pada anjing liar. Ia muntah, yang keluar hanya cairan empedu. Hijau-pahit. Sebab ia belum lagi makan sejak kemarin. Dalam keadaan yang begitu mengenaskan ia rindu tanah Wengker yang gersang, udara Wengker yang panas dan berdebu, ia rindu penghormatan para abdi yang selalu menunduk di hadapannya, ia rindu pada Romo ̶ Bunda. Dan …
Ia rindu Asmarani.
Itu adalah hari kedelapan setelah lamarannya ditolak Wedana Kadupawitan, hari ketujuh setelah ciuman pertamanya, hari kelima setelah pertunangan kekasihnya, hari kedua setelah penggeledahan Pesantren As-Salam. Dan hari itu adalah hari di mana ia mulai linglung, seakan ajal telah dekat, menghadirkan siluet kenangan dari wajah orang-orang tersayang, ia rengkuh setengah sadar, namun semua menghilang, yang tersisa hanyalah gelap, dan suara samar memanggil. Jauh sekali… Seperti suara Bundanya, atau suara kekasihnya Asmarani. Semakin jauh.. dan menghilang.
Jaka terbangun lagi saat seekor tikus menggigit jempol kakinya, ia belum mati. Komandan Opsir yang telah membawanya ke tempat biadab ini telah tiba, membuka sel, berdiri di hadapannya.
“Mari, Raden Mas.” Ia digelandang lagi menuju kantor, seorang Belanda congkak berseragam opsir dengan tempelan bintang tiga di dadanya telah menunggu pada sudut ruang. Di hadapannya sebuah kertas menumpuk, dan Jaka tahu benar, bahwa itu adalah kitab yang ia salin.
Dalam Belanda orang itu bertanya soal Robert Decker, soal Djuanda Kertawidjaya. Mengapa surat-suratnya ada dalam lacinya di pesantren? Dan di mana surat yang lainnya? Surat yang membahas perlawanan bumiputera pada Belanda? Surat rahasia. Jaka mengelak, sebab surat-surat yang dimaksud tidak pernah ada. Ia katakan dengan tegas bahwa Robert Decker adalah nama lain milik kakaknya Sutjipto, selayaknya saudara yang terpisah jauh mereka kerap berkirim surat. Dan Djuanda… Ia mengenalnya dari Sutjipto, hanya ada satu surat akibat propaganda perang Bubat, dan itu bukan urusan mereka.
Surat-surat itu dihempaskan di depan wajahnya . Ia naik pitam.
“Tuan jangan semena-mena. Saya putra bupati, saya memiliki hak istimewa yang tercatat dalam Regeerings Reglement. Dan disahkan oleh Gubernur Jendral di Batavia.”
Belanda congkak itu berdecak ketus, senyum tipisnya mencemooh, tak peduli pada kemarahan Jaka, dikeluarkannya selinting tembakau dari saku, tak lama asap mengepul menyisakan bau.
Orang itu bertanya lagi mengenai Kiai Ahmad Basuni. Pada Kiai mana saja Ki Ahmad pernah berkunjung? Bukankah kau murid kesayangan Ki Ahmad? Apa yang sebenarnya kau cari di Priangan? Apa kau membentuk markas perlawanan di pesantren, sama seperti yang pernah dilakukan saudaramu Robert Decker di Leiden? Jaka terus mengelak. Sebab tak ada segala jawaban itu padanya. Dan orang itu belum lagi bertanya soal kitab yang ia salin.