Dari Priangan 1930

Ridhawd
Chapter #3

BAB II Pada Upacara Seren Taun (Sedekah Bumi) Kadupawitan, 1930

Kadupawitan berbalut warna pada hari sabtu di penghujung bulan September, sebuah pesta rakyat, penghormatan pada tanah yang tiap jengkalnya mengandung doa dan kasih dari Hyang Agung. Sebuah upacara akan digelar untuk Nyi Pohaci Sang Dewi Padi. Bertanda syukur atas keberhasilan panen tahun ini. 

Di rumah Wedana, para pemuka adat dan tamu undangan telah memenuhi pendopo, segala macam hidangan tersaji, pada pelataran luar junjungan hasil bumi dihias dengan megah, akan ada iring-iringan menuju lumbung padi, kelak di sanalah akan disimpan dengan khidmat padi ambu sebagai bibit tanam selanjutnya. Aroma bunga tujuh rupa juga rempah di setiap olahan membumbung memenuhi pengap di antara ramai manusia, gamelan mulai mengalun, bocah-bocah bersorak berjingkrak-jingkrak. 

Jaka telah tiba sejak pagi, duduk bersama Aman dan Usman di barisan paling akhir, undangan Wedana pada pesantren membuat para santri senior hadir mewakili Kiai. Sebuah pencampakan yang selalu diberikan Kiai setiap tahunnya, orang akan maklum, prasangka mengenai Kiai tidak suka gamelan dan tarian ronggeng adalah isu tahunan yang belum pernah dibenarkan oleh Kiai. Dari Usman yang berbisik ia tahu, mudharatnya akan lebih banyak katanya. Syubhat. Ia tahu belaka, tetapi baginya tarian dari perempuan yang bergeol-geol adalah keindahan dari sebuah karya, ia juga sering memainkan gamelan dengan nyanyian sumbangnya di Wengker. Maka berada di tengah priayi dan pemuka adat Kadupawitan adalah  hal biasa baginya. 

Dalam suka cita ia dengarkan kakawih dan tarawangsa. Kesenian leluhur yang begitu asing di telinganya, orang menunduk hening mencipta magis, betapa sakral kepercayaan tiap-tiap jiwa yang hadir di hadapannya, ia tidak ikut menunduk, matanya nakal menjalari setiap sudut. Dan ekor matanya menangkap Putri Wedana yang tersenyum ke arahnya, kekasihnya Asmarani. Ia tergugu, betapa manis dengan balutan kebaya merah muda dan selendang terawang penutup sanggul. Giginya cemerlang putih, tersenyum tersipu, ia rasakan bangga karena telah menjalin kasih dengan gadis itu.  

Wedana menaiki panggung kecil sederhana, kakawih dan tarawangsa sudah selesai dilantunkan. Sebuah pidato pembuka yang menggelora. Mencipta sorak dari semua yang ada. Lalu para gadis mulai berbaris di hadapan lesung memegang alu. Memukul dengan nada, dengan gendang, dan seorang Wanita tua yang mengalunkan kidung-kidung. Nek Iyam. Jaka mengagumi segalanya seperti seorang seniman di antara mahakarya, berbeda dengan Usman dan Aman yang hanya menunduk khidmat. Di Wengker, ini tidak ada. Panen apa? Tebu hanya akan langsung di bawa menuju pabrik Belanda. Maka perayaan paling meriah adalah saat gerebek mulud, atau pada hari raya, dan pernikahan priayinya.  

Kemudian tiap warga membentuk formasi iring-iringan, menuju leuwit (lumbung padi). Di barisan paling depan keluarga Wedana, diikuti para pemuka adat, dan pendekar Cimande yang membawa golok, kujang, dan keris. Bukan untuk pertempuran, melainkan untuk atraksi kekebalan yang sakral. 

Orang akan terus menceritakan rangkaian acara pada tujuh hari tujuh malam. Siapapun akan melirik mencari cela, maka segala yang dilakukan begitu dipaksa sempurna oleh Wedana, oleh pemuka adat Kadupawitan. Jaka melirik kekasihnya di barisan terdepan, lalu pada barisan pemuda tanggung yang menelan tubuh itu dengan tatapan hasrat. Ia rasakan panas menjalar pada telinga, tanpa sadar gerahamnya menegang. Ia tidak bisa apa-apa. 

Tahun lalu saat musim panen di Kadupawitan, dalam remang fajar di jalan perbatasan Cibumbung, saat ia hendak menuju kantor pos kota mengirimkan surat-surat Kiai. Jaka bertemu gadis itu sedang menangis seorang diri, wajahnya yang telanjang tanpa polesan, menambah kecantikan eksotik. Kecantikan langka, seolah gambaran langsung dari leluhurnya ratu-ratu Sunda. 

“Aku mau ke Cibumbung, bisa kau antar? Kakiku sangat pegal.”

Seperti tersihir, ia persilahkan gadis itu duduk pada boncengan sepeda ontelnya.

Sepanjang perjalanan Asmarani bercerita bahwa sejak malam tak hentinya para lurah dan camat datang ke rumahnya, sedang bapaknya sudah sepekan tidak ada di rumah, orang-orang itu menanyakan soal laporan pajak Kadupawitan yang menjadi berita di surat kabar De Preanger bode terbitan Bandung. Orang yang menulis menggiring opini bahwa Wedana telah korupsi, terbukti dengan laporan kontroler mengenai hutang Pajak Kadupawitan sebagai yang tertinggi di Priangan. Pagi itu atas perintah ambunya ia hendak ke rumah abangnya Raden Aswan meminta perlindungan. 

“Manusia memang letaknya salah, tapi Demi Allah Kang Jaka, aku yakin bapakku tidak bersalah.” 

Lihat selengkapnya