Pesta panen pada hari ketiga adalah sunatan masal, pementasan wayang golek dan tarian-tarian ronggeng. Warga akan berkumpul di pekarangan rumah Wedana, duduk bersama pada alas tikar menghadap lukisan alam yang hijau, kelabu, juga biru terang pada langit Priangan. Pertama-tama setelah menyantap nasi ketan saat ayam jantan masih berkokok ria adalah acara sunatan masal, seluruh bocah lelaki di Kadupawitan yang belum disunat akan disunati serentak. Lalu terdengar teriakan tangis dari bocah-bocah yang berusaha lari ketakutan pada bengkong.
Jaka selalu hadir pada seluruh rangkaian acara. Di saat seperti itulah dengan leluasa ia bisa bertemu dengan Asmarani. Hari itu saat matahari mulai sepenggalan naik dan sedikit terik, orang berkumpul mengusung sisingaan, di atasnya adalah pengantin sunat yang meringis menahan tangis, namun pesta untuk mereka tetaplah hiburan yang menyenangkan apalagi selanjutnya mereka akan disawer banyak uang dan hadiah.
“Di tempatku tidak ada.” Ucap Jaka pada Asmarani. Keduanya mengambil jarak dari keramaian duduk berjauhan pada batang pohon kelapa tumbang yang ditebang paksa untuk diambil umbutnya.
“Jadi, kau belum disunat?” Tanya Asmarani ragu. Jaka tersentak, tertawa.
“Maksudku tidak ada Sisingaan.” Asmarani menutup mulut, lalu mengikik pelan.