Pentas wayang golek akan digelar hingga larut malam, sampai bocah-bocah kecil merengek minta pulang pada ibunya. Selanjutnya, saat yang tersisa hanya orang-orang dewasa, para penari ronggeng terkenal akan mulai beraksi bersama gamelannya. Orang yang taat agama tidak akan ikut serta, sebab kebanyakan mereka yang bertahan memang kalangan priayi yang mulanya malu-malu, berdalih hadir karena undangan resmi dari wedana, tapi makin lama ronggeng akan menari semakin erotis dan gamelan yang menggebu tidak bisa lagi ditolak, mereka akan ikut terbuai menyatu. Pada akhirnya yang dapat menawar lebih banyak akan ikut menyarang dengan ronggeng pilihannya.
Bagi Suradipati, rangkaian acara yang sejak tadi ia saksikan begitu kuno, hanya satu yang cukup menghibur, saat ronggeng yang paling cantik itu memutarkan bokong bulat seiring gendang yang meraung. Ia berdiri mengambil jarak, menyaksikan beberapa orang mulai hilang akal karena mabuk, lalu memperhatikan pamannya Wedana Kadupawitan yang duduk resah, seolah menahan keinginan di tengah tatap mata yang akan menilai.
"Sepertinya kau memang sengaja datang kemari. Untuk melihat Asmarani, kan?" Aswan menyodorkan kotak keretek – Suradipati menyambutnya.
Angin malam di Priangan berhembus perlahan, membawa sejuk, sedang awan terlihat kelabu menyembunyikan rembulan. Asap mulai mengepul dari mulut keduanya.
"Adikmu angkuh."
Ia lirik Aswan yang masih sibuk dengan kereteknya, asap membulat terbang di udara, sedang matanya membulat, menelan pemandangan para penari yang memukau.
"Tidak, Bung. Dia memang tidak suka padamu."
"Sial!" Suradipati mengumpat dalam hati.
Ia ingat sore tadi, saat duduk berdua dengan Asmarani di ruang tamu, tak ada suara apapun yang terdengar dari gadis itu, hanya samar cecak yang berdecak dari balik pintu. Ia memulai obrolan mengenai Eropa, mengenai Leiden, tempat ia bersekolah selama ini, dan bertanya pada Asmarani mengenai Sakola kautamaan istri, tempat Asmarani bersekolah. Yang ada hanya jawaban singkat, ya atau tidak.
Jika bukan karena pada wajah itu ada alis yang melengkung, dengan bulu lentik membingkai mata, bibir terkatup merah muda. Cantik jelita. Ia akan pergi sambil mengumpat gadis itu. Keduanya masih terdiam hening dalam waktu yang terbuang lama, hingga datanglah Radin Kartinah menegur.
“Mengapa diam-diam saja?” Pada meja kayu berukir ditatanya kopi panas dan sesisir pisang raja.
"Asmarani sudah lulus dari sakola istri, sekarang kadang ikut mengaji di Pesantren, kadang ikut membantu di kawedanan. Dia suka membaca karangan dan hikayat." Radin Kartinah memulai pembicaraan.
"Banyak sekali buku sastra yang Akang bawa dari Belanda. Multatuli-Max Havelaar. Rani sudah baca?" Asmarani menggeleng pelan.
"Perlu pemahaman khusus memahami tulisan orang Belanda. Aku lebih senang sastra Melayu."
"Hanya faham sedikit saja dia, bahasa Belanda." Radin Kartinah menambahkan informasi. Lalu pada Asmarani berkata :
"Nanti bisa bertanya pada Suradipati, sudah pasti Bahasa Belandanya lancar sekali." Radin Kartinah berdiri lagi, berlalu meninggalkan keduanya.
"Aku pernah dengar sedikit tentang buku itu."
Suradipati mengangkat alis, menaruh tanya pada gadis itu.
"Sistem tanam paksa di Lebak, dan hikayat Saidjah-Adinda." Suradipati mengangguk tersenyum.