Dari Priangan 1930

Ridhawd
Chapter #6

BAB III Pesantren As-Salam, Kadupawitan

Ini adalah tahun ketiga bagi Jaka sebagai santri, 1926 saat ia pertama kali menggenggam surat kelulusan dari HBS dan benar-benar kembali ke Wengker ia langsung mendapat hadiah kelulusan dari Romonya yaitu pergi ke Priangan untuk menyantri. Ia menolak, menyantri bukan keinginannya, sebab setelah lulus HBS ia ingin langsung menyusul Sutjipto untuk bersekolah di Leiden. Bukan karena ia pintar, namun itulah persyaratan yang ia dengar dari seorang Gusti Putri, anak Bupati Jogja. Temannya di sekolah dulu. 

“Aku hanya akan menikah dengan lelaki pribumi yang berpendidikan tinggi.” Ucapan itu bukan untuk siapa-siapa, bukan juga untuk Jaka. Namun seperti warta raja, keinginannya seolah menjadi sayembara bagi seluruh siswa lelaki di sekolah.  

Jaka mendekatinya saat menyadari perasaan baru di hatinya, ia jatuh cinta. Suatu hari saat liburan sekolah ia berkunjung ke Jogja dengan temannya, Jagad. Anak Patih dari Madiun. Dua hari ia menginap di pendopo menunggu giliran bertamu pada Gusti Putri, dua hari itu pula ia menyaksikan tamu-tamu lelaki yang terus berdatangan, dan di antaranya ada pemimpin partai politik yang termahsyur. Dari tamu lain ia tahu, orang mahsyur itu datang untuk melamar, namun dari gelagat wajah saat kepulangannya menandakan lamarannya telah ditolak. 

“Di, kita pulang saja! Orang yang paling mahsyur saja ditolak, apalagi cuma siswa?” Bisik Jagad putus asa. 

“Yo kita kan cuma berkunjung, bukan melamar.” 

“Tetap saja tujuan utama kita mau dilirik Gusti Putri. Ya sudah, kalau tidak mau, aku pulang sendiri saja.” Karena tak punya pilihan lain, Jaka mengikuti keinginan Jagad.

Hingga suatu hari setelah liburan saat Jaka sedang duduk membaca catatan pelajaran, Gusti Putri menghampirinya sendirian. 

“Aku melihatmu di pendopo dengan Jagad.” 

“Pendopo mana?”

“Keratonku.” 

“Salah lihat mungkin.” Jaka menelan ludah. Kau tidak perlu tahu, aku dua hari duduk sia-sia di sana. Ia menggerutu. 

Lihat selengkapnya