Sekelompok burung pipit menyerbu biji padi pada sisa tangkai jerami padi, di sisi lain ladang unggukan jerami hangus terbakar meninggalkan jejak asap hitam, orang-orang sibuk dengan kerjanya masing-masing, sesekali terdengar obrolan para petani perihal harga jual beras yang semakin murah, dan pajak yang semakin mahal. Delman dan ontel melalui jalan dengan gerincing lonceng sejak dari kejauhan. Dalam pagi yang normal di Priangan, Kiai Ahmad menerima tamu dua orang ustad muda, perwakilan dari organisasi islam pertama yang mulai memiliki nama di pulau Jawa. Peresmiannya baru minggu lalu di Garut untuk delegasi Priangan, pada Kiai disampaikan tujuan kedatangannya, untuk membangun kemaslahatan umat, mendirikan madrasah islam yang lebih maju, dan rumah sakit untuk pribumi di Kadupawitan.
Kiai menatap serius pada kedua orang itu, sampai tidak sadar ada beberapa mata mengintip di balik pintu.
“Tentu bukan hanya itu Yayi. Kami tetap dengan tujuan utama, membawa kembali umat islam di pulau Jawa pada pedoman yang sesungguhnya, Al-Qur’an dan Sunnah.” Kiai Ahmad mengangguk perlahan, ada sepersekian detik ruangan terasa kosong sampai Kiai Ahmad berbicara.
“Kadupawitan akan sulit menerima sanad yang saudara bawa.”
Kedua ustad muda itu saling melirik, sebelum memutuskan datang ke Kadupawitan mereka sudah tahu betapa banyak takhyul dan bid’ah yang dijalani umat islam Kadupawitan.
“Itu juga yang menjadi tujuan kami datang kemari, Yayi.” Seorang lagi meneruskan.
“Kami mengenal Yayi sebagai pejuang islam yang bijak, tetap mengajarkan tasawuf murni pada para santri. Jadi kami yakin, Yayi setuju dengan maksud kami.”
“Kami tidak melarang saudara untuk membangun kemaslahatan umat di Priangan. Jika memang saudara ingin membangun madrasah dan rumah sakit, Pesantren As-Salam akan mendukung sepenuhnya.” Kiai Ahmad meneruskan.
“Tetapi.. Banyak ranah yang tidak bisa saudara masuki di Kadupawitan.”