Dari Rumah yang Retak

Indah Leony Suwarno
Chapter #2

Bagian 1

1

.

.

.


 

 

Aku pernah punya rumah yang utuh; setidaknya, begitulah yang kuingat.

 

Rumah itu tidak besar, dindingnya dicat biasa saja, tidak dicat warna-warna cerah seperti rumah di buku gambar anak-anak. Tapi setiap sore, selalu ada suara yang sama: tawa yang bersahutan, langkah kaki yang berlarian, dan suara ibu-ibu memanggil anaknya pulang.

 

Aku tumbuh di antara suara-suara itu.

 

Dua rumah dari rumahku, tinggal Kak Ratih bersama ibu dan kakak laki-lakinya. Seingatku, dia sudah mau SMP saat aku masih duduk di kelas 3 SD. Kami tidak punya hubungan darah, tapi rasanya lebih dekat dari keluarga sendiri. Ibunya, Tante Sulastri, sering memanggilku ikut makan tanpa banyak tanya. Kadang aku datang sendirian, kadang bersama adikku, duduk di dapur mereka, atau bermain sepanjang waktu saat pulang sekolah.

 

Di seberang perumahan, ada rumah Salwa. Aku sepantaran dengannya. Kami duduk di bangku yang sama di kelas, paling depan bagian tengah.

 

Rumahnya lebih besar dari perumahan di sebelahnya. Aku sempat bertanya pada mama saat itu tentang rumah Salwa, katanya, itu rumah pribadi mereka. Dan memang wilayahnya tidak termasuk wilayah perumahan.

 

Salwa adalah sahabatku. Ia anak bungsu dengan tiga kakak laki-laki yang sering membuat rumahnya terasa seperti dunia yang tidak pernah sepi. Aku suka berada di sana. Bukan hanya karena makanannya enak atau karena televisinya lebih besar, tapi karena aku merasa diterima tanpa syarat oleh mereka.

 

Salwa pernah operasi usus buntu, membuatnya dilarang bermain jauh dari rumah. Keluarganya menyambutku dengan baik, karena aku bersedia ke rumahnya setiap saat. Mungkin aku kurang malu, tapi aku kesepian berada di rumah dan hanya bermain dengan adik laki-lakiku saja. Kami hanya akur beberapa menit, lalu setelahnya salah satu dari kami pasti akan menangis.

 

Lihat selengkapnya