Dari Rumah yang Retak

Indah Leony Suwarno
Chapter #3

Bagian 2

2

.

.

.




Aku tidak ingat persis bagaimana keputusan bapak disampaikan. Bapak tidak mengumpulkan kami di ruang tengah dan berembuk untuk sebuah keputusan. Tiba-tiba saja kami harus pindah ke kampung halaman mama.

 

Mungkin bagi bapak dan mama aku masih anak kecil. Tahu apa anak 8 tahun menentukan pendapat. Jadi, ya, begitulah.

 

Keputusannya final. Kami akan pindah minggu depan. Bapak sibuk sekali, membagikan alat-alat rumah tangga yang berukuran besar kepada tetangga. Katanya, berat untuk dibawa pindahan.

 

Itu kulkas kesayanganku. Sumpah demi apa pun, aku selalu membeli tempelan kulkas untuk kutempel di sana.

 

Sofa marun yang biasanya di ruang tamu pun turut dibagikan ke tetangga. Astaga.

 

Dan, televisi?

 

Kenapa, sih, bapak selalu mengambil keputusan sepihak? Aku 'kan juga berhak punya suara!

 

Aku teringat dulu pernah giat sekali menabung. Jumlahnya sekitar satu setengah juta. Aku langsung mengajak mama untuk menemaniku beli VCD Player dan VCD power rangers.

 

Baru satu hari, itu pun baru sekali aku benar-benar duduk menonton sambil bahagia karena itu hasil tabunganku. Bapak pulang hari itu, entah kenapa marah-marah. Lalu semua cd yang kubeli dipatah-patahkan di hadapanku.

 

"Kembalikan VCD Player itu atau kubanting?!" Bapak bilang begitu dengan nadanya yang meninggi, urat di lehernya membesar. Dia menunjuk VCD Player yang berada di meja TV.

 

Aku tidak menangis saat itu. Di kepalaku sibuk bertanya-tanya, kenapa bapak semarah itu? Kenapa? Itu hasil tabunganku sendiri. Aku tidak mencuri. Aku sudah lama menginginkan itu semua. Kenapa harus dipatah? Kenapa harus dibanting? Itu barang-barangku, bukan barang-barang bapak.

 

Bapak seharusnya tidak punya hak menyentuh apalagi sampai merusak barang milikku. Bapak seharusnya tidak perlu marah-marah. Tidak semua marah bermaksud baik. Tidak semua maksud baik harus marah.

 

Aku benci pemarah.

 

Tidak, aku benci bapak.

 

Aku benci bapak yang marah-marah.

 

Bapak yang kian menua itu mungkin sudah lupa. Tapi aku mana bisa lupa. Karena kejadian itu, aku trauma menabung.

 

Sungguh.

 

Aku benci melihat celengan dalam bentuk apa pun. Apalagi bentuknya seperti kelinci yang terbuat dari tanah liat seperti punyaku dulu.

 

Aku tidak pernah lagi menabung. Kalau aku mau sesuatu, aku akan membelinya saat itu juga. Aku tidak bisa menabung.

 

Lalu bapak mengataiku boros dan tidak tahu mengelola uang.

 

Yang keluar dari mulut bapak tidak pernah disaring oleh akalnya.

 

***

 

Aku tidak sempat pamit pada Salwa, sahabat baikku. Tidak juga sempat pamit pada semua teman-teman bermainku di kompleks. Bapak terlalu buru-buru. Seolah-olah dunia mau kiamat saja kalau kami tidak segera pindah ke desa.

 

Lihat selengkapnya