Darma Titah: Warisan Cinta di Tanah Sriwijaya

Tengku Dimas Permana
Chapter #11

Identitas

Arya akhirnya mengikuti rombongan peserta menuju bagian dalam istana.

Semakin jauh ia melangkah, semakin jelas baginya bahwa Sriwijaya bukan sekadar kerajaan yang besar—kerajaan ini dibangun untuk membuat siapa pun yang datang merasa kecil di hadapan kekuasaannya.

Pintu kayu berukir terbuka perlahan.

Di baliknya terbentang sebuah ruangan luas dengan tiang-tiang tinggi yang dihiasi ukiran burung, naga, dan sulur-sulur tumbuhan. Cahaya matahari menembus kisi-kisi jendela, jatuh di atas lantai batu yang dipoles hingga berkilau.

Di sepanjang dinding tergantung kain-kain kebesaran berwarna merah tua dan emas. Lambang-lambang kerajaan terpahat pada pilar, sementara aroma kayu cendana memenuhi udara.

Arya berhenti sesaat.

"Jadi, beginilah wajah Sriwijaya dari dalam..."

Ia segera menyadari bahwa hampir semua peserta yang memasuki ruangan mengalami hal yang sama. Mereka terdiam, sebagian menatap kagum, sebagian lagi mencoba menyembunyikan kegugupan.

Di ujung ruangan terdapat sebuah panggung rendah.

Putri Candra Kirana berdiri di sana.

Tatapannya menyapu seluruh peserta sebelum akhirnya ia berbicara.

"Selamat datang."

Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat seluruh ruangan hening.

"Hari ini kalian tidak diminta untuk menunjukkan kekuatan. Tidak pula kekayaan atau kedudukan."

Sang putri melangkah perlahan ke tengah panggung.

"Kalian hanya diminta menggambarkan sesuatu yang pernah menjadi bagian dari kejayaan Sriwijaya."

Beberapa peserta mulai berbisik.

Seorang pelayan kemudian membagikan lembaran kain dan peralatan menggambar kepada setiap peserta.

Candra Kirana mengangkat tangannya.

"Perhatikan baik-baik."

Semua mata tertuju kepadanya.

"Lambang yang harus kalian gambarkan memiliki bentuk utama berupa lingkaran."

Ia berhenti sejenak.

"Di bagian tengahnya terdapat seekor burung yang sedang mengepakkan sayap."

Beberapa peserta langsung mulai menggoreskan arang mereka.

"Burung itu menghadap ke timur."

Goresan semakin terdengar di seluruh ruangan.

"Di atas kepalanya terdapat tiga garis menyerupai sinar matahari."

Arya memperhatikan setiap kata sang putri.

"Pada bagian bawah lambang terdapat dua gelombang yang saling berhadapan."

Sang putri menatap seluruh peserta.

"Dan di belakang burung itu terdapat bentuk menyerupai mata angin."

Ia memberi waktu beberapa saat.

"Itulah ciri-ciri lambang yang harus kalian gambarkan."

Ruangan kembali dipenuhi suara arang yang bergesekan dengan kain.

Arya menunduk.

Tangannya memegang arang.

Namun ia tidak langsung menggambar.

Ia justru tersenyum tipis.

"Lingkaran. Burung. Tiga sinar. Dua gelombang. Mata angin..."

Ia mengingat semuanya.

Tidak ada satu pun yang terlupakan.

Kemudian Arya mulai menggambar.

Namun bukan lambang yang dijelaskan sang putri.

Goresannya sengaja dibuat berbeda.

Lingkaran yang seharusnya menjadi bingkai ia buat tidak sempurna. Burung yang seharusnya mengepakkan sayap ia gambar dengan posisi menunduk. Tiga garis sinar ia ubah menjadi lima. Dua gelombang di bawah burung ia hilangkan sama sekali.

Bahkan arah mata angin ia balikkan.

Semakin lama ia menggambar, semakin jelas bahwa hasilnya sama sekali tidak menyerupai keterangan sang putri.

Seorang peserta di sebelahnya sempat melirik.

Ia mengernyitkan dahi.

"Kau... menggambar apa?"

Arya tidak menoleh.

Lihat selengkapnya