Darma Titah: Warisan Cinta di Tanah Sriwijaya

Tengku Dimas Permana
Chapter #12

Lambang yang terlupakan

Candra Kirana terdiam.

Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling memandang.

Namun sebelum sang putri sempat kembali berbicara, terdengar suara benda jatuh dari kerumunan.

Tak!

Semua kepala menoleh.

Seorang lelaki tua yang sejak tadi berdiri di antara para pejabat kerajaan tampak membeku. Wajahnya pucat. Matanya terpaku pada gambar Arya.

Tangannya gemetar.

"Mustahil..."

Bisikan itu hampir tidak terdengar.

Namun Candra Kirana mendengarnya.

Ia segera menoleh.

"Mahapatih?"

Lelaki tua itu tidak menjawab.

Ia justru melangkah maju beberapa langkah.

Tatapannya tidak pernah lepas dari gambar Arya.

"Di mana kau melihat lambang itu?"

Arya mengerutkan kening.

"Saya tidak pernah melihatnya."

"Jangan berbohong."

Suara Mahapatih tiba-tiba terdengar keras.

Para prajurit di sekitar halaman langsung menegang.

Arya tetap berdiri tenang.

"Saya tidak berbohong."

Mahapatih menunjuk gambar Arya dengan tangan gemetar.

"Kalau begitu, bagaimana kau bisa menggambar bagian itu?"

Semua orang kembali memperhatikan gambar tersebut.

Arya sendiri menatap hasil gambarnya.

Ia baru menyadari sesuatu.

Pada bagian belakang burung yang ia gambar secara sengaja, terdapat sebuah pola kecil yang bahkan tidak ia sadari ketika menggambarnya.

Sebuah garis melingkar yang bertemu pada lima ujung.

Matanya menyipit.

"Aku tidak menggambar itu..."

Candra Kirana segera menyadari perubahan ekspresi Arya.

"Kau tidak tahu apa yang kau gambar?"

Arya perlahan menggeleng.

"Tidak."

Mahapatih langsung berkata,

"Perintahkan semua orang mundur!"

Beberapa prajurit saling berpandangan.

"Yang Mulia?"

"Semua orang!" bentak Mahapatih. "Sekarang!"

Suasana halaman mendadak kacau.

Para pelayan bergegas menjauh. Para peserta saling bertanya dengan wajah bingung. Para prajurit membentuk barisan di depan panggung.

Candra Kirana tetap berdiri di tempat.

Namun kali ini wajahnya tidak lagi tenang.

Ia memandang Arya.

"Siapa sebenarnya dirimu?"

Arya tidak langsung menjawab.

"Saya Arya."

"Aku tidak menanyakan namamu."

Tatapan sang putri semakin tajam.

"Aku menanyakan dari mana kau mengetahui lambang itu."

"Saya sudah mengatakan—saya tidak mengetahuinya."

"Kalau begitu, mengapa gambarmu memiliki tanda yang bahkan sebagian besar bangsawan Sriwijaya tidak pernah melihat?"

Arya terdiam.

Ia kembali memandang gambar tersebut.

Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang aneh.

Sejak awal ia hanya berniat membuat gambar yang sengaja berbeda dari petunjuk sang putri.

Tetapi tanpa ia sadari, tangannya telah menggambar sesuatu yang terasa begitu akrab.

Lihat selengkapnya