Darma Titah: Warisan Cinta di Tanah Sriwijaya

Tengku Dimas Permana
Chapter #13

LAMBANG YANG TERLUPAKAN

Sosok berjubah itu lenyap ke dalam lorong.

Untuk beberapa detik, tidak seorang pun bergerak.

Arya masih berdiri di tempatnya.

Tatapannya kosong, seolah pikirannya tertinggal pada suara yang baru saja memanggil namanya.

"Seribu dua ratus tahun..."

Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

Kemudian—

DUAR!

Ledakan kedua mengguncang bagian lain istana.

Lantai bergetar keras.

Para peserta menjerit. Beberapa pelayan kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Debu berhamburan dari langit-langit, sementara suara langkah kaki dan teriakan prajurit terdengar dari berbagai arah.

"Jangan panik!"

Suara itu terdengar tegas.

Dari pintu utama muncul sekelompok prajurit yang dipimpin seorang lelaki berpakaian perang kerajaan.

Rakryan Mukti.

Ia segera memasuki ruangan dan mengamati keadaan.

"Amankan para peserta!"

"Siap, Rakryan!"

"Jangan biarkan siapa pun keluar sendirian. Tutup pintu sebelah timur dan periksa seluruh lorong!"

Para prajurit bergerak cepat.

Mukti kemudian menoleh kepada para pelayan.

"Utamakan perempuan, orang tua, dan mereka yang terluka. Bawa semuanya ke ruang perlindungan bawah."

Seorang prajurit berlari mendekat.

"Rakryan, pasukan di gerbang timur sedang menahan serangan!"

"Berapa jumlah mereka?"

"Kami belum tahu. Mereka muncul dari beberapa titik sekaligus."

Mukti mengerutkan kening.

"Berarti mereka bukan sekadar ingin menyerang istana."

Ia menatap sekeliling.

"Mereka sedang mencari sesuatu."

Kalimat itu membuat Arya perlahan mengangkat wajahnya.

Mukti melihatnya.

"Arya."

Arya tidak menjawab.

Mukti segera berjalan mendekat.

"Arya!"

Kali ini lebih keras.

Arya tersentak.

"Ya?"

"Kau terluka?"

Arya menggeleng.

"Tidak."

"Kalau begitu, ikut denganku."

Arya masih berdiri diam.

Matanya kembali tertuju pada lorong tempat sosok berjubah tadi menghilang.

Mukti mengikuti arah pandangannya.

"Siapa yang baru saja pergi dari sini?"

Arya tidak langsung menjawab.

"Dia menyebut namaku."

Mukti terdiam sesaat.

"Siapa?"

"Aku tidak tahu."

"Apa yang dia katakan?"

Arya menatap Mukti.

"Dia mengatakan sesuatu tentang seribu dua ratus tahun."

Ekspresi Mukti berubah sangat tipis.

Hanya sepersekian detik.

Namun Arya melihatnya.

Seolah Mukti mengetahui sesuatu.

Tetapi ekspresi itu segera kembali seperti semula.

"Jangan pikirkan itu sekarang," kata Mukti.

Ia meraih lengan Arya dan menariknya menjauh dari tengah ruangan.

"Kita harus keluar."

"Tunggu."

Arya menahan langkah.

"Gambar itu."

Mukti menoleh.

Arya menunjuk papan tempat gambar-gambar para peserta masih terpampang.

"Gambar milikku."

Mukti melihat ke arah papan.

Beberapa prajurit sedang berusaha memindahkannya.

"Biarkan."

"Tapi—"

"Kita tidak punya waktu."

Mukti menatap Arya dengan serius.

"Kalau kau ingin tetap hidup dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sekarang bukan waktunya mengejar jawaban."

Arya terdiam.

Mukti kemudian menariknya lagi.

"Ikut aku."

Lihat selengkapnya