Darma Titah: Warisan Cinta di Tanah Sriwijaya

Tengku Dimas Permana
Chapter #14

Sang Pelindung di Balik Bayangan

Suara ketukan dari balik pintu batu kembali terdengar.

Duk! Duk! Duk!

Arya menatap pintu itu dengan napas tertahan.

Di sampingnya, Candra Kirana berdiri dengan wajah tegang. Beberapa prajurit kerajaan mengangkat tombak mereka, bersiap menghadapi apa pun yang berada di balik pintu.

Rakryan Mukti maju beberapa langkah.

Tangannya perlahan terangkat.

“Jangan ada yang membuka pintu.”

Salah seorang prajurit menelan ludah.

“Tapi, Rakryan... suara itu—”

BRAKK!

Pintu batu itu tiba-tiba dihantam dari luar.

Debu berjatuhan dari langit-langit.

Arya secara refleks mundur.

Candra Kirana hampir kehilangan keseimbangan, tetapi Mukti segera menahan lengannya.

“Yang Mulia, tetap di belakang saya.”

Belum sempat Candra menjawab—

BRAKKK!

Hantaman kedua membuat pintu retak.

Lalu sebuah suara terdengar dari baliknya.

Dingin.

Berat.

“Serahkan Arya.”

Arya membeku.

Suara itu.

Ia mengenalinya.

“Dia...” bisiknya.

Mukti menatap pintu.

“Bahnu.”

Untuk pertama kalinya, wajah Mukti berubah keras.

Bukan ketakutan.

Melainkan kemarahan.

“Jadi kau akhirnya datang.”

Retakan pada pintu semakin melebar.

Kemudian—

BOOM!

Pintu batu itu hancur.

Asap memenuhi ruangan.

Dari balik kepulan debu, seseorang melangkah masuk.

Tubuhnya dibalut pakaian gelap. Wajahnya tertutup topeng besi hitam yang hanya menyisakan sepasang mata.

Bahnu.

Ia membawa senjata panjang di tangan kanannya.

Matanya langsung tertuju kepada Arya.

“Serahkan dia.”

Mukti berdiri di tengah-tengah mereka.

“Tidak.”

Bahnu diam.

“Kau tahu siapa yang kau lindungi?”

“Saya tidak peduli.”

Mukti mencabut pedangnya.

“Selama dia berada di bawah perlindungan kerajaan, siapa pun yang ingin menyentuhnya harus berhadapan denganku.”

Arya menatap Mukti.

Ada sesuatu dalam suara pria itu yang berbeda.

Tidak seperti seseorang yang sedang berpura-pura.

Ia benar-benar marah.

Bahnu menggenggam senjatanya lebih erat.

“Kalau begitu...”

Ia menurunkan tubuhnya.

“...kau yang akan lebih dulu jatuh.”

Dalam sekejap—

Bahnu melesat.

CLANG!

Pedang Mukti bertemu senjata Bahnu.

Benturan pertama menghasilkan suara nyaring yang mengguncang ruangan.

Mukti terdorong beberapa langkah.

Namun ia segera menahan tubuhnya.

Bahnu kembali menyerang.

CLANG! CLANG! CLANG!

Tiga serangan berturut-turut.

Mukti menangkis semuanya.

Serangan keempat datang dari arah samping.

Mukti menunduk.

Senjata Bahnu melewati kepalanya.

Mukti berputar dan mengayunkan pedangnya.

WUSSH!

Bahnu melompat mundur.

Ujung pedang Mukti hanya berjarak beberapa jari dari topengnya.

“Cepat juga kau,” kata Bahnu.

Mukti mengangkat pedangnya.

“Aku belum mulai.”

Bahnu menyerang lagi.

Pertarungan berpindah dari satu sisi ruangan ke sisi lainnya.

Pedang Mukti dan senjata Bahnu berkali-kali beradu.

CLANG!

CLANG!

CLANG!

Setiap benturan membuat percikan kecil beterbangan.

Para prajurit kerajaan terpaksa mundur.

Tidak seorang pun berani ikut campur.

Kecepatan keduanya terlalu tinggi.

Bahnu melompat ke atas sebuah pilar yang runtuh, kemudian menggunakannya sebagai pijakan untuk menerjang Mukti dari atas.

Mukti mengangkat pedangnya.

BRAKK!

Keduanya bertabrakan.

Lihat selengkapnya