Malam kembali menyelimuti hutan di sebelah utara Sriwijaya.
Jauh dari gemerlap istana, di antara pepohonan tua yang tumbuh rapat, seorang lelaki berjalan tertatih.
Langkahnya berat.
Napasnya tidak teratur.
Darah masih mengalir dari beberapa luka yang diperolehnya dalam pertarungan.
Topeng hitam masih menutupi wajahnya.
Bahnu.
Ia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Suara pengejaran pasukan kerajaan sudah tidak terdengar.
Namun ia tahu mereka masih mencarinya.
Ia mempercepat langkah.
Beberapa saat kemudian, ia berhenti di depan sebuah tebing batu.
Tidak ada pintu.
Tidak ada tanda kehidupan.
Hanya dinding batu yang tertutup lumut.
Bahnu mengangkat tangannya.
Jarinya menyentuh sebuah ukiran kecil pada batu.
Sebuah lambang.
Lingkaran.
Burung.
Dan bentuk seperti arah mata angin yang mengelilinginya.
Ia menekan bagian tengah lambang itu.
KREK.
Terdengar suara mekanisme tua.
Sebagian dinding bergeser perlahan.
Sebuah lorong gelap terbuka.
Bahnu masuk.
Dinding kembali tertutup di belakangnya.
Lorong itu panjang.
Obor-obor kecil menyala di sepanjang dinding.
Semakin jauh Bahnu berjalan, semakin luas ruang di dalamnya.
Hingga akhirnya ia tiba di sebuah ruangan besar.
Empat orang telah menunggunya.
Mereka berdiri dalam diam.
Tidak ada seorang pun yang berbicara ketika Bahnu memasuki ruangan.
Yang pertama berdiri paling dekat dengan cahaya obor.
Tubuhnya tinggi dan tegap.
Rambutnya panjang, diikat ke belakang.
Di pinggangnya tergantung sebilah pedang dengan gagang berwarna gelap.
Namanya Raka Wirabhumi.
Orang yang paling lama mendampingi Bahnu.
Di sebelahnya berdiri seorang perempuan dengan pakaian tempur berwarna kelam.
Tatapannya tajam dan tenang.
Dua bilah pisau pendek tergantung di kedua sisi pinggangnya.
Namanya Sekar Nandini.
Ia jarang berbicara.
Namun ketika bertarung, hampir tidak ada yang mampu membaca gerakannya.
Orang ketiga bersandar pada sebuah pilar batu.
Tubuhnya tidak sebesar Raka, tetapi sorot matanya jauh lebih mengintimidasi.
Sebuah tombak pendek berada di tangannya.
Namanya Jaka Rudraka.
Dan yang terakhir berdiri agak jauh dari ketiganya.
Seorang lelaki berwajah tenang dengan jubah panjang.
Ia membawa tongkat kayu tua yang ujungnya dilapisi logam.
Namanya Wira Angkara.
Keempatnya merupakan orang-orang yang selama bertahun-tahun berdiri di sisi Bahnu.
Mereka bukan sekadar pengawal.
Mereka adalah tangan kanan Bahnu.
Dan kelak, nama mereka akan menjadi salah satu kelompok yang paling ditakuti di balik bayang-bayang sejarah.
Raka akhirnya melangkah maju.
“Tuanku.”
Bahnu tidak menjawab.
Ia berjalan menuju sebuah kursi batu.
Kemudian duduk dengan berat.
Sekar memperhatikan luka di tubuhnya.
“Siapa yang melakukan ini?”
Bahnu mengangkat wajah.
“Rakryan Mukti.”
Jaka tertawa kecil.
“Jadi orang kerajaan itu cukup kuat.”
Bahnu menatapnya.
“Dia bukan masalah utama.”
Wira mengangkat alis.
“Lalu apa?”
Bahnu terdiam.
Tatapannya tertuju pada lambang yang terukir di dinding ruangan.
Lambang yang sama dengan yang terpampang di istana Sriwijaya.