DARURAT AMBULANS

ken fauzy
Chapter #1

BAB 1. MATI JUGA DIA AKHIRNYA

Prolog

Sebuah mobil ambulans berjalan pelan di tengah malam di atas jalanan berbatu. Di kiri kanan hanya tampak pepohonan lebat. Di dalam ambulans terdiri dari tiga pria dewasa, satu wanita dewasa, satu gadis remaja dan satu jenazah yang telah dikafankan di dalam keranda besi. Semua wajah tampak tegang dan lelah. Dua orang pria dewasa duduk di belakang di samping keranda dengan lampu kecil redup yang bergoyang-goyang saat ambulans berjalan sedang wanita dewasa dan gadis remaja itu duduk di sebelah sopir.

“Kok sepi ya?” tanya sopir ambulans celingak-celinguk melihat keluar jendela. “Ya sepi lah Pak, ini saatnya orang tidur nyenyak,” jawab sang wanita. Sopir itu menggaruk-garuk kepalanya, “Tapi ini di daerah mana ya Bu? Saya ga hapal daerahnya.” Wanita dewasa itu mengecek ponselnya. “Hape saya ga ada sinyal Pak, jadi ga tahu lokasinya di mana,” jawabnya.

Ia menoleh ke belakang, “Mas Dito, hapenya ada sinyal ga?” Pria yang dipanggil Dito itu menunjukkan ponselnya yang mati. Wanita itu menghembuskan nafasnya, bingung. “Anjani, hape kamu gimana?” wanita itu bertanya pada gadis remaja di sebelahnya. Gadis remaja bernama Anjani itu juga hanya menunjukkan ponselnya tanpa bicara. “Lobet,” gumam sang wanita setelah melihat ponsel gadis remaja itu.

Pria yang memakai jaket kulit menangkap sinyal kebingungan dari wajah sang wanita.

“Makanya Dit … tugas baca map itu jangan diserahin sama perempuan … perempuan itu ga bisa baca peta … lihat sekarang, kita nyasar ‘kan? Harusnya kamu yang baca map!” decak pria itu yang duduk di belakang bersama Dito. “Soalnya hapeku mati Mas dan lupa bawa power bank,” Dito memberi alasan. “Mendingan salah baca map dari pada ga punya hape,” sindir wanita itu pada pria berjaket kulit.

Pria berjaket kulit itu tertawa.

“Itu sungguh lucu Sri … kamu membandingkan aku yang ga punya hape sama kamu yang ga bisa baca peta … itu ga apple to apple kali,” tawa pria berjaket kulit lagi. Sri, wanita dewasa yang duduk di depan, terlihat kesal. Ia menoleh ke belakang, berkata, “Denger ya Mas Joko ….”

Mendengar kalimat itu, Anjani menggeleng. “Kita mulai lagi deh …” keluhnya. Sopir ambulans pun menghela nafas mendengar akan terjadi pertengkaran lagi.

“Dari tadi Mas itu bisanya komplen melulu … nyalahin melulu … tapi ga kasih masukkan, ‘kan Mas sudah pernah kesana, mbok kasih tahu arahnya … giliran nyasar komplen lagi!” kesal Sri pada Joko, pria berjaket kulit itu.

“Loh, aku ga komplen Sri … aku cuma ngomong … itu juga bukan omonganku loh, yang ngomong itu survei, kata survei kalau kebanyakan perempuan itu ga bisa baca peta … jadi kalau kamu mau kesal ya ke survei sana … kamu itu kok lucu,” balas Joko santai. “Lucu, lucu! Tuh si Komeng baru lucu!” kesal Sri lalu kembali duduk menghadap depan.

“Sri ada betulnya Mas,” sela Dito, “soalnya Mas Jok ‘kan pernah diajak bapak ke kampungnya, masa ga inget jalannya?” Joko menoleh pada Dito. “Ya ampun Dit … itu udah lama banget kali … itu waktu aku masih SD dan sekarang aku hampir lima puluh tiga tahun! Kamu bisa lihat jaraknya ‘kan? Segini!” Joko melebarkan tangannya. “Dan inget, itu juga untuk yang pertama dan terakhir kalinya!” sambung Joko menegasi.

“Tapi kita sudah berjam-jam belum sampai,” keluh Dito.

“Ya itu ‘kan maunya kalian … aku sudah bilang sebelum kita pergi, bapak, kita kuburkan saja di Jakarta, ga usah di kampungnya di Giriluhur, itu jauh … tapi kalian berdua ga mau … nah sekarang jadi begini ‘kan?” tawa Joko.

Lihat selengkapnya