DARURAT AMBULANS

ken fauzy
Chapter #2

BAB 2. DARURAT AMBULANS

Dito melangkah masuk ke dalam rumah. Banyak tetangga yang tengah datang melayat. Sedang jenazah bapak sudah dibaringkan di ruang tamu ditutupi kain jarik. Sri menghampiri Dito yang duduk di sebelah jenazah bapak. “Mana Mas Joko?” tanyanya berbisik. Dito menggeleng. “Yang penting kita sudah menyampaikan Sri,” jawab Dito lesu. “Dia ga datang? Keterlaluan,” decak kesal Sri. “Sri, dia ga usah dipikirin … sekarang kita fokus untuk memenuhi keinginan terakhir bapak saja,” kata Dito. Sri menghela nafas, dan mengangguk.

Magrib menjelang.

Tamu pelayat satu persatu telah pulang. Di teras rumah tampak Dito tengah berbincang dengan seorang pria. “Pak Dito, saya pulang dulu untuk Magriban, nanti setelah Isya, saya dan pengurus masjid akan kesini lagi untuk mengecek bagaimana keputusan keluarga mengenai mau di mana pemakaman bapak, apakah mau di sini atau di kampung halaman beliau,” kata Pak RT. “Baik Pak, terima kasih untuk perhatiannya,” ucap Dito. Pak RT mengangguk lalu pergi. Azan Magrib tak lama kemudian terdengar.

Sri meletakkan sepiring kue lapis dan lontong isi kiriman tetangga di tikar di sebelah jenazah bapak. Ia tahu seharian ini dirinya dan Dito belum makan apa-apa. “Isi dulu perutmu Mas,” ucap Sri. Dito mengangguk. “Ni, kesini, kamu juga belum makan sejak siang tadi!” Sri memanggil anaknya. Anjani keluar dari kamar dan duduk bergabung dengan Sri dan Dito di atas tikar lalu mereka menyantap sajian tersebut.

Tidak ada yang bicara. Dito, Sri dan Anjani sibuk dalam pikirannya masing-masing. Dito menatap jenazah bapak sambil mengunyah lontong isi lalu sesekali merapikan kain jariknya. Sri menatap satu-satunya foto keluarga di dinding rumah yang menampakkan dirinya beserta kedua kakaknya saat masih kecil bersama ibu. “Mas, tahu ga kenapa di foto itu bapak ga ada?” tanya Sri. Dito menatap foto itu sekilas lalu menjawab singkat, “Bapak sedang pergi dan beliau ga suka difoto.” Sri terdiam.

Waktu berlalu dalam keheningan. Tiba-tiba terdengar suara yang mengucapkan salam dari pintu depan yang sengaja belum ditutup untuk memberikan kesempatan bagi tetangga yang mungkin akan datang lagi untuk melayat.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab Dito, Sri dan Anjani serempak, dan melihat Joko berdiri di pintu. Tak menunggu dipersilakan, Joko sudah melangkah masuk. Ia menatap jenazah bapak. “Mau lihat wajah Bapak Mas?” Dito menawarkan. Joko menggeleng lalu duduk bersila di sebelah jenazah itu meletakkan tangannya pada tangan sang bapak yang telah dikafani. Ia menundukkan kepala untuk sesaat seakan berdoa atau sekadar memberi penghormatan terakhir pada bapaknya.

“Mas … tadi Pak RT menanyakan soal pemakaman Bapak,” kata Dito. “Ya tinggal dimakamkan saja besok,” sahut Joko. “Tapi bapak mau dimakamkan di kampungnya di Giriluhur ‘kan Mas,” sela Sri. Joko menggeleng lalu menghela nafas. “Sudah mati masih merepotkan saja,” gumamnya.

“Gimana Mas?” tanya Dito.

Joko menatap Dito dan Sri.

“Kalian tahu kalau kampung bapak itu jauh banget dari sini?” tanya Joko.

“Tahu Mas,” jawab Sri, “aku sudah mengeceknya di Google, sekitar delapan belas jam perjalanan darat, itu sudah lewat jalan tol.”

“Dan kalian juga pastinya sudah mengecek di Google berapa lama jenazah bisa bertahan di luar sebelum membusuk?”

 Sri dan Dito mengangguk.

“Dan kalian masih bersikeras untuk membawa jenazah bapak kesana?” heran Joko.

Lihat selengkapnya