Untuk 1-2 jam di awal tidak ada yang berbicara. Semua orang hanya melempar pandangan keluar jendela. Bertahun-tahun tak bertemu membuat kakak beradik itu begitu kaku. Terutama Joko dan kedua adiknya yang memang lama tak bertemu. Sedang Anjani sedari tadi lebih banyak bermain dengan ponselnya. Priyadi memperhatikan kondisi itu, maka ia mencoba membuka pembicaraan. “Maaf Bapak dan Ibu, desa Giriluhur ini di sebelah utaranya kota Tana Baru bukan ya?” tanyanya.
“Iya Pak,” jawab Dito.
“Jadi rencananya sekarang kita menuju Tana Baru setelah sampai di sana kita baru menuju desa Giriluhur. Betul begitu Bapak, Ibu?”
“Betul Pak, untuk mudahnya ‘kan bisa cek di map,” kata Dito. “Maaf Pak Dito, hape saya hape jadul, cuma bisa telepon dan SMS, ga bisa map dan saya juga ga bisa baca map,” cengir Priyadi. Dito melihat telepon genggam yang dipasang di dashboard mobil ambulans itu.
“Ya ampun Pak, dari tadi aku pikir itu hape baru loh,” ujar Dito setelah mengamati dengan benar-benar, “trus kenapa hapenya ditaro di dashboard sih Pak?”
Priyadi tersenyum malu-malu, menjawab, “Biar kayak sopir-sopir lainnya Pak, biar gaya gitu.”
Joko tertawa mendengar itu. “Sri aktifin map-mu, nanti kalau sudah memasuki daerah Tana Baru, kamu yang navigasi,” perintah Dito. “Iya Mas,” jawab Sri meski dalam hatinya sendiri ia mengaku tak bisa membaca peta perjalanan seperti itu. “Jadi, Sri … mana surat wasiat bapak yang mengatakan kalau dia mau dikuburkan di kampungnya?” tanya Joko.
“Bapak ga bikin surat, tapi sebelum meninggal beliau mengatakannya Mas,” jawab Sri.
“Hanya itu?” Joko mengerutkan keningnya.
“Iya hanya itu, kalau Mas ga percaya tanya saja sama Mas Dito … saat itu Mas Dito juga ada di situ kok,” kata Sri.
Joko menatap Dito, “Ga ada yang lainnya Dit?” Dito menggeleng. “Soal rumah, soal tanah, ga ada obrolan gitu?” tanya Joko. Dito menggeleng lagi. “Trus kenapa kalian ga panggil aku saat bapak sekarat?” heran Joko.
Sri tertawa sinis, “Panggil Mas? Kemana? Mas itu susah dikontaknya, sering pindah-pindah kerja, ga punya hape dan sekalinya bisa ditelpon ke kantor, ga pernah mau datang tuh. Trus emang Mas mau datang kalau tahu bapak sekarat gitu? Aku ga yakin.”
Joko menyahut, “Ya setidaknya tanya dulu … bukannya aku ga mau datang, kalian itu kalau nelpon ga nanya aku sibuk apa engga, main suruh datang saja, ya aku ga bisa begitu … kalian itu yang malah keterlaluan sebagai adik ga pernah datang ke rumahku sejak aku datang dari Bandung, padahal Dito tahu, kerjaku memang pindah-pindah tapi rumah kontrakanku ‘kan enggak, masih di situ dari dulu.”
Sri menoleh ke kursi belakang pada Joko. “Mas, dunia ini tidak berputar hanya untuk Mas saja, memangnya Mas saja yang sibuk? Memangnya harus selalu adik yang datang ke kakak? Apa Mas Jok ga pernah inget punya adik yang juga pengen ditengok apalagi saat mengurus bapaknya yang sakit? Saat mengurus ibu yang juga sakit? Apa Mas Jok ga pernah sadar kalau bapak juga pengen ketemu Mas Jok saat beliau sakit? Atau, apa Mas Jok pernah menanyakan kabar ponakannya, Anjani?” berondong Sri. Anjani mencolek ibunya memberi tanda ia tak mau dibawa-bawa tapi Sri tak menggubris.