Setelah beristirahat dan makan, perjalanan dilanjut kembali.
Di kursi depan Sri dan Anjani terlihat tertidur sedang di kursi belakang tampak Dito yang sedang memainkan ponselnya dan Joko tengah menatap jenazah di keranda besi.
“Bagaimana kabar Yeni?” tanya Joko tanpa mengalihkan tatapannya. Dito menurunkan ponselnya saat mendengar pertanyaan Joko itu, ia tahu pertanyaan itu ditujukan untuknya karena Yeni adalah istrinya.
“Baik Mas,” jawab Dito.
“Kamu yakin?” tanya Joko lagi.
Dito mengerutkan keningnya. Kenapa tiba-tiba dia nanya soal Yeni, apakah dia tahu? Batin Dito. “Memangnya kenapa?” Dito balik bertanya. “Ga apa-apa, hanya bertanya dan aneh saja … mertuanya meninggal tetapi menantunya tak datang,” ujar Joko.
Dito memandangi kakak sulungnya itu yang sedang merapikan kain jarik di atas jenazah. “Sekadar saran dari aku Dit, kalau aku masih boleh kasih saran … jangan ambil keputusan cepat di saat sedang emosi,” kata Joko. Dito tersenyum tipis, “Nasehat dari seseorang yang sering melakukan itu juga.”
Joko berdecak lalu berkata, “Kita tidak sedang membicarakan diriku Dit, tapi ya … di beberapa hal, aku menyesali telah bertindak seperti itu.” Dito mengangguk, “Iya Mas.” Joko menyandarkan punggungnya dan tak lama ia tertidur. Dito membuka ponselnya dan menghubungi istrinya.
“Assalamualaikum,” salam Dito. “Waalaikumsalam,” jawab Yeni di ujung telepon. Dito diam sebentar untuk mengatur irama nafasnya lalu berbicara pelan. “Apakah kita harus mengambil jalan ini Ma?” tanyanya. Yeni tidak menjawab. “Bisakah kita bicarakan lagi semuanya?” mohon Dito.
“Kamu fokus dulu saja untuk menguburkan bapak … tolong sampaikan pada Mbak Sri dan Mas Joko, maafkan aku yang tidak bisa datang,” suara Yeni terdengar bersedih. Dito mengangguk, “Iya Ma, nanti aku sampaikan.” Telepon pun ditutup. Kemudian Dito memejamkan mata untuk memberinya tenang.
Mobil ambulans itu terus berjalan hingga pagi menjelang.
Jalanan yang tadinya lengang kini mulai ramai dengan berbagai kendaraan. Matahari perlahan naik dan cahayanya bersinar terik. Anjani mengucek-ngucek matanya karena sinar matahari itu jatuh langsung menyorot wajahnya. Ia mencoba menelan ludah dengan susah payah karena tenggorokkannya begitu kering. Tangannya meraba-raba dashboard mobil.
“Nyari AC ya Mbak?” tanya Priyadi.
Anjani mengangguk.
“Ambulans ini ga ada AC Mbak, kita pake ACe alami saja yaitu Angin Cendela, yaitu angin dari jendela,” seloroh Priyadi.
Anjani mendengus sembari mengelap keringat di lehernya dan membuka jaketnya. Ia mengambil botol minum lalu meneguk isinya. “Mah, bangun, Mah.” Anjani mencolek bahu Sri setelah selesai minum. Sri membuka matanya lalu mengerjap-ngerjap karena silau. “Ada apa?” tanyanya. “Buka jendelanya Mah, gerah,” keluh Anjani. Sri pun merasakan keringat yang menetes di dahinya. Maka ia membuka jendela mobil dan dengan cepat angin dari luar bertiup masuk memberi kesejukan meski harus bercampur dengan debu serta asap knalpot kendaraan lainnya. Sudah kepalang gerah, Anjani menikmati saja hembusan angin itu. Sri menoleh ke belakang dilihatnya kedua kakak laki-lakinya itu tengah tertidur.
Ia kemudian mengecek map di teleponnya.
“Gimana Pak Pri? Masih aman atau sudah perlu dinavigasi?” tanyanya. “Masih aman Bu, nanti setelah sampai Tana Baru, di sana saya perlu dibantu karena belum hapal areanya,” jawab Priyadi. “Ok,” sahut Sri lalu meneguk air mineralnya. Anjani tampak duduk dengan gelisah.
“Sudah kuduga perjalanan ini akan membosankan dan gerah!” gerundel Anjani.
“Membosankan karena kamu ga bisa ketemu sama pacarmu ‘kan?” sindir Sri.