Mobil ambulans terus berjalan melewati rumah-rumah, pertokoan terkadang pasar. Sesekali juga melewati pematang sawah lalu disambung lagi dengan rumah-rumah penduduk. Udara semakin panas membuat semua orang di dalam mobil ambulans berkeringat.
“Baguslah matahari bersinar terik, karena panas itu menunda bakteri untuk melakukan proses pembusukkan pada jenazah,” ucap Joko seraya mengusap keringatnya dengan ujung kaosnya. “Ada positifnya juga ya Mas cuaca panas ini,” sahut Dito. Joko mengangguk.
“Pak Pri, berhenti di SPBU depan itu ya, aku mau ke toilet sekalian mencuci muka, aku gerah!” cetus Anjani menekankan pada kata ‘gerah’ untuk menyindir halus sikap Sri tetapi Sri tak menyadari. “Pom bensin itu ya Mbak?” Priyadi ingin memastikan.
“SPBU Pak, bukan pom bensin,” jawab Anjani.
Priyadi tertawa. “Sama aja Mbak, pom itu ‘kan kependekan dari pompa, jadi pom bensin itu ya pompa bensin kalau SPBU itu singkatan dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum. Ya sama-sama tempat isi bensin.” Anjani manggut-manggut baru tahu itu. “Oya Bapak-Bapak dan Ibu, sekalian kita isi bensin ya,” kata Priyadi.
Sri bergumam kesal, “Tuh ‘kan udah habis lagi bensinnya, padahal semalam di Jakarta sudah isi … coba kalau tadi lewat jalan tol.”
Priyadi tak menanggapi kekesalan Sri itu meski mendengarnya. Mobil ambulans pun berbelok ke sebuah SPBU. Dito mengeluarkan uang lalu menyerahkannya pada Priyadi untuk membayar bensin. Sri turun dari mobil disusul Anjani yang bergegas ke toilet. “Hey Ni jangan lama!” teriaknya sambil meregangkan punggungnya di samping mobil ambulans. Anjani tidak menjawab teriakan ibunya, ia hanya terus melangkah.
Saat mengisi bensin sebuah mobil berhenti tepat di belakang mobil ambulans mereka. Sopirnya turun dari mobil, memutar-mutar pinggangnya yang penat lalu mendekati mobil ambulans dan melongok ke dalamnya melalui jendela samping.
“Ada mayatnya!” cetusnya kaget sendiri. Sri yang sedang berada di luar mobil ambulans geleng-geleng. “Ya namanya juga ambulans Pak, masa isinya tahu bulat sih, lagian suruh siapa ngintip-ngintip, kepo banget,” sindir Sri.
Sopir itu meringis malu. “Maaf Bu ….”
Sri melihat tanda pengenal di dada kiri sopir itu yang bertuliskan nama, ‘Frans’. Dari seragam safarinya Sri bisa menduga kalau Frans ini adalah sopir pribadi seorang pejabat. “Ngomong-ngomong, Ibu dari mana?” tanya Frans.
“Jakarta,” jawab Sri pendek.
“Wah Ibu pinter milih jalur biasa ini dibanding jalur tol!” puji Frans. Sri mengerutkan keningnya mendengar itu. Dito dan Joko yang berada di dalam mobil ambulans juga mendengarnya begitu pun Priyadi yang tengah mengisi bensin.
“Pinter kenapa Pak?” tanya Sri.
“Soalnya kalau Ibu pilih lewat jalan tol, wuaduh muacet total! Kayaknya sampai besok belum bergerak itu,” geleng-geleng Frans, “tadinya saya juga mau lewat sana Bu, mau jemput bos saya, tapi untung teman saya yang terjebak di tol itu nelpon, jadi saya ga jadi, trus saya pilih jalur ini saja.”
Sontak Sri merasa malu tadi telah memarahi Priyadi perihal pemilihan jalan. “Oh gitu ya Pak,” ucap Sri pelan. Frans mengangguk kemudian kembali ke dalam mobilnya.
Selesai mengisi bensin Priyadi menyerahkan uang kembalian pada Sri. “Pak Pri maaf ya, tadi saya salah sudah memarahi Pak Pri soal lewat jalan biasa ini, ternyata jalur tol itu macet … maaf ya Pak Pri,” lirih Sri malu.