DARURAT AMBULANS

ken fauzy
Chapter #6

BAB 6. ANJANI

“Ya Allah, Anjani …” lirih Sri yang tiba-tiba muncul di belakang Joko bersama Dito dan Priyadi. Joko kaget menoleh, “Loh, kenapa kalian di sini?” Dito memegangi Sri yang mendadak lemas dengan wajah pucat itu. “Tadi baru mau masuk mobil, trus denger kata orang-orang ada yang kecelakaan, jadi kita buru-buru kesini,” jelas Dito.

“Anjani, Anjani,” panggil Sri lemah seraya menggeleng-geleng pelan seakan tak percaya, nafasnya sesak jantungnya seakan mau berhenti.

“Jagain Sri, tunggu di trotoar situ,” perintah Joko.

Dito mengangguk dan kini Sri sudah sesunggukkan menangis. Joko bersama Priyadi berjalan ke tengah jalan lalu menyeruak di antara orang-orang untuk melihat korban kecelakaan itu dari dekat. Mereka saling pandang. “Anjani tadi pake kaos panjang warna kuning ‘kan” tanya Joko memastikan. Priyadi mengangguk. Gadis yang tergeletak memunggungi mereka pun memakai baju yang sama.

Seorang pria mendekat pada gadis yang tergeletak itu, memeriksanya. “Dek, kamu ga apa-apa?” tanyanya. Gadis itu terdengar melenguh kesakitan, bergerak perlahan lalu mengangguk. Semua orang menghela nafas lega karena gadis itu masih hidup. “Syukurlah kalau kamu ga apa-apa,” kata pria itu lagi. Gadis itu bangun dengan tubuh lemah dibantu orang-orang untuk berdiri.

“Anjani,” panggil Joko.

Gadis itu menoleh dan ternyata bukan Anjani.

“Maaf saya pikir kamu ponakan saya,” kata Joko. Priyadi menghela nafas lega. Kemudian Joko dan Priyadi kembali menghampiri Dito dan Sri, yang masih menangis di pinggir jalan.

“Alhamdulillah bukan Anjani,” kata Joko.

“Betulan Mas bukan Anjani?” ucap Sri dengan wajah berbinar, tangisannya berhenti. Joko mengangguk. “Iya Bu bukan Mbak Anjani,” tambah Priyadi meyakinkan. “Alhamdulillah ya Allah,” Sri mengucap syukur berkali-kali seraya mengusap wajahnya.

Di seberang, Dito melihat Anjani tengah berdiri memandangi mereka.

“Mas Jok! Itu Anjani,” tunjuk Dito. Joko melihat Anjani begitu juga Anjani, tetapi Anjani dengan cepat membalikkan badannya dan melangkah pergi dengan cepat. “Anak bandel itu bikin kesal dan repot saja!” geram Sri sembari mengusap air matanya lalu akan mengejarnya.

“Diam di situ Sri!” perintah Joko.

“Anak itu harus diajar Mas,” kesal Sri.

“Diam di situ!” ulang Joko kali ini lebih tegas. Dito dengan cepat memegangi lengan Sri. “Sudah Sri biarkan Mas Jok yang mengejar Anjani,” bujuk Dito. “Dalam kondisi ini, Anjani ga butuh kemarahanmu!” tukas Joko lalu bergegas menyeberangi jalan menyusul gadis remaja tersebut. Sri pun terdiam.

Joko mencari-cari ponakannya itu ditemani Priyadi. Setelah mencari cukup lama, akhirnya Priyadi melihat Anjani. “Pak, itu Mbak Anjani,” tunjuknya. Joko menghela nafas lega. “Ok Pak, sekarang Pak Pri silakan kembali dan bilang ke Bu Sri, kita sudah menemukan Anjani, dan jangan langsung jemput, tunggu kabar dari saya dulu,” kata Joko. “Baik Pak.” Priyadi pun bergegas kembali.

Joko melihat Anjani yang tengah duduk di atas kotak-kotak kayu bekas di belakang toko buah. Wajahnya menatap pada kebun kosong dengan satu tangannya menyanggah dagunya. Joko bisa melihat kegundahan yang bercampur kekesalan di mata gadis remaja tersebut. Joko menghampirinya.

Anjani menoleh karena mendengar langkah kaki Joko. Ia melompat dari duduknya akan pergi. “Tunggu! Uwa kesini ga bermaksud untuk mengganggu, hanya ingin mengembalikkan hapemu ini, tapi tolong jangan lari lagi,” kata Joko. Anjani melihat ponselnya ada di tangan Joko maka ia pun mengangguk. “Tapi boleh sebelum kamu terima hape ini kita ngobrol dulu sebentar?” bujuk Joko. Anjani diam untuk beberapa detik lalu mengangguk.

Joko masih memegang ponsel tersebut lalu duduk di sebelah Anjani yang masih berdiri. “Ngapain ngelamun di sini Ni? Yah view-nya lumayan lah, meski bukan pantai dan gunung tapi ada pohon pisang, rumput-rumput sama kardus-kardus lapuk bekas nyimpen buah,” canda Joko.

Lihat selengkapnya