Mobil ambulans berjalan kembali menyusuri jalan.
Sudah tak banyak lagi pemandangan rumah atau pasar di kanan dan kiri jalan tapi kali ini di sepanjang jalan lebih banyak pemandangan pematang sawah yang luas membentang. Di kursi depan, Anjani merebahkan kepalanya di bahu Sri. Angin sore yang berhembus masuk melalui jendela membuat suasana di dalam mobil tak terlalu panas seperti siang tadi. Di ufuk barat sana terlihat garis berwarna jingga di sepanjang mata memandang.
“Sunset Mah!” tunjuk Anjani.
Sri mengangguk.
Cahaya oranye itu memenuhi udara, juga menembus masuk ke dalam mobil ambulans dan semua yang berada dalam jangkauan sang surya terbenam itu berubah warna menjadi jingga. “Wah cantiknya,” Anjani terkesima. “Ini kalau orang kota nyebutnya kayak kamu tadi, ‘sunset’ tapi kalau kami orang kampung menyebutnya, ‘halimun’,” terang Sri.
“Halimun,” ulang Anjani dengan mata terpukau dengan terus menatap sekitarnya.
Dito melihat sawah-sawah yang menjingga. Ia melihat telapak tangannya yang juga menjadi jingga. “Lama ga lihat halimun secerah dan selikat ini warnanya,” ucap Dito. Joko terlihat acuh tak acuh dengan itu semua, ia telah memakai jaket kulitnya lagi dan menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Dulu di kampung kalau ada halimun seperti ini, semua orang keluar dari rumah apalagi yang masih jomblo,” kata Sri.
“Kenapa Mah?” bingung Anjani.
“Kata orang dulu, kalau halimun datang maka itu saat yang tepat untuk jatuh cinta, mencari jodoh, karena di saat itulah semua orang tampak terlihat cantik dan tampan,” jelas Sri.
“Tapi ke saya mah ga ngaruh Bu, tetep aja jelek,” celetuk Priyadi membuat Anjani tertawa. “Buat yang jeleknya permanen memang ga ngaruh sih Pak Pri,” timpal Joko. Priyadi pun tertawa.
Tak lama kemudian saat jingga di horison itu perlahan menghilang tergantikan gelap, mobil ambulans memasuki wilayah Tana Baru ditandai dengan adanya gapura yang terbuat dari kayu sebagai penanda wilayah.
SELAMAT DATANG DI TANA BARU.
“Apakah kita mau berhenti dulu untuk makan malam Bapak Ibu?” tanya Priyadi. “Sepertinya langsung saja Pak kita makan malam di mobil saja,” jawab Dito, “tapi kalau Pak Pri capek bilang saja, nanti nyupirnya biar saya gantikan.” Priyadi menggeleng, “Belum capek kok Pak, masih aman.”
Mobil ambulans pun terus berlari menembus malam.
“Oiya Bu, sepertinya dari sini saya perlu dinavigasi,” kata Priyadi.