Dito menatap nanar kereta api yang lewat di depannya begitu juga Sri dan Anjani. Mereka tak bisa berkata-kata. “Uwa …” sebut Anjani lirih dan gemetar. Priyadi turun dari mobil ambulansnya. Dengan kedua tangannya ia memegangi kepala, hatinya bersedih melihat Joko yang terjatuh dan tertinggal di rel kereta tadi. “Ya Tuhan,” ucapnya dalam.
Kereta api terus lewat di depan mereka seperti yang tak selesai-selesai. Debu-debu beterbangan membawa serta dedaunan. Dito menunduk. Akhirnya kereta api itu pun selesai lewat. Suasana kembali hening dan debu-debu yang beterbangan mulai turun membuat pandangan tak lagi terhalangi. Anjani terkejut. “Itu … itu Uwa,” tunjuk Anjani pada Joko yang tengkurap tak bergerak di atas tanah di sisi luar rel kereta.
“Mas Dit! Itu Mas Jok!” teriak Sri.
Dito mengangkat kepalanya. “Ya Allah, Mas Joko!” Ia segera berlari menghampiri Joko diikuti Priyadi. “Mas Jok, Mas Jok,” panggil Dito seraya membalikkan tubuh kakaknya itu lalu mengangkat kepalanya.
“Pak Joko masih hidup Pak,” kata Priyadi setelah memeriksa nadi di lengan Joko. Sri dan Anjani datang menghampiri. “Mas, gimana kondisinya Mas Joko?” tanya Sri.
“Sepertinya hanya pingsan,” jawab Dito.
“Uwa bangun Wa!” Anjani menggoyang-goyangkan tubuh Joko.
Joko membuka matanya lalu melihat mereka semua. “Hayo pada ngapain? Pada khawatirin aku ya?” cengirnya. Sri terkejut begitu juga Anjani dan Priyadi. Dito hanya melongo melihat kelakuan kakaknya itu.
“Tadi kita kira Pak Joko ketabrak kereta,” kata Priyadi.
Joko bangun dan berdiri, lalu membersihkan debu dari jaket kulit dan celana jeans-nya itu. “Itulah gunanya refleks yang cepat Pak Pri, saat aku jatuh dan dalam hitungan detik sebelum kereta itu datang, aku langsung berguling-guling ke sisi luar rel kereta … gimana, aku keren ‘kan kayak stuntman-stuntman di film?” tawa Joko seraya membuka tangannya dengan bangga.
Sri melangkah pergi menuju mobil ambulans dengan wajah sebal sambil berkata, “Nyesel tadi udah khawatir.” Dito menepuk bahu kakaknya itu, “Syukurlah kalau ga apa-apa Mas.” Kemudian ia pun melangkah menyusul Sri. “Saya lega melihat Pak Joko selamet,” senyum Priyadi lalu melangkah ke mobil ambulansnya.
Joko melihat mereka semua pergi.
“Hey, apa ga ada yang mau bertepuk tangan buat aku?” cetusnya. Terdengar tepuk tangan kecil di belakangnya. Joko menoleh dan melihat Anjani sedang bertepuk tangan dengan tawa lebar. “Nah ini baru ponakan Uwa terde-best!” Joko merangkul bahu Anjani lalu mereka berjalan bersama menuju mobil ambulans. “Hebat Wa, kalau Uwa terlambat sedikit aja tadi, Uwa pasti udah jadi pepes,” kata Anjani.
Joko tertawa, “Bukan pepes lagi Ni, tapi kornet.”
Mereka berdua pun tertawa.
***
Malam masih gelap. Suasana di luar juga masih terlihat sunyi. Kini mobil ambulans telah berhenti di jalan berbatu yang aman, jauh dari rel kereta. Mesinnya dibiarkan hidup sehingga lampu di mobil ambulans itu tetap menyala. Pohon-pohon besar masih tampak di kiri dan kanan mereka. Mereka semua sedang berdiri di luar mobil ambulans. Melihat-lihat sekitarnya.
“Rel kereta tanpa palang itu memang berbahaya, kok bisa sih ada rel tapi ga ada palangnya??” celetuk Dito yang masih terbayang kejadian tadi. “Mungkin tanpa palang, karena ini ‘kan jalur yang jarang dilewati orang Om,” kata Anjani. Dito mengangguk, benar juga.
“Rasanya kita tersesat makin jauh ini,” kata Priyadi melihat sekelilingnya.
“Masih ga ada orang ya?” Sri menengok ke kanan kiri.
“Sri, Sri … malam begini mana ada orang yang mau lewat jalanan gelap dengan pohon-pohon besar seperti ini sih?” sahut Joko. Anjani melihat pada pohon-pohon besar itu, bulu tekuknya merinding. “Kita kayak ada di hutan antah berantah saja,” tambah Anjani.