Anjani duduk membeku.
Ia baru sadar.
Tadi saat ia masuk ke dalam mobil, dari ujung matanya ia melihat sesuatu di belakang mobil ambulans. Sri yang duduk di sampingnya tampak gelisah. “Mas Joko, Mas Dito dan Pak Pri ini pada kemana ya?” tanyanya. Perlahan tangan Anjani meraih kaca spion dalam, ia penasaran ingin melihat ke belakang. Pelan-pelan kaca spion itu diarahkannya ke belakang.
Tepat saat wajah kakek yang pucat dan dikafani dengan dua kapas menyumpal dua lubang hidungnya tengah menatap Anjani sembari duduk.
Anjani menjerit kencang!
Sri terpekik kaget. “Ni! Ada apa?!” seru Sri.
“Mah, itu … itu … mayat kakek duduk!” teriak Anjani.
“Hah? Apa-apaan sih kamu Ni?” kaget Sri. Anjani menenggelamkan wajahnya pada ketiak ibunya, matanya terpejam, jemarinya mencengkeram kuat-kuat memeluk ibunya. Tubuhnya gemetar ketakutan.
Sri penasaran, maka pelan-pelan ia menolehkan kepalanya ke belakang. Ia terkejut saat melihat di atas keranda tidak ada apa-apa dan pintu belakang ambulans terbuka lebar.
“Kakekmu ilang Ni!” pekik Sri.
“Apa? Bukan Mah, tapi mayat kakek tadi lagi duduk! Sungguh, aku berani sumpah,” ucap Anjani masih memeluk ibunya.
“Ini ga mungkin, ayo kita turun Ni, Mamah mau ngecek.”
“Ga mau, ga mau, aku takut Mah,” rengek Anjani. Sri tidak menggubris putrinya, ia membuka pintu mobil dan turun. Karena takut ditinggal sendiri Anjani ikut melompat turun dari mobil dan memeluk pinggang ibunya dari belakang. Mereka berdua berjalan pelan-pelan.
“Ini ga mungkin,” geleng Sri.
“Sumpah Mah, aku lihat sendiri,” gemetar Anjani.
Mereka melangkah menuju pintu belakang mobil ambulans.
***
Joko menghentikan langkahnya saat mendengar suara-suara. Ia mendekati sumber suara tersebut. Makin lama makin terdengar jelas. Joko terlihat senang. Akhirnya ada manusia! Batinnya. Ia bergegas menuju suara tersebut tapi langkahnya terhenti saat mendengar salah seorang dari mereka mengatakan, “Kalau ada orang lewat sini kita begal saja!” Joko terkejut, ia mengurungkan niatnya untuk menemui orang-orang tersebut.
Pelan-pelan ia mengintip dari balik pohon besar yang bersemak lebat. Tampak empat orang pria berjaket dan bertopi tengah ngobrol di dekat motor-motor mereka. Di jemari tangannya terlihat rokok yang mengebul serta botol-botol miras di atas jok motor. Yang menyeramkan di pinggang mereka bergantungan parang-parang tajam.
Joko menelan ludahnya. Waduh ini lebih seram dari setan mana pun, batin Joko. Sebaiknya menghindar saja, insting Joko mengatakan itu. Maka Joko memutar kembali badannya, lalu berjalan pelan. Nahas, kakinya menginjak ranting pohon. Suara patahan ranting itu terdengar keras di tengah suasana malam yang sunyi. Sialan, sialan! Bego! Umpat Joko pada dirinya sendiri.
Ke empat pria itu terdiam. Mereka saling tatap lalu bersiap. Satu orang dengan cepat menyorotkan lampu senter ke arah suara ranting patah tadi. Tiga orang lainnya mencabut parang dari pinggang. “Sepertinya ada orang,” kata yang menyorotkan lampu senter, “ayo kita cek!” Tiga temannya mengangguk. Dengan parang yang terhunus mereka mendatangi pohon besar bersemak lebat itu.
Seorang dari mereka memungut ranting yang patah.
“Barusan di sini ada orang,” ujarnya.