DARURAT AMBULANS

ken fauzy
Chapter #11

BAB 11. KAPUR BARUS DAN POCONG

Beberapa saat kemudian, motor-motor itu muncul di kejauhan.

Suara knalpotnya memekakkan hutan yang sepi. Keempat pria itu menaikki dua motor saling berboncengan. Pria-pria yang duduk di boncengan menghunus parangnya. Mereka sampai di tempat bekas mobil ambulans tadi berhenti. “Stop!” teriak salah satu dari mereka yang mengendarai motor. Ia memperhatikan jalan sambil mengendus-ngendus layaknya anjing pelacak. “Ada apa Bang?” tanya temannya.

“Aku mencium bau kapur barus … dan lihat, batu-batu di jalan ini, bergeser … seperti ada mobil yang baru terparkir di sini,” jawabnya.

Pria-pria yang duduk di boncengan melompat turun dari motor. Mesin motor dimatikan. Mereka melihat sekeliling dengan lampu senter. Tak jauh dari mereka, Dito, Priyadi, Joko, Sri dan Anjani tengah bersembunyi di balik kerimbunan semak-semak yang tumbuh di sekitar pohon-pohon.

“Coba periksa!” perintah pria pengendus tadi dari atas motor.

Dua pria yang turun dari boncengan tadi mulai mencari. Dito menelan ludahnya melihat parang-parang itu berkilatan di bawah cahaya senter, ia menjadi tegang. Anjani dan Sri tak berani bergerak. Jantung Priyadi berdetak kencang, keringat dingin menetes. Joko mengatur nafasnya agar tetap tenang. Mereka semua tiarap di balik semak yang menghalangi tubuh mereka.

“Kau yakin di sini ada orang?” tanya temannya yang di atas motor. “Yakin, kalau ga bau kapur barus itu dari mana?” kata pria pengendus, “coba cari di semak-semak!”

Kedua temannya yang sedang mencari-cari mengangguk.

“Mereka akan kesini!” bisik Sri panik.

Joko memberi tanda diam dengan jari telunjuknya di bibir. Sri pun diam. Joko mencolek bahu Priyadi memberi kode untuk mengikutinya. Mereka berdua beringsut-ingsut pergi tanpa suara. “Mau kemana?” bisik Dito. Priyadi mengangkat bahunya, ia hanya mengikuti Joko. Kedua orang itu menghilang di balik pohon meninggalkan Dito, Sri dan Anjani.

“Apakah dia meninggalkan kita lagi?” bisik Sri.

Dito hanya menggeleng tak tahu.

Kedua pria itu mulai menyabet-nyabetkan parangnya pada semak belukar. Dito, Sri dan Anjani mengintip dengan hati tegang. Matilah kita kalau mereka sampai di sini, persembunyian kita akan ketahuan! Batin Dito. “Mas, gimana ini?” bisik Sri dengan cemas. Dito menyuruhnya diam dan jangan bergerak.

“Gimana, ada orang ga?” tanya si pengendus dari motor.

“Di sini ga ada, kita coba semak di sebelah sana!” tunjuk pria dengan parangnya. Tunjukkannya mengarah pada persembunyian Dito, Sri dan Anjani. Dito menelan ludahnya. Sri dan Anjani ketakutan, mereka meringkukkan badannya serendah mungkin, berjaga-jaga agar sabetan parang tidak mengenai mereka nanti.

Kedua pria yang membawa parang sampai di semak-semak tempat Dito, Sri dan Anjani bersembunyi. Sementara itu pria pengendus mencium bau yang sama. “Tuh, bau kapur barusnya kerasa lagi!” serunya. Temannya yang berada di sebelahnya berpikir. “Kapur barus … kapur barus?” ulangnya mengingat-ngingat.

Parang mulai disabetkan!

Tajamnya logam besi itu menghancurkan semak belukar. Anjani yang berada di paling pinggir gemetar. Sri dan Dito memberi tanda pada Anjani untuk diam tak bergerak. Sabetan satu dua menguakkan semak, mematahkan ranting dan merontokkan daun-daunnya yang rimbun. Satu meter lagi maka parang itu akan menghampiri kepala Anjani!

Lihat selengkapnya