DARURAT AMBULANS

ken fauzy
Chapter #12

BAB 12. TERNYATA DEKAT!

Mobil bergerak pelan menyusuri jalanan berbatu di tengah hutan.

“Jalanan ini seperti yang ga habis-habis ya,” kata Dito. Kini di depan mereka tampak jalan yang bercabang. Satu jalan membelok ke kiri dan satu jalan lagi tetap lurus. Priyadi menepuk dahinya. “Waduh, pilih jalan yang mana ini?” bingungnya. Semua orang menatap jalan bercabang itu dengan wajah bingung dari dalam mobil. Anjani melihat ibunya. “Kemana Mah?” Sri seketika menggeleng menandakan ia tidak tahu.

“Dari pada bingung, sudahlah kita berhenti dulu saja Pak Pri, perutku lapar, ayo kita makan dulu,” kata Joko. Priyadi mengangguk, mobil pun berhenti. “Iya Wa, aku juga lapar, kita belum makan malam dari tadi,” tambah Anjani. “Ini jam berapa ya?” tanya Sri sembari membuka plastik makanan. “Dugaanku ini sudah lewat tengah malam, bisa jadi mau masuk Subuh,” jawab Dito mengambil roti, membuka bungkusnya lalu mulai memakannya.

“Dengan kondisi hutan yang serem dan rawan begal rasanya tidak akan ada orang yang lewat malam-malam begini, kayaknya kita harus menunggu sampai hari terang,” kata Joko dengan mulut yang tengah mengunyah roti. “Setuju Wa,” angguk Anjani yang sudah menghabiskan roti keduanya.

“Sepertinya hapeku lobet,” keluh Sri.

“Kalian itu lucu, pada punya hape tapi ga punya power bank,” geleng Joko. “Punya Mas, tapi lupa dibawa karena waktu tadi berangkat terburu-buru,” kata Sri. “Makanya semua itu harus disiapkan biar ga lupa, kalian itu selalu begitu,” sambung Joko.

“Nah ‘kan mulai nyalahin kita lagi,” nada suara Sri terdengar akan meninggi.

“Husssh … sudah, sudah … bisakah sekarang kita makan dengan tenang dan damai?” pinta Dito. Sri pun terdiam.

“Tapi sebentar, aku jadi ingat ada yang mau aku tanyakan sama kalian,” kata Joko.

“Soal apa Mas?” tanya Dito.

“Dari kemarin aku mau nanyain ini tapi lupa terus karena selalu ada hal lain yang mengalihkan pikiranku,” lanjut Joko.

“Soal apa sih Mas?” tanya Dito tak sabar.

“Dari awal kita berangkat, kita ribut soal arah ke Giriluhur malah sampai nyasar begini, pertanyaanku cuma satu, waktu dulu ibu dimakamin, apa kalian ga ikut? Kok ga tahu arah ke sana?” tanya Joko dengan heran lalu menatap kedua adiknya itu. Dito menelan ludahnya.

“Jujur, sebetulnya aku ga ikut Mas,” jawab Sri pelan.

“Apa?! Kamu ga ikut? Itu ibu loh yang mau dimakamkan!” cetus Joko kaget. “Dengarkan dulu alasanku Mas, Mas juga ga datang bukan? Dan kita maklumi karena waktu itu kita ga tahu Mas ada di mana,” kilah Sri.

Joko tertunduk. Saat itu ia memang sedang menghadapi banyak masalah hidupnya sendiri. “Lalu apa alasanmu?” tanya Joko dengan suara lebih pelan.

“Bapak waktu itu sudah lumpuh, kita ga bisa bawa bapak perjalanan sejauh itu, lagi pula kita pun ga punya dana untuk menyewa mobil lagi, selain itu, Anjani masih kecil, aku kerepotan Mas,” jelas Sri.

Joko menghela nafas lalu mengangguk-ngangguk. “Kalau kamu ikut ‘kan Dit?” Dito mengangguk. “Nah, kalau ikut kenapa sekarang kita bisa nyasar? Seharusnya kamu yang nunjukkin jalannya dong,” kata Joko.

“Itulah masalahnya Mas, aku tidak memperhatikan jalannya … sepanjang jalan aku hanya menangisi ibu ...” lirih Dito.

Joko menepuk jidatnya. “Berarti dulu yang tahu jalan hanya sopir ambulannya!?” Dito mengangguk. Joko berdecak kesal. “Maaf, kalau sopir ambulan yang ini ga tahu Pak,” sela Priyadi jadi tak enak hati. “Ini bukan nyindir Pak Pri kok,” sahut Joko. Priyadi meringis. Tapi hatiku kesindir, batin Priyadi.

“Apakah waktu itu ibu yang minta dimakamkan di Giriluhur?” tanya Joko. Dito dan Sri mengangguk bersamaan. Joko tak bisa berkomentar lagi. Ia melanjutkan makannya.

“Wa, aku mau ngomong,” bisik Anjani.

“Ngomong apa?”

“Mmm … tadi aku melihat mayat kakek duduk di keranda.”

Joko mengerutkan kening, “Ah yang bener Ni?”

Anjani mengangguk.

Lihat selengkapnya