DARURAT AMBULANS

ken fauzy
Chapter #13

BAB 13. BAN MELETUS

Matahari telah tinggi saat mobil ambulans itu melewati pintu tol menuju Giriluhur sekitar setengah jam yang lalu. Cahayanya bersinar terik sehingga memunculkan fatamorgana seperti air yang muncul di depan jalan sana. Tenggorokkan mengering cepat dengan keringat yang menetesi dahi. Angin jendela tak terasa sejuk lagi malah sebaliknya terasa panas dan berdebu.

Joko telah membuka lagi jaket kulitnya lalu menggunakannya sebagai gorden untuk menutupi jendela dari terjangan sinar matahari yang masuk. Roda mobil ambulans terus berputar melindas aspal yang panas meranggas. Jalan tol yang menurun membuat kecepatan mobil bertambah. Semua tampak tak berbicara, semua hanya ingin perjalanan ini cepat selesai.

Tiba-tiba terdengar suara letusan yang membuat semua orang terkejut disusul dengan badan mobil yang meliak-meliuk membuat semua orang yang berada di dalamnya terbanting kesana-kesini. “Apa yang terjadi Pak?!” teriak Sri sembari berpegangan pada handle di atas pintu. Anjani menjerit-jerit memeluk ibunya. Joko dan Dito pun berpegangan pada handle dekat mereka duduk.

“Ban belakang meletus!” pekik Priyadi.

Priyadi masih terus mengendalikan laju mobil ambulansnya yang tampak liar. Ia membanting setirnya ke kanan dan ke kiri semata agar tidak membuat mobilnya jatuh berguling-guling. Ia pun tak bisa langsung menginjak rem di jalanan menurun itu bisa-bisa membuat mobilnya terbalik seketika.

Mobil ambulans itu menyerempet pembatas jalan tol membuat semua orang menjerit. Serempetan itu membuat mobil ambulans oleng hingga melepas penutup keranda. Kapur barus berserakan kemana-mana. Priyadi membanting lagi setirnya membuat mobil ambulans masuk ke dalam bahu jalan. Debu-debu tebal beterbangan ke udara dan tak diduga kedua roda depannya melindas sebuah batu besar dengan kecepatan tinggi.

Batu besar itu melambungkan mobil ambulans hingga melompat terbang beberapa meter dari tanah. Bagaikan kuda sembrani yang melompati aral lintang di hadapannya. Semua orang di dalamnya berteriak karena tubuh mereka juga seakan ikut terbang. Jenazah bapak pun terlontar dari keranda besi bersama kain jarik yang menutupinya. Jenazah itu ikut terbang di dalam ambulans. Dan saat sembrani mendarat lagi ke jalanan dengan keras, jenazah itu jatuh tepat menimpa Dito.

“Mas tolong!” teriak Dito yang terhimpit jenazah.

Wajah bapak tepat menempel di pipi Dito. Joko tertawa. “Mas aku ga becanda!” kesal Dito dengan wajah pucat. “Bapak kangen kamu Dit, mau menyiummu sebelum pergi,” seloroh Joko. “Mas ih! Cepat bantu aku loh!” seru Dito panik.

Masih tertawa, Joko menarik jenazah itu. Sambil terus menjaga keseimbangan badannya agar tidak terbanting kesana kesini dalam mobil yang masih bergerak liar, Joko lalu memeluk jenazah itu agar tidak terlempar kesana kemari lagi.

Dan akhirnya saat jalanan mulai landai, kecepatan pun berkurang, Akhirnya Priyadi berhasil menarik tali kekang Sembrani untuk mengendalikannya hingga lajunya semakin pelan, pelan, lalu berhenti dan hanya menyisakan debu-debu yang membumbung tinggi. Ia menghela nafas lega sembari mengusap-ngusap dashboard seakan mengusap-gusap leher kudanya.

“Heh Dit bantu aku mindahi mayat bapak ini!” cetus Joko. “Nah bagus, gitu dong, terlihat akur dan akrab, saling berpelukan,” ledek Dito membalas yang tadi. “Halah halah, cepet! Banyak omong,” sebal Joko.

Dito membantu kakaknya untuk bersama-sama memindahkan jenazah bapak kembali ke keranda, merapikan kafannya, menutupinya dengan kain jarik, meletakkan kembali kapur barus di sekelilingnya lalu memasang penutup besi kerandanya.

Sri terlihat masih tegang dengan dada yang naik turun dari mobil dengan cepat. “Ya Allah, ya Allah,” ucapnya gemetar. Begitu juga dengan Anjani yang masih terlihat pucat, tangannya sampai gemetar, ia tak bisa membayangkan apa jadinya mereka semua bila mobil ambulans itu tadi sampai jatuh berguling-guling. Ia berkali-kali menghela nafas lega seraya mengucap syukur.

Joko membuka pintu belakang mobil lalu melompat turun. Ia mengibas-ngibaskan kaosnya mencari angin lalu menghirup udara yang meski panas ia tak peduli. Dito memeriksa sekali lagi jenazah bapak, dan setelah dipastikan aman maka ia pun turun dari mobil ambulans. Ia menarik dan menghela nafasnya untuk mengatur debaran jantungnya yang masih berdetak tak beraturan.

Di luar sudah terlihat Sri dan Anjani yang duduk lemas di bahu jalan. Priyadi tergopoh-gopoh menghampiri mereka semua lalu mengatupkan tangannya di dada dan sembari membungkukkan badannya berkata, “Maafkan saya Bapak-Bapak, Ibu dan Mbak Anjani … saya betul-betul tidak menduga kalau ban mobil itu meletus, maafkan saya yang hampir membahayakan kita semua.”

Lihat selengkapnya