DARURAT AMBULANS

ken fauzy
Chapter #14

BAB 14. BUBAR

“Mas sudahlah, pakai bajunya lagi, ga enak, di sini ada Anjani juga Pak Priyadi,” kata Dito.

“Sudah ga perlu aku sembunyikan lagi Dit!” tampik Joko, “Anjani sudah tahu karakter kakeknya, dan Priyadi, kita anggap saja dia sudah seperti keluarga kita, karena dia sudah dengar semuanya sejak awal! Umpamakan saja dia paman kita!”

“Kok perumpamaannya tua sekali ya?” gumam pelan Priyadi.

“Mas Dit tahu soal luka itu?” tanya Sri.

Dito mengangguk lemah.

“Sri, kamu ga tahu versi bapakmu yang sebenarnya!” cetus Joko seraya memakai kembali kaosnya. Dito menunduk menyerah karena sudah tak bisa mendinginkan amarah kedua saudaranya itu lagi.

“Kamu tahu Sri? Sabetan ini aku dapat bukan karena aku nakal, bukan! Tapi karena aku melindungi ibu!”

Sri tampak belum mengerti.

 “Saat bapak pulang ke rumah dalam kondisi mabuk atau maen serong sama perempuan lain dan ditegur ibu, maka bapak akan marah, dia akan memukuli ibu! Dan ibu, dia perempuan yang nrimo, dia ga membela dirinya sendiri, dia menerima semuanya itu dengan tubuhnya, aku sebagai anak laki-laki ga bisa diam melihat hal itu maka aku yang memeluk ibu, menjadi tameng buat ibu dan membiarkan bapak memukuliku! Bertahun-tahun seperti itu tapi aku ridho! Untuk ibu aku akan melakukan segalanya, jadi jangan coba-coba kamu katakan kalau aku ga peduli sama ibu!” beber Joko dengan tajam.

Sri terkejut seakan tak percaya.

“Kamu pasti ga tahu peristiwa itu karena kamu belum lahir tapi kalau kamu ga percaya, tanya Dito, dia ada setiap kali aku melindungi ibu, setiap kali aku bentrok sama bapak, aku yakin dia ingat, karena dia lihat itu semua dari kolong meja! Ya kolong meja! Katakan Dit ayo! Katakan juga pada Sri kalau bapak pernah dipenjara!”

“Apa?” kaget Sri lalu menatap Dito seakan minta penjelasan.

Dito mendesah, “Iya … tapi aku sudah ga mau dibawa-bawa lagi mengenai ini!”

Joko menggeleng, “Ga bisa begitu Dit, mau bagaimana pun kamu akan selalu terkait dengan hal ini karena kamu ada di situ … jangan lepas tangan, jangan menghindar … atau kamu sengaja menutup mata? Karena kamu adalah anak laki kesayangan bapak, kamu selalu dibangga-banggakan bapak, tidak seperti aku … dia bilang, aku adalah anak pembawa sial, anak pertama yang gagal!”

“Mas, cukup! Lagi pula mana buktinya kalau bapak lebih sayang sama aku dibanding ke Mas?” sanggah Dito.

Joko tertawa. “Kamu mau bukti? Heh Dit dari pemberian nama saja sudah jelas, itu bukti paling mudah … namamu lengkap dan penuh doa, ‘Dito Sugiharto’, artinya Dito yang banyak harta dan Sri adalah ‘Sri Lestari’ artinya Sri yang kekal … sedangkan aku? Namaku cuma ‘Joko’, cuma empat huruf! Lihat? Dari situ saja aku sudah dibedakan! Lucu toh?”

“Tapi arti Joko itu ‘kan bagus Mas, lajang terus, muda terus …” kilah Dito.

“Nama itu doa, lihat, karena itu aku masih membujang terus sampai sekarang!”

Dito geleng-geleng, “Sudahlah Mas, aku sudah lelah dengan keributan kita ini … persoalanku sendiri sudah cukup memusingkanku!”

Dito pun melangkah pergi.

“Pak … Pak Dito mau kemana? Jangan kemana-mana toh Pak,” bujuk Priyadi. Dito tak menjawab. Priyadi menghela nafas. “Om Dit, kita ini di jalan tol, mau kemana? Sebaiknya jangan pergi Om,” kini Anjani yang mencoba membujuk. Dito tetap tak menggubris, ia terus melangkah meninggalkan mobil ambulans.

“Ya ya bagus, lakukan keahlian kamu Dit! Lari dan sembunyi. Sembunyi dari masalah, sembunyi dari keributan! Sama seperti kamu dulu, sembunyi melihat ibu dipukuli bapak! Bersembunyi di kolong meja! Pengecut! Setidaknya kamu bisa berdiri bersamaku melawan bapak saat itu!” teriak Joko.

Dito menghentikan langkahnya. Wajahnya berubah merah dan tampak geram. Ia membalikkan badan lalu melangkah dengan cepat menghampiri Joko.

Priyadi, Sri dan Anjani melihat itu dengan tegang.

Dito mendorong tubuh Joko. “Apa yang kau harapkan dari seorang anak kecil yang ketakutan Mas?!” teriaknya. Joko terdorong mundur beberapa langkah, tapi maju kembali untuk menatap tajam Dito.

Lihat selengkapnya