DARURAT AMBULANS

ken fauzy
Chapter #15

Bab 15. KENANGAN BURUK

“Sudah kukatakan jangan pulang kalau kau mabuk!” tegas ibu dari balik pintu. “Buka pintunya,” kata bapak dengan wajah teler. “Tidak,” geleng ibu. Wajah bapak berubah marah.

“Buka pintunya!” sentaknya.

“Pak, ini jam tiga pagi, jangan berteriak,” tukas ibu.

“Saya tidak peduli! Saya mau masuk!” teriak bapak.

Ibu menggeleng. “Sebaiknya kau hilangkan dulu mabukmu itu baru pulang.”

Wajah bapak yang merah karena mabuk kini semakin merah karena amarah. “Kurang ajar kau! Berani-beraninya kau ya!” sentak bapak lalu mendorong pintu. Ibu mencoba menahannya. “Buka!” teriak bapak. Ibu menggeleng dan sekuat tenaga menahan pintu itu. Bapak semakin kalap. Dengan amarah yang meledak bapak mendorong pintu itu dengan seluruh kekuatannya, tentu saja itu tidak sepadan dengan kekuatan ibu.

Ibu terdorong jatuh ke lantai. Pintu pun terbuka lebar. Ibu merintih kesakitan sambil memegangi punggung juga perutnya yang membesar. Bapak melangkah masuk dengan langkah tegas dan dengan ringan, tangannya menampari pipi ibu berkali-kali. Ibu mencoba menangkisnya tapi sia-sia. Usaha yang dilakukan ibu malah membuat bapak semakin meledak. Ia mengangkat kakinya akan menginjak perut ibu. Wajah ibu tampak ketakutan.

Tiba-tiba sekelebat bayangan laki-laki kecil berlari lalu mendorong tubuh bapak hingga terhuyung-huyung dan terjerembab jatuh. “Jangan ibu, pukuli aku saja Pak!” teriak anak laki-laki itu menantang. “Buajingan, berani-beraninya kau sama bapakmu hah!” Bapak berdiri dengan cepat, wajahnya terbakar api amarah berkobar-kobar. Dengan terhuyung ia mendatangi anak laki-laki yang berdiri menghalangi ibunya.

“Sudah Joko, ini urusan Ibu dan bapak, kamu jangan ikut-ikutan,” lirih ibu. Anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu tidak menggubris kalimat ibunya. Ia berdiri bergeming menjadi tameng sang ibu. Dengan cepat bapak meraih tangan anak laki-laki kurus itu. “Ga kapok kamu hah?” teriak bapak di depan wajah anak laki-laki itu yang menatap tajam mata bapaknya tanpa rasa takut. Ia menggeleng.

Bapak mencabut ikat pinggangnya lalu memutar tubuh anak laki-laki itu. Dan dengan kekuatan penuh ia menyabetkan ujung kepala sabuk yang terbuat dari besi itu ke punggungnya. Anak laki-laki itu mengepalkan tangannya menahan sakit, giginya mengatup mengunci tak berteriak, urat-urat di lehernya tampak menahan semua rasa pedih. Tiap kali sabetan itu mendarat di punggungnya ia mengencangkan seluruh ototnya.

Ibu berteriak meminta dihentikan tapi bapak tak menggubris. Air mata ibu menetes. Kedua kaki anak laki-laki itu gemetar setelah menit-menit berlalu. “Kapok kau!” teriak bapak lalu menghentikan sabetan terakhirnya. Entah sudah berapa kali kepala ikat pinggang itu menghantam punggung, pinggang atau bahunya, tak ada yang menghitung. Setelah puas bapak meninggalkan anak laki-laki yang masih berdiri dengan tangan terkepal itu.

Setelah bapak tak terlihat, anak laki-laki itu baru jatuh luruh dalam pelukan ibu. Tubuhnya lunglai, sakitnya tembus sampai ke tulang. Anak laki-laki itu melihat adiknya yang berusia 7 tahun tengah bersembunyi di kolong meja tak jauh darinya dengan wajah pucat, dengan tubuh gemetar ketakutan. Mata mereka saling beradu. Adiknya menggeleng tak kuasa, bola matanya bergetar-getar nanar.

Lihat selengkapnya