DARURAT AMBULANS

ken fauzy
Chapter #16

BAB 16. MONSTER

Di kejauhan tampak sebuah mobil.

“Bu, Mbak, itu ada mobil lewat,” cetus Priyadi. Sri sudah tak bersemangat, ia hanya mendongak sebentar lalu kembali menunduk. Priyadi melompat dari duduknya. “Mbak, ayo kita berhentikan … siapa tahu mobil itu mau membantu,” ajak Priyadi pada Anjani lalu bergegas ke bahu jalan dan melambai-lambaikan tangannya. Anjani pun melompat dari duduknya. Ia berteriak-teriak di sebelah Priyadi. “Berhenti! Tolong! Berhenti!” teriaknya. Tak disangka-sangka dari jauh mobil itu melambatkan lajunya kemudian mengarah ke bahu jalan.

“Mbak, mobil itu mau berhenti Mbak! Alhamdulillah!” seru Priyadi senang. Anjani pun melompat-lompat senang. Mobil itu berhenti tak jauh di belakang mobil ambulans. Tak lama turunlah sopirnya dari mobil.

Sri mengenalinya, “Pak Frans?”

Frans, sopir bersafari yang bertemu dengan mereka di SPBU tadi mengangguk melemparkan senyum. “Loh kenapa ambulansnya?” tanya Frans. “Pecah ban Pak,” jawab Priyadi.

Frans memeriksa ban mobil ambulans tersebut. “Oh saya punya ban serep yang sama dengan ban mobil ini Pak,” katanya. Wajah Sri berubah menjadi sumringah, semangatnya kembali muncul. “Betulkah Pak Frans? Biar saya beli bannya kalau begitu, karena saya butuh sekali untuk membawa dan memakamkan jenazah bapak saya ke Giriluhur,” ucapnya.

Frans menggeleng, “Ah ga usah dibeli Bu, silakan dipakai saja, sebentar saya ambil dulu bannya.” Frans kembali ke mobilnya untuk mengambil ban serep tersebut dan Priyadi dengan sigap membantunya. “Beruntung kita bertemu Pak Frans, kalau tidak, apa jadinya,” kata Sri. “Semua sudah ada yang mengatur Bu, tadi saya lihat dari jauh, saya pikir, saya hapal dengan ambulan ini, maka saya pun berhenti,” senyum Frans sambil memperhatikan Priyadi yang tengah memasang ban tersebut pada mobil ambulannya.

Beberapa saat kemudian ban serep milik Frans itu pun telah menempel di mobil ambulans. Priyadi mengencangkan kembali baut-bautnya untuk memastikan. “Gimana Pak, aman?” tanya Frans. Priyadi mengangguk, “Aman Pak, InsyaAllah.”

Sri menyalami tangan Frans, “Terima kasih banyak Pak Frans, saya harus membalasnya dengan apa?” Frans tertawa, “Ga usah dibalas Bu … dengan kalian selamat sampai tujuan saja, itu sudah membuat saya senang.”

“Kalau begitu, semoga Tuhan yang membalas kebaikan Pak Frans,” ucap Sri. Frans mengangguk sopan. “Baiklah kalau begitu, saya harus bergegas Bu, dan hati-hati di jalan,” ucapnya. Setelah itu mereka pun berpisah.

Dengan wajah lega Sri, Anjani dan Priyadi kembali naik ke mobil ambulans.

“Ayo Sembrani, kita lanjutkan perjalanan,” kata Priyadi menepuk-nepuk dashboard. Mobil pun menggerum dan berjalan kembali. “Untung tadi ketemu Pak Frans di SPBU ya Mah,” kata Anjani. Sri mengangguk, “Begitulah Ni, di dunia ini tidak ada yang kebetulan, semua sudah diatur oleh-Nya.”

Tak lama kemudian mereka melihat Dito yang sedang berjalan di bahu jalan. “Itu Om Dito!” tunjuk Anjani. Priyadi membunyikan klaksonnya. Dito menoleh. “Ayo Mas naik,” ajak Sri. Dito menoleh wajahnya tampak meragu.

“Ayolah Om, dari pada jalan kaki,” bujuk Anjani. Dito melirik ke belakang ambulans. “Mas Joko ga ada, dia tadi pergi,” kata Sri memahami maksud lirikan itu.

“Aku sudah tidak mau ribut lagi,” alasan Dito.

“Ya aku ngerti itu Mas,” kata Sri.

Dito pun naik ke belakang mobil ambulans. “Gimana bisa dapat roda mobil ini Pak Pri?” heran Dito sambil menutup kembali pintu mobil ambulans. “Tadi ada orang baik yang dikirim Allah, Pak,” jawab Priyadi tersenyum. “Syukurlah,” ucap Dito lalu melihat jaket kulit milik Joko yang jatuh di dekat kaki kursi.

“Menurut Mas, apakah kita harus mencari Mas Joko atau ….”

“Ga usah Sri, dia pasti sudah pergi seperti dulu dia meninggalkan kita … biar kita saja yang urus jenazah bapak,” kata Dito lalu mengambil jaket kulit itu dan menyimpannya di dalam tasnya. Mobil ambulans pun terus berjalan menuju Giriluhur.

Lihat selengkapnya