DARURAT AMBULANS

ken fauzy
Chapter #17

BAB 17. PULANG

Priyadi fokus memperhatikan jalan. Anjani tertidur dengan kepalanya bersandar di bahu ibunya. Sri melempar jauh pandangannya melewati jendela mobil. Menikmati pemandangan. Sejauh mata memandang tampak pemandangan yang menenangkan. Awan-awan putih yang berarak dengan latar belakang biru. Gunung-gunung hijau di kejauhan. Segerombolan burung terbang bebas, berputar dan menukik lalu terbang tinggi lagi. Bermain-main di udara, bercanda bersama dalam hangatnya kebersamaan.

Apakah ini akhir dari kebersamaan kita sebagai kakak dan adik? Satu rumah, satu rahim tapi memiliki perbedaan pandang tentang bapak. Pertengkaran, saling tuding, saling berteriak. Seharusnya berat sama dipikul, ringan sama dijinjing bukan berat saling baku pukul, ringan saling tuding. Kita sedarah tapi berbeda arah. Kita sama-sama salah tapi juga sama-sama benar. Kita memandang objek yang sama hanya berbeda dari sudut pandang.

Kepergian ibu selalu menjadi yang terberat. Kenyamanan yang terenggut, kefasihan berkata cinta yang hilang, kesunyian yang membunuh. Rumah menjadi tak lagi sama. Pedih rasanya melihat sudut-sudut rumah di mana ibu biasa duduk kini kosong melompong.

Kepergian bapak lebih mudah, bagi sosok yang tidak pernah hadir dan sekalinya hadir malah memporakporandakkan kedamaian. Kebencian yang mengakar untuk sebagian tapi kebaikan yang tertinggal untuk sebagian.

Aku mulai memahami apa yang terjadi, batin Sri.

“Mah, udah sampai belum?” tanya Anjani yang terbangun.

Sri tersadar dari lamunannya. “Belum Ni,” jawab Sri pendek.

“Mah, beneran Wa Joko ga akan ikut nguburin kakek?”

“Ga tahu Ni … kalau pun dia ga ikut, Mamah sekarang bisa mengerti dan memahami,” ucap Sri. Anjani menatap mamahnya seakan tak percaya.

“Barusan kesambet apa Mah?” tanya Anjani.

“Kesambet? Apa maksudmu?” bingung Sri.

“Tumben jawaban Mamah sebijak itu biasanya langsung ngomel-ngomel kalau Wa Joko ga ikut nguburin,” cengir Anjani. Sri tertawa. “Kesambet setan gundulmu itu!” canda Sri sambil mengelitikki Anjani. Anjani tertawa geli. Priyadi jadi ikut mesam mesem dan mobil ambulans itu terus berjalan membelah jalan tol.

Tak lama kemudian terlihat papan penunjuk di jalan tol yang bertuliskan “Giriluhur”. Priyadi mengambil jalur lambat dan keluar dari jalan tol. Setelah membayar di pintu tol, mobil ambulans memasuki wilayah yang dituju. “Kemana ya arah Desa Giriluhur?” Priyadi bertanya-tanya saat melihat di depannya ada perempatan. “Sebaiknya saya bertanya dulu Pak,” sahut Dito. Priyadi mengangguk lalu meminggirkan mobilnya.

Dito turun dari ambulans dan bertanya pada orang-orang yang tengah duduk-duduk di warung pinggir jalan. Satu orang menunjukkan arah. Dito mengangguk sopan lalu kembali naik ke dalam mobil. “Lurus terus saja Pak,” kata Dito. Priyadi mengangguk. Mobil ambulans melesat lurus melewati perempatan tersebut.

 

***

 

Lihat selengkapnya