DARURAT AMBULANS

ken fauzy
Chapter #18

BAB 18. BALADA PONIRAH, SUMARDI DAN PUJIATI

Mobil ambulans memasuki komplek pemakaman saat hari telah malam lalu berhenti di samping sebuah mobil tua yang telah terparkir lebih dulu di situ. Tiga orang sudah terlihat menunggu termasuk kepala desa Giriluhur di bawah gapura pintu masuk komplek pemakaman yang diterangi hanya satu lampu bohlam berwatt kecil. Hanya itu, tidak ada orang yang datang lagi.

Dito, Sri dan Anjani berkenalan dengan kepala desa. Kepala desa itu seumuran dengan bapak mereka dan terlihat ramah. “Loh kemana Joko? Saya kok tidak melihatnya?” tanya kepala desa. Dito dan Sri saling lirik. “Eung, anu Pak … Mas Joko tadi ikut tapi ada keperluan jadi pergi lagi,” kata Dito mencari-cari alasan.

“Oh … ya sudah kalau begitu, biarkan saja dia pergi,” ucap kepala desa lalu menatap tajam mobil ambulans, “Sumardi, akhirnya kau pulang juga.”

“Pak Kepdes kenal bapak?” tanya Dito.

Kepala desa tertawa kecil. “Ya kenal toh, kita lahir di desa yang sama, besar bersama di sini bahkan Sumardi itu dapat jodohnya ya dari desa ini juga … Pujiati,” ucap kepala desa berat dan dalam saat menyebut nama itu, “ya ibumu itu.”

Terbersit dalam pikiran Dito untuk menggali informasi mengenai sosok ‘monster’ yang ditakutinya itu. “Apakah saya bisa tanya-tanya soal bapak?” tanya Dito berharap. Kepala desa terdiam sebentar lalu tertawa, “Tentu saja boleh.”

Sri terkejut. “Mas, ini bukan sesi wawancara atau mencari informasi soal bapak, kita harus cepat nguburi bapak sebelum semakin malam,” bisiknya pada Dito.

 “Sri, kau tahu, aku sangat takut pada bapak, aku ingin tahu apa yang membuat bapak menjadi seperti itu,” balas Dito berbisik. “Nanti saja toh setelah proses penguburan selesai,” geleng Sri menolak.

“Menunggu satu dua jam lagi juga ga ngaruh ke bapak, dia sudah mati,” ucap Dito.

“Kita itu sudah telat satu hari Mas, sekarang mau diulur lagi waktunya?” tukas Sri kesal. “Ya karena itu ga masalah toh? Beri aku waktu sebentar, supaya aku bisa membuang label monster itu dari bapak!” tegas Dito.

“Jadi bagaimana, mau dikuburkan sekarang atau mau ngobrol dulu?” tanya kepala desa. “Kita istirahat dulu sambil ngobrol-ngobrol sebentar Pak,” jawab Dito. “Baiklah,” angguk kepala desa. Kepala desa menghampiri tumpukkan bebatuan tak jauh dari pintu masuk pemakaman diikuti Dito dan Sri. Mereka pun duduk di situ.

Sri terlihat kesal dan gelisah. Ia memainkan ponselnya tak tertarik dengan apa yang akan dibincangkan Dito dan kepala desa. Begitu pun Anjani sudah tenggelam dengan ponselnya bermain bersama teman-teman online-nya sedang Priyadi memilih untuk berbincang-bincang dengan dua orang pria yang datang bersama kepala desa tadi.

“Apa yang Mas Dit mau tahu soal bapak?” tanya kepala desa.

“Pak, bisa tolong ceritakan bagaimana bapak saat masih kecil dulu dan kehidupannya di desa ini?”  

Kepala desa mengangguk.

“Kehidupannya biasa-biasa saja, sama seperti warga lainnya di desa ini. Dia tinggal bersama neneknya, kakeknya sudah meninggal saat dia kecil. Sumardi itu anak yang pendiam. Bisa dibilang tidak punya kawan. Dia senang menyendiri, di kelas duduk di paling belakang, kalau jam istirahat dia lebih senang nongkrong di kebun belakang sekolah, mengisap rokok yang dibuatnya sendiri dari daun pisang kering, orang sini sebutnya rokok klobot dan hebatnya, dia ga pernah ketahuan sama guru.”

Kepala desa tertawa mengingat itu.

Dito mendengarkan.

“Hanya saya yang suka menghampirinya dan mengajaknya bicara, menemaninya merokok daun pisang itu … meski sudah diajak bicara, dia memang tak pandai menyusun kata-kata … hanya menjawab sekenanya dan diam saja kalau tidak ditanya.”

“Tapi saya hanya berkawan dengannya sampai sekolah menengah pertama saja, karena setelah itu, Sumardi tidak melanjutkan sekolah tapi membantu neneknya di ladang. Tapi saya masih suka bertegur sapa dengannya saat bertemu, hanya saja dia sudah banyak berubah.”

“Berubah gimana Pak?”

“Dia lebih emosian dan cepat tersinggung.”

Dito kaget. “Kenapa bisa gitu Pak?”

“Saya pikir karena dia merasa malu tidak melanjutkan sekolah dan dengar-dengar saat tidak di ladang, dia bergaul dengan preman di terminal.”

Dito tersentak. Preman terminal, ulang batinnya.

“Pak, kenapa bapak tinggal sama nenek dan kakeknya, bukan dengan orang tuanya? Kemana orang tua bapak?” heran Dito. Kepala desa menghela nafas berat. Ia menatap Dito dalam-dalam. “Mas Dit, benar-benar mau tahu soal ini?”

Lihat selengkapnya