Setelah keranda itu diturunkan dan diletakkan, Dito dan Sri menghampiri kepala desa. “Pak, ini … ini kenapa makam bapak saya belum digali?” bingung Dito. “Iya Pak, hari sudah malam, kalau belum digali bagaimana ini?” decak Sri tampak gelisah kembali.
“Begini Mas dan Mbak … jadi tanpa sepengetahuan kalian, ketika bapak kalian sakit, dia menghubungi saya dan membuat wasiat kalau dia meninggal, dia ingin kuburannya digali hanya oleh anak laki-lakinya,” kata kepala desa berat dan dingin.
“Apa?!” kaget Dito dan Sri.
“Tapi kenapa Pak?” tanya Dito.
“Ya ndak tahu.”
Tubuh Dito seketika menjadi lemas. Tubuhnya masih terasa letih dari perjalanan yang melelahkan dan sekarang ia harus menggali kuburan. “Itu wasiat, maka harus dilaksanakan,” kata kepala desa. Sri menepuk bahu Dito menyemangati, “Demi bapak Mas.” Dito melirik pada jenazah bapak di dalam keranda, ia khawatir jenazahnya mulai membusuk.
Maka Dito membulatkan tekad, menghela nafas kencang lalu mengumpulkan tenaganya. Ia mengambil pacul dan mulai memacul tanpa banyak bicara lagi. Priyadi menggelung lengan bajunya. “Saya bantu Pak Dit.” Kepala desa menahan bahu Priyadi. “Kamu anak laki-lakinya bukan?” Priyadi menggeleng lalu paham maksudnya, ia mundur tak jadi membantu.
Dito terus memacul tanah tersebut. Ia bekerja secepat mungkin. Tiba-tiba di sebelahnya muncul seseorang mengambil sekop lalu mulai menyekop tanah untuk membantu Dito. Semua orang terkejut.
Anjani berseru senang, “Uwa Joko!”
Joko membalas seruan senang itu dengan mengedipkan mata pada ponakannya lalu melanjutkan pekerjaannya. Anjani tertawa. Sri menghela nafas lega. Dito masih menatap kakaknya tak percaya kalau kakaknya ada di sini.
“Bukan kamu saja yang jadi anak laki-lakinya bapak, aku juga … kamu denger kata pak kepala desa tadi bukan? Ayo mulai gali! Kenapa bengong?” kata Joko sambil terus menyekop tanah.
Dito mengangguk dan menjadi bersemangat. Terkadang kakaknya ini memang mengesalkan baginya tetapi lucunya, kehadirannya selalu membuatnya merasa tenang. Sri melihat kedua kakak laki-lakinya yang tengah memacul, menyekop dan terus menggali itu, bangga terbersit dalam hatinya. Kakak sulungnya memang suka membuatnya marah tetapi ia tak bisa mengingkari kalau kakak sulungnya itu memang sosok yang melindungi keluarga.
1 jam telah berlalu.
Peluh di dahi dan di punggung telah deras mengalir membasahi baju tetapi Joko dan Dito masih terus menggali hingga kepala desa berkata, “Sudah … saya rasa sudah cukup dalam … sekarang sisanya biar dilanjutkan bapak-bapak ini.”
“Syukurlah kalau begitu, saya sudah lelah sekali Pak,” kata Dito terengah.
“Habis kalian lama sekali menggalinya bisa-bisa sampai pagi kita di sini, dan saya juga kasihan sama kalian,” balas kepala desa beralasan. Joko dan Dito meletakkan peralatan menggali yang mereka gunakan. Setelah mereka menyingkir, penggalian itu dilanjutkan oleh 2 pria tadi dengan cepat dan cekatan.
Joko lalu menyalami kepala desa, berkenalan. “Dulu katanya pernah kesini ya?” kata kepala desa. “Iya Pak, sama bapak waktu kecil, waktu nenek meninggal,” jawab Joko. “Wah sekarang sudah besar,” kata kepala desa.
”Bukan sudah besar Pak, tapi sudah tua,” cengir Joko. Kepala desa tertawa. Setelah berbincang sebentar dengan kepala desa, kemudian Joko duduk di sebelah Dito yang tengah mengaso, mengelap keringatnya dengan handuk kecil dari dalam tas yang dibawanya sambil meminum air mineral, tak jauh dari proses penggalian itu.
“Aku pikir Mas kembali ke Jakarta tadi,” kata Dito menyerahkan satu botol air mineral pada kakaknya.
“Maunya begitu, ga tahunya salah numpang naik mobil eh malah kebawa ke Giriluhur lagi,” jawab Joko sekenanya lalu meneguk air mineral tersebut yang terasa segar di tenggorokkannya. Dito tersenyum, ia tahu kakaknya bercanda.
“Kok tahu Mas bapak dimakamkan di sini?” tanya Dito.
“Mudah. Tinggal tanya-tanya sama orang-orang, tempat pemakaman desa Giriluhur di mana, mereka menunjukkan bahkan langsung mengantarkan dengan motor.”
“Itulah orang desa, beda dengan orang kota, mereka ramah,” kata Dito.
“Bayar dua puluh lima ribu tapinya,” sambung Joko.
“Lah itu sih ojek namanya Mas,” sebal Dito, Joko tertawa.
“Eh gimana hidungmu? Sori kalau aku memukulmu terlalu keras tadi,” kata Joko.
“Halah pukulan kayak banci, hidungku baik-baik kok, gimana sama pelipismu? Lumayan ‘kan dapat pukulan dari Iko Uwais?” balik ledek Dito. Joko tertawa, Dito pun tertawa.
“Nih,” Dito menyerahkan jaket kulit yang disimpannya di tas.
“Wah, kamu inget untuk membawa ini Dit, tadi memang ketinggalan di ambulans, matursuwun ya,” Joko terlihat senang, “kamu tahu Dit? Ini jaket kulit punya bapak, aku bawa waktu aku pergi dari rumah.”
Dito memandangi kakaknya yang tengah memakai jaket kulitnya itu. Ada maksud tersirat dari kalimat kakaknya tadi, Dito meyakini bahwa meski kakaknya itu tak akur dengan bapak, ia masih menyimpan benda milik bapak untuk mengenangnya.