DARURAT AMBULANS

ken fauzy
Chapter #20

BAB 20. MURKA

Dito melihat kakaknya, Joko, sedang terduduk di atas tanah dengan wajah meringis kesakitan sambil mengusapi kepalanya, dengan orang yang memukulnya -salah satu pria yang datang bersama kepala desa tadi- memegang sekop dan berdiri di samping Joko dengan sikap berjaga-jaga.

Di sisi lain, ia juga melihat Sri dan Anjani yang bersimpuh di kedua lututnya dengan kepala menunduk dan di belakang mereka berdiri pria satunya lagi yang menghunuskan pacul, mengancam mereka berdua dan Anjani sesunggukkan menangis ketakutan seraya memeluk ibunya.  

Dito menjadi pucat pasi juga gentar melihat situasi itu dan ia tak mengerti.

Tapi yang membuat Dito sangat bergidik adalah, besi keranda jenazah bapaknya telah terbuka dan tergeletak begitu saja di atas tanah dengan jenazah bapaknya sedang ditendangi oleh kepala desa berulang kali!!

“Ya Allah! Apa yang Anda lakukan Pak?!” teriak Dito.

Kepala desa menghentikan tendangannya lalu menatap Dito dengan nafas terengah-engah. “Apa yang saya lakukan?” ulang kepala desa sinis dengan wajah memerah. “Ya! Kenapa?” tanya Dito bergetar marah bercampur takut.

“Yang saya lakukan ini adalah yang seharusnya saya lakukan waktu dia, Sumardi, masih hidup! Dan membebaskan Pujiati dari semua penderitaan itu!” teriak kepala desa.

Suara kepala desa begitu keras sehingga menggema di komplek pekuburan.

“Anda punya dendam sama bapak saya ya?” celetuk Joko lalu berdiri, kepalanya masih berdenyut-denyut, tatapannya masih sesekali nanar. “Diam di situ kau!” bentak kepala desa pada Joko, “dan kau juga!” kini ia membentak Dito yang pelan-pelan melangkah mendekati mayat bapak. “Atau, orang saya itu akan memacul leher Sri!” ancam kepala desa.

Pria itu mengangkat paculnya.

“Jangan!” teriak Anjani memeluk erat ibunya.

Dito pun menghentikan langkahnya.

“Sebetulnya ini ada apa sih Pak?” bingung Dito.

“Ini tidak ada hubungannya sama kalian!” ketus kepala desa.

Joko tertawa. “Ya ada Pak, lah wong yang bapak tendangi itu mayat bapak kami kok, kalau bapak punya dendam, cerita sama kami, mungkin kami akan memberi ijin untuk menendangi lagi kalau alasannya tepat.”

“Mas! Jangan gila!” sergah Dito.

Sri mencoba mengendalikan ketakutannya itu. “Betul Pak, ceritakan ada apa, tapi jangan sentuh jenazah bapak saya …” mohonnya sedih.

Kepala desa tertawa.

“Berpuluh tahun saya menunggu Sumardi pulang untuk melakukan ini, melampiaskan apa yang saya pendam lama, lalu saat dia pulang saya tak boleh menyentuhnya? Enak saja!” tukasnya sambil menyepak kepala jenazah bapak lagi. Buk! Membuat kepala jenazah itu jadi menengok ke kanan.

“Pak hentikan!” teriak Dito, “atau ….”

“Atau apa? Atau mau melawan saya? Coba saja!” tantang kepala desa. Dito menelan ludahnya, sebetulnya ia tidak berani tadi ia hanya menggertak saja.

“Dia adalah orang yang tidak tahu diuntung! Bajingan kampung yang harusnya mati di tangan saya!” teriak kepala desa sambil menduduki jenazah bapak. Sri menggeleng tak berdaya. Anjani terkejut hingga menutup mulutnya dengan tangan, ia tak menyangka ada orang tak sesopan itu pada jenazah. Dito hanya bisa menggeram marah. Joko akan bergerak tapi pria yang menjaganya mengancamnya dengan ujung sekop yang tajam lagi pula ia tak berani bertindak gegabah karena Sri ada di bawah ancaman pacul juga.

Kepala desa berteriak murka, “Sumardi kau pantas mendapatkan ini!!” lalu tinjunya datang bertubi-tubi pada kedua pipi jenazah bapak membuat kapasnya lepas dari hidung dan membuat wajah jenazah bapak bolak-balik menengok ke kanan dan ke kiri. Sambil terus meninju, kepala desa juga terus meracau seperti menumpahkan semua yang ditahannya di dalam dada selama ini.

“Saya orang yang mau jadi temanmu saat tidak ada orang yang mau jadi temanmu! Saya orang yang tetap menegurmu saat semua orang menjauhimu, tapi Sumardi, kau memang bajingan tengik! Berandalan terminal rendahan, kau malah merebut Pujiastuti dari saya! Asu!”

Joko, Dito dan Sri terkejut, tapi mereka kini mulai tahu apa yang terjadi. Dan Dito kini sadar dengan perubahan-perubahan yang tadi ia perhatikan terjadi pada kepala desa selama bercerita, ternyata bukan cuma perasaannya saja, kecurigaannya benar, kepala desa memang menyimpan sesuatu yang ingin diledakkannya.

“Pujiati sudah dijodohkan oleh saya asuuu! Dia seharusnya masih hidup kalau menikah dengan saya! Bangsat kau Sumardi, kau menyiksanya, menyakitinya, kau membunuhnya! Seharusnya kau yang mati lebih dulu Sumardi!! Seharusnya tangan ini yang mencabut nyawamu!”

Pukulan tinju berkali-kali itu membuat kain kafan yang menutupi wajah bapak menjadi acak-acakkan. “Sudah Pak hentikan! Saya mohon!” teriak Dito. Sri menangis melihat jenazah bapak jadi kacau begitu. Kepala desa menghentikan pukulan tinjunya lalu berdiri.

“Saya mencintainya sejak sekolah dasar, kau tahu itu!” pungkas kepala desa lalu meludah pada jenazah bapak.

Lihat selengkapnya