DARURAT AMBULANS

ken fauzy
Chapter #21

BAB 21. KITA HARUS TETAP BERSAMA

Joko dan Priyadi terkejut melihat jenazah jatuh menimpa mereka.

“Ya Allah, ya Allah,” sebut Sri melihat jenazah bapak meluncur dari tangan mereka begitu saja. Dito melongok ke dalam lubang kubur. “Mas Jok, Pak Pri, kalian ga apa-apa?” Ia melihat jenazah bapak berhasil ditangkap Joko dan Priyadi. Joko mengacungkan jempolnya. Dito menghela nafas lega.

“Alhamdulillah, ketangkep! Bapak selamat! Eh maksudku bapak sudah mati tapi jenazahnya selamat gitu,” ucap Dito. Sri mengusap dadanya lega. Anjani yang merasa bersalah, mendekati mamahnya. “Maafin aku Mah,” lirih Anjani. Sri merangkul bahu anaknya. “Udah ga apa-apa Ni, terima kasih kamu sudah berani ya,” bisik Sri menghibur.

Joko dan Priyadi segera membaringkan jenazah bapak menghadap kanan dengan sebelumnya melepaskan tali-tali kain kafannya lalu Dito menurunkan papan-papan kayu. Setelah rapi dan selesai, Joko lalu Priyadi bergiliran naik ke atas, keluar dari lubang kuburan dibantu Dito. Setelah itu mereka bertiga mulai menguburkan jnazah bapak, menutup lubang kuburan dengan tanah merah menggunakan pacul dan sekop dengan cepat.

Sri menangis melihat proses itu. Anjani menatap jenazah kakeknya yang perlahan hilang ditimbun tanah merah. Selamat jalan Kek, titip salam sayang buat nenek, batin Anjani. Akhirnya meski hasil pekerjaan mereka tidak sebaik para penggali kuburan sesungguhnya, tapi mereka berhasil menguburkan bapak mereka.

Joko dan Dito mengusap peluh keringat mereka, mereka saling tatap, meski lelah mereka tampak puas. Terakhir nisan kayu itu ditancapkan pada gundukan tanah merah lalu bunga ditaburkan.

Mereka berdoa bersama.

Anjani menaburkan bunga di makam neneknya juga. Joko, Dito dan Sri menatap nisan ibunya. Air mata Joko menitik, begitu pun Dito dan Sri. Air mata itu jatuh menggetarkan jiwa-jiwa yang kehilangan. Jiwa-jiwa yang merindukan kehadiran orang-orang terkasih. Sri mengusap titik air matanya itu lalu mengecup nisan kedua orang tuanya.

Setelah itu, mereka meneguk air mineral dan semua terdiam. Masing-masing berada dalam pikirannya sendiri-sendiri. Sunyi di komplek pemakaman lewat tengah malam. Angin tak bertiup membuat pepohonan tunduk tak bergerak. Bayang-bayang dari nyala api sumbu minyak yang akan padam terlihat diam membeku. Suara jangkrik menjadi satu-satunya suara yang menemani.

Sri masih menatap makam bapak dan ibu, kematian bapak ternyata membuka banyak hal yang tertutup hingga sekarang ia tahu kalau kakak tertuanya yang selama ini dianggapnya tak bertanggung jawab dan melarikan diri dari keluarga, ternyata tidak seperti itu, dugaannya salah. Tapi yang lebih menggayuti pikirannya adalah, ia masih kesal dengan kepala desa yang memukuli jenazah bapaknya tadi! Ia mendengus marah.

Dito tercenung, rentetan peristiwa sejak keberangkatan mereka dari Jakarta hingga penguburan bapak yang dilakukan oleh mereka sendiri memberikan banyak hikmah pada dirinya. Kesalahpahaman, keributan, perkelahian, kegilaan semua bisa saja muncul dalam hidup tak diduga tetapi dengan kedewasaan semua bisa disikapi dengan lebih tenang meski melelahkan.

Joko teringat akan ibu yang memberinya contoh untuk selalu memaafkan dan mengasihi orang yang telah menyakitinya. Awalnya ia menganggap itu sebuah kebodohan. Baginya, orang yang menyakiti seharusnya dibalas dengan digetok kepalanya tapi kini ia mengerti nilai-nilai luhur di balik tetap mengasihi dan memaafkan, melawan api dengan api hanya menimbulkan kebakaran besar.

Sedang dalam pikiran Anjani, ia menyesal kenapa perjalanan ini tidak di-vlog-kan saja, karena ternyata perjalanan ini tidak seburuk yang ia kira. Banyak kejadian yang mencengangkan. Kalau pun bercerita, teman-temannya pasti tak akan percaya dengan apa yang telah terjadi. Mereka tak akan percaya, kalau; mobil ambulansnya nyaris diseruduk kereta, mereka ngumpet dari teror begal, melihat jenazah kakeknya duduk di keranda, ban mobil meletus di jalan tol, uwa dan omnya berkelahi, lalu mereka menggali lubang kuburan sendiri dan puncaknya, ada pocong dipukuli kepala desa! Ah sayang sekali, Anjani menggeleng sendiri.

Sementara Priyadi menatap mereka satu persatu. Dalam pikirannya bertanya-tanya. Kok pada ngelamun ya? Apa yang mereka lamunkan? Semuanya sudah beres bukan?

“Maaf mengganggu waktu ngelamunnya,” celetuk Priyadi memecah sunyi. Semua menatap Priyadi. “Apakah kita mau terus melamun di sini sampai pagi atau mau pulang ya?” cengirnya. Seketika Joko tersadar. “Ah betul Pak Pri, dari tadi kita ngapain bengong ya, ayo kita pulang saja kalau gitu, bapak sudah dikuburkan seperti permintaannya.”

“Mas, apa tindakan kepala desa tadi itu ga kita laporkan ke polisi saja ya? Aku masih kebayang saat dia memukuli wajah bapak tadi,” geram Sri. Joko menggeleng. “Tidak perlu kita bahas lagi lah Sri, lagi pula polisi tidak akan mau menangani masalah sepele, apalagi mengurusi soal orang yang memukul orang yang sudah mati karena cinta pertamanya ga kesampaian. Kita yang mengadu juga terlihat sangat konyol.”

 “Meski itu bisa masuk pasal tak menyenangkan?’ tanya Sri. Joko mengangguk.

“Mas Jok betul Sri,” sela Dito, “yang penting semua sudah selesai, kalau kita laporkan, kuburan bapak bisa-bisa dibongkar lagi nanti, dan panjang lagi urusannya … sedangkan kita masih banyak hal yang harus diurus … lupakan saja ya.”

Sri menghelakan nafas berat lalu mengangguk.

“Ayo kita pulang,” ajak Dito.

“Sebentar, ada yang ingin aku sampaikan,” kata Joko. Semua mengurungkan langkahnya untuk mendengarkan. Joko mengatur nafasnya lalu mulai berkata.

“Dit … Sri … aku ingin bilang … mungkin kita bukanlah kakak adik yang akur seperti di film-film atau seperti di keluarga-keluarga harmonis lainnya … kita sering bertengkar dan beda pendapat … aku bukan kakak yang sempurna … tapi begitu juga kalian … aku banyak melakukan salah, ya salah omong, salah ambil keputusan atau salah menduga … tapi begitu juga kalian … kita berbeda dalam cara pandang, kita berbeda dalam jalan pikiran … tetapi kita adalah keluarga, mau gimana juga ada darah yang mengikat kita … di antara kita tidak ada yang benar seratus persen tapi tidak ada juga yang salah seratus persen … jadi di hadapan makam bapak dan ibu, berjanjilah satu hal … sekesal-kesalnya kita pada saudara kita, seribut-ributnya kita dengan saudara kita, berjanjilah, kalau kita akan selalu bersama.”

Semua mengangguk-ngangguk lalu Sri memeluk Joko diikuti Dito dan Anjani. Mereka semua berpelukan. Priyadi tersenyum dan ikut terharu melihatnya. Ia ikut bahagia melihat kakak beradik beserta ponakannya ini.

 

***

Lihat selengkapnya