Pak Karja baru saja pulang dari acara tahlilan saudaranya di desa sebelah. Tubuhnya terasa lelah setelah duduk berjam-jam. Ia mengayuh sepeda ontel tuanya perlahan, menyusuri jalan tanah yang penuh bongkahan batu. Derit rantai sepedanya terdengar bersahutan dengan napasnya yang samar-samar mulai tersengal. Suasana malam Jumat itu begitu sunyi dan dingin. Hanya derik jangkrik yang memecah sepi dan deru angin malam yang sesekali datang bertiup kencang, menggoyangkan dedaunan di sepanjang jalan.
Begitu roda sepedanya melintasi gapura batas desa, Pak Karja merasa ada yang berbeda dari malam-malam biasanya. Dari kejauhan, suara anjing liar saling menyalak. Suara itu terdengar bersahut-sahutan dari arah kejauhan, panjang dan nyaring.
"Tidak seperti biasanya anjing-anjing itu melolong begini..." gumam Pak Karja pelan, berusaha mengabaikan rasa cemas yang mulai timbul di dadanya.
Tengkuknya mendadak terasa dingin, dan bulu kuduknya berdiri. Di atas sana, bulan yang belum sepenuhnya bulat sesekali tertutup samar oleh awan hitam. Tidak ada penerangan di sepanjang jalan yang ia lalui. Hanya ada titik-titik cahaya samar dari lampu minyak di rumah-rumah warga yang letaknya berjauhan. Satu-satunya alat penerangan yang ia bawa adalah senter kecil di tangan kirinya, dengan cahaya kuning yang agak meredup karena baterainya mulai habis.
Pak Karja mempercepat kayuhannya. Ia menyisir pinggiran jalan tanah merah bertabur batu-batu sebesar kepalan tangan. Jalanan desa ini belum pernah tersentuh aspal. Saat kemarau jalanan ini sangat berdebu, dan jika hujan turun, tanahnya berubah menjadi lumpur yang licin.
Jalanan yang semula berliku kini mulai lurus. Di kiri dan kanannya membentang area ladang serta sawah yang luas. Pohon-pohon asam, kelapa, dan mahoni berdiri berjejer di pinggir jalan. Kala cahaya bulan menyembul dari balik awan, bayangan pohon-pohon itu tampak samar menutupi sebagian badan jalan.
Tepat ketika ia melintas di bawah jajaran pohon asam yang rimbun, terdengar suara gesekan semak belukar. Detik berikutnya, sesuatu menggelinding keluar dari balik semak-semak itu. Benda tersebut bergerak pelan menyeberangi jalan tanah dan berhenti setelah membentur ban belakang sepedanya.
Duk!
Benda itu berbentuk bulat, berwarna putih pucat, dan bernoda merah pekat. Seketika itu juga, bau menyengat seperti bangkai langsung tercium menyengat hidung.
Pak Karja tergagap hingga kehilangan kendali. Sepedanya oleng dan hampir roboh. Ia menurunkan kedua kakinya ke tanah untuk menahan beban sepeda agar tidak jatuh. Napasnya langsung memburu. Jari-jari tangannya mencengkeram setang sepeda sangat kuat sampai persendian tangannya menegang.