BAB 1
Anak yang Tidak Sepenuhnya Sinkron
Kesadaran Nazu kembali beberapa detik sebelum sistem menyapanya.
Ia membuka mata dan mendapati langit-langit kamar asrama yang sama: putih, bersih, sedikit pucat oleh cahaya subuh dari jendela. Ventilasi masih mengembuskan udara dingin pengaturan suhu yang lupa ia ubah semalam. Kakinya yang menyembul dari selimut terasa seperti baru dicelup air.
Tiga detik kemudian, udara di atas tempat tidurnya bergetar. Cahaya biru berkumpul, lalu merapat menjadi panel transparan yang melayang sejengkal dari wajahnya.
Selamat pagi, Nazu.
Waktu tidur: 7 jam 12 menit.
Kondisi fisik: Optimal.
Tingkat fokus hari ini diperkirakan meningkat 4,2%.
Jadwal pertama: Sejarah Peradaban Modern.
Sarapan yang direkomendasikan: Protein Set A.
Suara AI asrama membacakannya pelan, nyaris berbisik, seakan tahu kamar itu masih ingin tidur.
"Pagi," gumam Nazu.
Ia menarik kakinya kembali ke dalam selimut. Panel kedua muncul tanpa suara.
Rekomendasi bangun optimal telah tercapai. Disarankan segera menuju kamar mandi.
"Aku tahu."
Ia tetap berbaring, menghitung garis sambungan panel di langit-langit yang jumlahnya sudah ia hafal. Tidak ada teguran susulan. Tidak ada alarm. Soulcode memang tidak pernah memaksa siapa pun; sistem itu hanya memberi saran. Masalahnya, hampir semua orang yang Nazu kenal menuruti saran itu tanpa pernah bertanya kenapa.
Lima menit lewat dari waktu yang direkomendasikan, barulah ia bangun.
Begitu telapak kakinya menyentuh lantai, lampu kamar berubah sendiri menjadi kuning hangat. Embusan ventilasi melemah, suhunya naik beberapa derajat. Tirai jendela bergeser membuka tanpa diminta.
Di kejauhan, Tesla Tower menembus kabut pagi.
Dari jendela kamarnya, menara itu tampak terlalu tinggi untuk ukuran apa pun yang pernah dibangun manusia. Puncaknya hilang di lapisan awan rendah. Di bawahnya, jalur-jalur TeslaWave berpendar biru di sela gedung, merambat di sepanjang jalan dan dinding seperti akar cahaya yang mencengkeram seluruh kota. Denyutnya pelan dan teratur.
Nazu sudah melihat pemandangan itu ratusan kali. Tetap saja ia berdiri di sana sedikit lebih lama dari yang perlu.
*
Kantin asrama sudah penuh ketika ia turun. Bau roti panggang dan kopi bercampur di udara, bersama denting sendok, kursi yang diseret, dan obrolan yang saling bertumpuk.
Panel menu muncul begitu ia mendekati meja sajian.
Menu yang direkomendasikan: Protein Set A.
Kalori optimal untuk aktivitas hari ini.
Nazu membacanya sekilas, lalu berjalan melewatinya ke rak roti di ujung meja. Ia mengambil dua lembar roti panggang dan secangkir kopi hitam. Secara statistik, itu bukan pilihan terbaik untuk jadwalnya hari ini. Tapi rotinya masih hangat, dan bau kopi itu jauh lebih meyakinkan daripada gambar Protein Set A yang berputar pelan di udara.
Petugas kantin di balik meja yang hafal wajah hampir semua penghuni asrama tertawa kecil melihat nampannya.
"Masih suka mengabaikan rekomendasi sistem?"
Nazu mengangkat bahu. "Kadang aku cuma ingin makan yang aku mau."
"Kalau ibuku lihat kamu, dia pasti bilang kamu menyia-nyiakan teknologi paling sempurna dalam sejarah umat manusia."
"Mungkin."
Ia membawa nampannya ke meja dekat jendela. Di luar, kota sudah bergerak penuh. Kendaraan otomatis meluncur di jalur yang berpendar tipis, berjarak sama satu dengan yang lain. Drone logistik turun ke balkon-balkon tertentu, menitipkan paket, lalu naik lagi ke lalu lintas udara. Tidak ada yang berhenti mendadak. Tidak ada yang membunyikan klakson.
Rute, jadwal, distribusi energi, porsi makan, bahkan kapan seseorang sebaiknya bangun dari tempat tidur. Semua itu dihitung Soulcode setiap detik, untuk jutaan orang sekaligus.
Sistem yang menyelamatkan dunia. Setidaknya begitu yang selalu diajarkan kepada mereka.
*
Jalur pejalan kaki menuju Tesla Institute selalu padat, tapi tidak pernah sesak. Garis cahaya di permukaan trotoar berganti warna untuk membagi arus, dan orang-orang mengikutinya sambil menatap panel masing-masing. Langkah mereka nyaris seirama.
Teratur, terukur, dan rapi sampai terasa sedikit ganjil kalau diperhatikan terlalu lama.
"Nazu!"