BAB 2
Deviasi
Nazu tidak langsung beranjak dari depan jendela.
Ia tetap berdiri di sana, menatap pantulannya sendiri. Lorong asrama sudah hampir kosong. Lampu malam menyala lembut di sepanjang koridor, memantulkan cahaya ke permukaan lantai putih yang mengilap. Pantulan di kaca itu tampak normal. Sangat normal.
Justru itu yang membuatnya tidak bisa pergi.
Beberapa detik yang lalu ia yakin melihat sesuatu. Bukan perasaan maupun ilusi optik. Ia jelas melihatnya. Tapi sekarang tidak ada apa-apa. Nazu mengangkat tangan kanannya. Pantulannya mengikuti. Ia memiringkan kepala. Pantulannya melakukan hal yang persis sama.
Ia mencoba bergerak tiba-tiba beberapa kali. Hasilnya tetap seirama.
"Konyol." Nazu mengusap wajahnya.
Mungkin Kael benar. Ia terlalu banyak berpikir, atau kurang tidur, atau dua-duanya sekaligus. Ia berbalik untuk kembali ke kamar, tapi baru dua langkah, rasa itu datang lagi. Tengkuknya dingin. Sensasi yang sama seperti saat seseorang berdiri terlalu dekat di belakangmu di tempat sepi.
Nazu menoleh cepat. Lorong itu kosong hanya deretan loker dan jendela besar yang membingkai Tesla Tower di kejauhan. Jaringan TeslaWave berpendar di antara gedung-gedung tinggi, menyerupai urat nadi raksasa yang memompa cahaya ke seluruh kota.
Teratur dan Sempurna.
Lalu pandangannya jatuh kembali ke kaca, dan langkahnya berhenti.
Ada sesuatu di sana. Bukan pantulan. Bukan siluet. Melainkan pola tipis, samar, menyerupai akar pohon yang tumbuh merambat dari balik permukaan kaca. Atau retakan. Sulit dipastikan. Pola itu hanya muncul kurang dari satu detik sebelum lenyap.
Nazu langsung mendekat. Telapak tangannya menempel ke permukaan kaca. Dingin rata. Tidak ada tekstur apa pun. Ia berdiri di sana cukup lama, menunggu dalam keheningan lorong, tapi pola itu tidak muncul lagi.
Malam itu Nazu berbaring di tempat tidur dengan satu keputusan yang menancap di kepala.
Besok ia harus mencari tahu.
*
Pukul 06.00. Lampu kamar menyala perlahan.
Selamat pagi, Nazu.
Kualitas tidur: 72%. Direkomendasikan konsumsi kafein tambahan hari ini.
Nazu membuka satu mata.
"Tumben jujur."
Biasanya angka kualitas tidurnya selalu di atas sembilan puluh persen. Soulcodenya tidak salah; tidurnya semalam memang berantakan. Ia mengusap wajahnya yang terasa berat, lalu duduk di tepi tempat tidur. Sekilas ingatannya kembali pada pola aneh di jendela. Lalu ia menghela napas.
Kalau terus memikirkannya, ia bisa gila sendiri.
*
Kantin asrama sudah ramai. Mahasiswa dan peneliti muda memenuhi meja-meja makan, sebagian besar menyantap sarapan sambil menatap panel informasi pribadi yang melayang di depan wajah. Jadwal. Target belajar. Prediksi produktivitas. Hampir semua orang membaca arahan sistem, dan hampir semua orang mematuhi.
Nazu mengambil kopi hitam dan roti isi menu yang direkomendasikan untuk kualitas tidur tujuh puluh dua persen. Saat ia baru menemukan meja kosong, sebuah kursi di depannya ditarik.
Kael. Rambutnya lebih berantakan daripada kemarin.
"Buset." Kael menunjuk wajahnya. "Muka kamu kenapa?"
"Memangnya kenapa?"
"Kayak habis begadang tiga hari."
"Lebay." Nazu menggigit rotinya. "Cuma kurang tidur."
"Kurang tidur atau kebanyakan mikir?"
Nazu menghentikan kunyahannya. Menatap Kael sejenak, lalu mengangkat bahu. "Apa bedanya?"
Kael terdiam beberapa detik, tampak menimbang kalimat itu. "Iya juga."
Ia memunculkan panel pribadinya di atas meja. "Prediksi produktivitasku hari ini sembilan puluh tujuh persen."
"Terus?"
"Aku bahkan belum sadar sepenuhnya. Rasanya nyawaku masih tertinggal di kasur."
"Itu masalahmu."
"Itu masalah sistem." Kael menggeleng pelan.
"Mau tukeran?" tawar Nazu santai.
"Nggak."
"Kenapa?"
"Soalnya kalau sistem ngasih ekspektasi rendah, aku nggak perlu repot pura-pura rajin di kelas."
Tawa mereka pecah bersamaan. Beberapa mahasiswa di meja sebelah menoleh heran. Setidaknya Nazu merasa lega Kael selalu punya cara membuat percakapan paling absurd terdengar masuk akal.
*
Perjalanan menuju Tesla Institute berjalan seperti biasa. Jalanan ramai, tapi tidak pernah semrawut. Setiap kendaraan otomatis meluncur di jalurnya. Setiap pejalan kaki bergerak dalam ritme yang terprediksi. Tesla Tower benar-benar beroperasi seperti mesin raksasa yang tidak mengenal cacat.
Sampai sesuatu yang kecil terjadi.
Seorang siswa berhenti mendadak di tengah trotoar. Wajahnya pucat. Matanya menatap panel pribadinya yang berkedip kosong.
"Masa sih?" gumam Kael pelan.
"Apa?"
"Anak itu udah mematung di sana hampir semenit."
Nazu ikut memperhatikan. Siswa itu semakin gelisah, jemarinya bergetar saat menyentuh layar yang membeku. "Misi harianku hilang!" serunya panik, setengah berteriak pada orang-orang di sekitarnya yang hanya membalas dengan tatapan bingung.
Lalu panel itu menyala kembali. Bunyi dengung pelan, dan wajah siswa itu langsung mengendur. Bahunya turun. "Syukurlah," gumamnya, lalu kembali berjalan seolah serangan panik tadi tidak pernah ada.
Kael menatap punggung anak itu sampai menjauh. "Cuma terputus semenit. Dan dia bertingkah kayak baru kehilangan arah hidup."
Nazu tidak langsung menjawab. "Mungkin udah kebiasaan jadinya ketergantungan."
"Mungkin." Kael mengangkat bahu.
Mereka kembali berjalan. Tapi Nazu masih memikirkannya. Kalau suatu hari Soulcode benar-benar berhenti apa yang akan terjadi pada orang-orang yang bahkan tidak tahu cara mengambil langkah pertama tanpa rekomendasi sistem?
*
Saat mereka melewati gerbang institut, notifikasi berkedip di panel pribadi Nazu.
Tesla Institute Notification. Pemeriksaan Sinkronisasi Tambahan. Wajib Hadir. Pukul 10.00.
Langkah Nazu terhenti. Kael melongok.
"Oh."
"Oh?"
"Itu nggak kedengeran menyenangkan."