DATASOUL TESLA TOWER

Zimaav
Chapter #3

BAB 3 Pola

BAB 3

Pola


Menurut Nazu, ada tiga jenis malam di dunia ini. Malam ketika ia bisa memejamkan mata lalu langsung terlelap, malam ketika ia tahu esok hari akan menjadi hari yang buruk, dan malam seperti ini.

Malam ketika isi kepalanya menolak untuk diam.

Ia sudah mematikan lampu sejak satu jam yang lalu. Sudah mencoba membalikkan badan ke kiri, telentang menatap langit-langit, lalu berguling ke kanan. Tetap tidak ada gunanya. Nazu akhirnya menyerah. Ia menyingkap selimut, turun dari tempat tidur, lalu melangkah pelan tanpa alas kaki menuju jendela besar di sudut kamar.

Di luar, Tesla Tower masih memancarkan pendar birunya. Menara raksasa itu seakan tidak pernah tidur.

Kadang Nazu bertanya-tanya apakah kota ini memang mengenal kata istirahat. Jauh di bawah sana, lampu-lampu kendaraan otomatis masih meluncur teratur di jalurnya. Drone pengantar barang melintas menembus kegelapan malam tanpa suara bising. Jaringan TeslaWave berdenyut di antara gedung-gedung tinggi, memompa energi layaknya napas panjang peradaban yang tak pernah berhenti.

Dari kejauhan, semuanya tampak serbateratur. Rapi tanpa cacat. Persis seperti slogan promosi yang sering melintas di layar-layar fasilitas publik: Masa Depan Telah Tiba.

Dulu Nazu tidak pernah ambil pusing soal slogan itu. Sampai beberapa hari terakhir. Karena sekarang, setiap kali ia memandang kota yang tertata presisi ini, yang terlintas di kepalanya bukan lagi kekaguman, melainkan satu pertanyaan yang terus berputar: kalau semuanya memang sesempurna ini, kenapa sistem tidak mampu memahaminya?

Ia menghela napas panjang, menempelkan dahinya ke kaca jendela yang dingin. Pertanyaan itu terus mengganjal.

Ketika Nazu membuka mata kembali, tatapannya membentur pantulan dirinya sendiri. Otot bahunya langsung menegang. Ia berdiri mematung. Menunggu. Tetapi tidak ada apa-apa di sana selain bayangannya sendiri remaja dengan rambut hitam berantakan, kaus tidur kusut, dan sepasang mata yang kelelahan.

Biasa saja.

Ia tetap berdiri di tempatnya selama beberapa waktu, memastikan pandangannya tidak meleset. Tidak ada pola aneh yang merayap. Tidak ada akar cahaya. Tidak ada retakan, dan bayangannya bergerak tepat mengikuti setiap kedipan matanya.

Ketiadaan anomali itu justru membuat dadanya semakin tidak tenang.

*

Pukul enam pagi, panel kamar menyapa dengan nada datar yang sudah ia hafal luar kepala.

Selamat pagi, Nazu. Kualitas tidur: 68%.

"Pantas saja kepala berat," gumam Nazu serak.

Direkomendasikan tambahan waktu istirahat 43 menit siang ini.

"Nanti saja."

Probabilitas Anda mengabaikan rekomendasi ini adalah 91%. Kemungkinan besar Anda tidak akan melakukannya.

Nazu mengerjap, lalu tawa pendek lolos dari bibirnya. "Kadang aku lupa sistem ini bisa menyebalkan juga."

Ia menyambar jaketnya dari gantungan lalu melangkah keluar. Koridor asrama sudah dipadati mahasiswa yang bersiap menuju fakultas masing-masing. Sebagian besar berjalan sambil menatap panel informasi transparan yang melayang mengikuti arah gerak mereka. Beberapa bahkan melangkah tanpa repot melirik lantai, membiarkan garis pemandu virtual menuntun kaki mereka. Target produktivitas. Target nutrisi. Target waktu belajar.

Manusia di tempat ini tampak sangat menikmati rutinitas diberi tahu apa yang harus mereka lakukan.

Kael sudah menunggu di pelataran depan gedung asrama. Pemuda berambut biru itu duduk santai di atas pembatas taman beton, mengunyah sesuatu yang bentuknya nyaris tidak bisa dikenali sebagai makanan.

"Makan apaan itu?" tanya Nazu seraya menghampirinya.

Kael berhenti mengunyah, mengangkat bungkus kemasan di tangannya ke udara, lalu bergumam, "Hm."

"Kenapa malah bergumam?"

"Aku juga nggak terlalu yakin." Kael memutar kemasannya, membaca cetakan kecil di sudut plastik. "Oh. Protein bar rasa rumput laut."

"Ngapain beli makanan kayak gitu?"

"Lagi diskon."

Nazu menggeleng pelan. "Itu alasan paling Kael yang pernah kudengar bulan ini."

"Makanya aku bangga." Kael menepuk dadanya sendiri, menelan suapan terakhir, lalu melompat turun dari pembatas beton.

Mereka mulai berjalan menyusuri trotoar menuju institut. Udara pagi terasa sejuk, dan untuk beberapa menit perjalanan itu terasa seperti hari-hari biasa. Tetapi ketika mereka melewati persimpangan kedua, Kael mendadak menghentikan langkah.

Tangannya terulur, menahan lengan jaket Nazu. "Eh."

"Kenapa?"

Kael menunjuk sebuah blok gedung laboratorium di sebelah kiri. "Kalau kita belok ke sana, terus motong lewat belakang perpustakaan, kita bakal sampai lebih cepat tiga menit."

Nazu menatap sahabatnya lekat-lekat. "Mulai lagi?"

"Aku serius."

"Justru itu masalahnya."

Kael mengusap tengkuknya. Guratan di dahinya memperlihatkan kebingungan yang nyata ekspresi yang sangat jarang tampak pada pemuda yang biasanya selalu santai itu. "Kamu pernah nggak ngerasa tahu sesuatu, padahal kamu sama sekali belum pernah mikirin hal itu sebelumnya?"

"Itu namanya nebak, Kael."

"Bukan." Kael menggeleng pelan. Suaranya merendah. "Kalau cuma nebak, biasanya aku masih ada ragu. Yang ini beda. Rasanya kayak... aku tahu aja."

Keheningan melintas di antara mereka. Selama bertahun-tahun berteman, Nazu belum pernah melihat Kael tampak serisih ini dengan isi kepalanya sendiri. Dan hal itu cukup untuk membuat perasaan Nazu ikut memburuk.

Pada akhirnya mereka mencoba jalur itu. Dan mereka benar-benar tiba di gerbang institut lima menit lebih cepat.

Begitu melewati pintu putar otomatis, Kael langsung mengangkat kedua tangannya ke udara. "Aku benci kalau ternyata aku bener."

"Biasanya orang seneng kalau tebakannya bener."

"Nggak kalau aku sendiri nggak tahu dari mana asal tebakan itu."

Nazu tidak membantah. "Poin yang masuk akal."

*

Kelas pertama dimulai pukul delapan tepat. Profesor Arman melangkah masuk ke ruang amfiteater membawa tumpukan modul data fisik, segelas kopi pekat, dan ekspresi seorang akademisi yang tampak jauh lebih menikmati masa lalu daripada gerombolan mahasiswa di hadapannya.

Materi hari ini berkisar pada keruntuhan peradaban pra-Soulcode. Seperti biasa, sebagian besar mahasiswa di deretan bangku amfiteater langsung mengaktifkan mode perekam otomatis pada panel meja masing-masing, lalu bersandar santai membiarkan sistem menyimpan seluruh catatan.

Profesor Arman meletakkan cangkirnya ke meja podium. Suaranya terdengar jernih di sekeliling ruangan tanpa perlu pengeras suara tambahan. "Baik. Mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan sederhana."

Seluruh ruangan hening.

Arman menghela napas tipis, memindai wajah-wajah muridnya dari balik kacamata. "Seandainya suatu hari kalian berhasil merancang sistem paling sempurna dalam sejarah peradaban... apa yang akan kalian lakukan?"

Seorang mahasiswa di baris terdepan langsung menekan tombol respons. "Meningkatkan efisiensi kehidupan global."

Arman mengangguk pelan. "Satu."

Lihat selengkapnya