BAB 4
Pengamat
Nazu kembali ke perpustakaan keesokan harinya.
Ia tahu itu bukan keputusan yang bijak sama persis seperti ia tahu bahwa kakinya akan tetap membawanya ke sana. Ada rasa penasaran yang menggerogoti ketenangannya dari dalam. Rasanya menyerupai lagu lama yang liriknya sudah di ujung lidah, tetapi selalu lenyap setiap kali ia mencoba melafalkannya.
Sepanjang perjalanan menuju institut, satu kalimat terus berputar di kepalanya:
Jika sistem mulai melihatmu... jangan biarkan sistem menemukanmu.
Peringatan itu terdengar sepenuhnya tidak masuk akal, dan justru karena itulah Nazu tidak bisa menepisnya begitu saja.
Perpustakaan Digital Tesla Institute tampak sama seperti hari-hari sebelumnya. Hening, bersih, dan berhawa dingin. Deretan rak buku fisik masih berdiri rapi di beberapa sudut ruangan sebagai pajangan sejarah peradaban, meski nyaris tidak ada lagi yang menyentuhnya. Sebagian besar mahasiswa lebih memilih mengakses semua informasi melalui terminal antarmuka. Lebih cepat, praktis, dan efisien tiga doktrin utama yang diagung-agungkan di kota ini.
Nazu melangkah lurus menuju terminal nomor 17 yang ia gunakan semalam. Ia bahkan masih mengingat posisi kursinya. Otak manusia memang punya kebiasaan aneh mengunci detail-detail sepele saat sedang cemas.
Ia duduk, mengaktifkan terminal dengan sentuhan jari, lalu menunggu.
Tidak ada hal aneh yang terjadi. Nazu sendiri tidak yakin apa yang sebenarnya ia harapkan. Mungkin ia mengira layarnya akan mendadak padam lagi, atau pesan itu akan muncul kembali, atau seseorang tiba-tiba menepuk bahunya dan menyapa, Halo, Nazu. Selamat datang di kelompok orang-orang yang tidak dipahami sistem.
Tetapi kenyataan tidak bekerja seperti itu. Layar hanya menampilkan antarmuka beranda standar perpustakaan. Normal. Lagi-lagi kata itu. Nazu mulai merasa muak mendengarnya.
Satu jam berlalu tanpa hasil apa pun. Tidak ada rekaman tersembunyi. Tidak ada jejak galat. Seolah rentetan kejadian semalam benar-benar menguap dari sejarah jaringan.
"Aku mulai merasa bodoh," gumam Nazu pelan, menyandarkan dahi ke telapak tangannya.
"Bagus kalau sadar."
Nazu hampir terlonjak dari kursi. Kael sudah berdiri di sampingnya, mengangsurkan dua gelas kopi kertas.
"Bisa nggak jangan muncul kayak hantu?" tegur Nazu, mengelus dadanya.
"Sama-sama."
"Itu bukan ucapan terima kasih."
Kael menarik kursi di sebelah Nazu tanpa rasa bersalah, lalu meletakkan salah satu gelas di meja. "Aku tahu."
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Nazu seraya meraih kopi itu.
"Mencarimu."
"Kenapa?"
"Soalnya kalau kamu tiba-tiba diculik sistem dan menghilang, aku mau jadi orang pertama yang bilang ke semua orang kalau aku udah curiga dari awal."
Nazu mendengus pelan, sebuah senyum kecil akhirnya lolos. Untuk beberapa saat, obrolan itu terasa amat wajar. Dan Nazu baru menyadari betapa ia merindukan perasaan normal seperti itu.
Kael menyesap kopinya, lalu melirik layar terminal. "Masih ngurusin pesan kemarin?"
"Iya."
"Dapat sesuatu?"
"Nggak ada."
"Baguslah."
"Bagus dari mana?"
"Kalau kamu mulai nemu jawaban, biasanya ukuran masalahnya bakal jadi sepuluh kali lebih gede."
Nazu menatapnya heran. "Aneh."
"Apanya yang aneh?"
"Tumben omonganmu ada benernya."
Kael menepuk dadanya bangga. "Bakat alami."
Tawa mereka mereda perlahan. Namun Nazu menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada Kael. Pandangan pemuda berambut biru itu bergerak gelisah dari layar monitor, ke arah jendela kaca besar, lalu ke pintu masuk perpustakaan, sebelum kembali lagi ke jendela. Ada ketegangan tipis di sudut bibirnya.
"Ada apa?" tanya Nazu.
Kael menggeleng cepat. "Nggak ada apa-apa."
"Kita udah temenan berapa tahun, Kael?"
"Hah?"
"Jawab aja."
"Lima tahun."
"Berarti kamu tahu kalau aku selalu tahu kapan kamu lagi bohong."
Kael menghela napas panjang, menyerah. Bahunya merosot kaku ke sandaran kursi. "Aku mulai ngerasa aneh lagi."
Nazu langsung mengerti. Jalan pintas. Tebakan yang terlalu presisi. Dorongan-dorongan di kepala yang akurasinya tidak wajar. "Seaneh apa kali ini?"
Kael memutar-mutar gelas kopi di tangannya, menghindari kontak mata. "Sebelum masuk ke perpustakaan ini..."
"Kenapa?"
"Aku tahu persis meja nomor berapa yang lagi kosong."
"Mungkin kamu cuma hafal jam sepinya, Kael."
"Nazu," suara Kael merendah, nyaris berbisik. "Aku tahu mejanya sebelum aku ngebuka pintu depan."
Keheningan dingin merayap di antara mereka. Nazu tidak tahu harus merespons apa. Penjelasan rasionalnya sendiri sudah lama habis.
*
Setelah Kael berpamitan untuk menghadiri kelas teknologinya, Nazu memutuskan mencoba satu metode terakhir.
Jika pesan itu tidak meninggalkan jejak di log aktivitas publik, mungkin ia bersembunyi di lapisan diagnostik. Nazu membuka akses statistik terminal, menembus riwayat latensi jaringan lokal, dan membongkar catatan sinkronisasi data yang biasanya hanya dibaca oleh teknisi pemeliharaan.
Sebagian besar layar hanya memuat lalu lintas standar yang membosankan. Deretan angka biner, kode pemeliharaan, alamat node lokal, dan rute server publik.