DATASOUL TESLA TOWER

Zimaav
Chapter #5

BAB 5 Jejak

BAB 5

Jejak


Ada satu aturan tidak tertulis yang sudah dipahami semua orang di lingkaran pertemanan mereka: jika Axel mengirim pesan ke grup obrolan pada pukul enam pagi, berarti ada masalah.

Masalah besar.

Atau alternatif lainnya, pemuda jenius itu sedang dilanda krisis eksistensial karena menemukan anomali data yang menolak tunduk pada rumus logika. Yang sering kali, ujung-ujungnya berarti masalah besar juga.

Nazu mengetahuinya saat panel pribadi di pergelangan tangannya bergetar pelan.

06.03

Grup: Orang-Orang Tidak Produktif

Axel: Kumpul.

Kael: Pagi juga.

Touvan: Halo semuanya.

Kirel: Kenapa.

Axel: Sekarang.

Kael: Nah. Kalau kalimatnya udah sependek itu, berarti siaga satu.

Touvan: Aku baru cuci muka.

Kael: Sama.

Axel: Sekarang.

Kael: Dia beneran marah.

Nazu tersenyum tipis menatap layar transparannya. Untuk sesaat, beban yang menghimpit tengkuknya sejak beberapa hari terakhir terasa sedikit terangkat. Pikirannya tidak langsung tersedot oleh bayangan Observer, pesan-pesan gelap, atau sulur-sulur cahaya aneh.

Melainkan sesuatu yang jauh lebih hangat dan membumi: teman-temannya.

*

Dua puluh menit kemudian, mereka berlima sudah berkumpul di kantin belakang institut.

Sudut itu sudah menjadi teritori tak resmi mereka sejak semester pertama. Bukan karena makanannya istimewa justru sebaliknya, menunya sering kali hambar dan membosankan. Tetapi tempat itu terisolasi di balik deretan gedung riset tua, jarang dilewati mahasiswa lain, dan udaranya selalu tenang. Tempat yang sempurna bagi Kael untuk tertawa terlalu keras tanpa memancing teguran petugas ketertiban kampus.

"Kita semua udah di sini," Kael menjatuhkan tubuhnya ke kursi plastik dengan gaya dramatis, rambut birunya masih mencuat ke mana-mana. "Lalu?"

Axel langsung memproyeksikan layar data dari panel sakunya ke udara tengah meja.

Tanpa ucapan salam. Tanpa basa-basi. Tanpa memedulikan kenyataan bahwa sebagian dari mereka bahkan belum sempat menelan sarapan.

"Datanya rusak," kata Axel to-the-point.

"Kopinya dulu," potong Touvan tenang, mengangsurkan segelas kopi panas ke hadapan Axel.

"Datanya "

"Kopinya, Axel."

Axel memandangi Touvan. Touvan balas menatapnya dengan senyum teduh yang tak tergoyahkan. Pertarungan batin itu berlangsung selama tiga detik. Axel menghela napas, kalah, lalu meraih gelas kertas tersebut.

"Terima kasih," gumam Axel kaku.

"Sama-sama," balas Touvan ramah.

Nazu menahan tawa di balik cangkirnya. Beberapa kebiasaan memang tidak pernah berubah. Kehadiran Touvan selalu punya cara meredam ketegangan seburuk apa pun, sementara Kirel duduk tenang di sudut meja, bersandar dengan kedua tangan terlipat di dada, mengamati situasi tanpa membuang-buang kata.

Setelah semua orang memegang minuman masing-masing, Axel kembali mengetuk panelnya. "Data Nazu bermasalah."

Kael mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Kami udah tahu."

"Kalian belum tahu skala masalahnya."

"Kami tahu ada yang nggak beres."

"Yang ini jauh lebih masif."

"Itu kalimat favorit semua tokoh di film sebelum seluruh kotanya meledak," sahut Kael santai.

Touvan mengangguk sepakat. "Benar juga."

Axel mendengus pelan, menolak terpancing, lalu memperbesar beberapa grafik koordinat di hadapan mereka. "Kalian paham dasar bagaimana Soulcode mengklasifikasikan manusia?"

"Nggak," jawab Kael cepat.

"Nggak terlalu," sahut Touvan jujur.

"Nggak," timpal Nazu.

Kirel hanya menggeleng pelan.

Axel menarik napas panjang. Guratan di wajahnya memperlihatkan keputusasaan seorang akademisi yang baru tersadar bahwa ia sedang berbicara dengan orang-orang yang salah.

"Bagus," desis Axel. "Biar kujelaskan."

"Jangan panjang-panjang," sela Kael. "Otakku masih mode hemat daya."

"Aku bisa mendepakmu dari grup obrolan sekarang juga, Kael."

Kael langsung menegakkan punggungnya dan merapatkan bibir. "Silakan lanjut, Yang Mulia."

*

Sepuluh menit kemudian, mereka semua mulai menyesali keputusan meminta penjelasan teknis itu. Termasuk Nazu.

"Aku nggak nangkep satu kalimat pun," keluh Kael seraya menyandarkan kepala ke meja.

"Padahal aku sudah memangkas seluruh istilah komputasinya," balas Axel membela diri.

"Justru itu bagian yang paling bikin frustrasi."

Touvan tertawa kecil, lalu menepuk bahu Axel. "Coba pakai bahasa manusia biasa, Axel."

Axel memijat pangkal hidungnya, tampak berpikir keras mencari padanan kata yang paling awam, sebelum akhirnya menunjuk Nazu. "Pada kondisi normal, sistem memindai gelombang kesadaran seseorang dan menghasilkan satu profil yang stabil dan terkunci."

"Paham," kata Touvan.

"Profil Nazu tidak stabil."

Kael tersedak kopi yang baru disesapnya. "Bahasamu bisa lebih sopan dikit nggak? Kedengerannya kayak Nazu baru lolos dari bangsal kejiwaan."

"Kamu tahu maksudku."

"Tetap aja kedengarannya buruk."

Axel melanjutkan tanpa memedulikan protes itu. "Setiap kali algoritma analitik mencoba membaca berkas Nazu, hasil parameternya selalu bergeser di detik terakhir."

"Bergeser gimana?" tanya Nazu, rasa ingin tahunya mulai mengikis ketenangannya.

"Kadang tingkat sinkronisasimu terbaca luar biasa tinggi," jelas Axel. "Lalu sedetik kemudian jatuh ke angka paling dasar. Dan di beberapa putaran simulasi... sistem bahkan menolak mengeluarkan kode klasifikasi sama sekali. Layarnya kosong."

Keheningan merayap turun di atas meja mereka. Candaan Kael mendadak terhenti.

Nazu memandangi diagram-diagram rumit yang berkedip di udara. Sebagian besar simbolnya asing bagi matanya, tetapi satu hal terpampang nyata: Axel tidak sedang membual. Pemuda itu tidak akan pernah membuang-buang waktu tidur dan jam risetnya hanya untuk sebuah lelucon.

"Kira-kira kenapa bisa begitu?" tanya Nazu pelan.

"Justru itu pertanyaannya," sahut Axel, suaranya merendah. "Aku tidak tahu."

Matahari mungkin akan terbit dari utara sebelum Axel mau mengakui ketidaktahuannya di depan orang lain. Kael tampaknya menyadari hal yang sama, karena pemuda berambut biru itu langsung bersandar tegak.

"Wah," gumam Kael pelan. "Kamu beneran angkat tangan?"

Lihat selengkapnya