DATASOUL TESLA TOWER

Zimaav
Chapter #6

BAB 6 Resonansi

BAB 6

Resonansi


Ruangan itu mendadak sunyi. Bukan karena ketiadaan suara, melainkan karena kelima orang di dalamnya mendadak lupa bagaimana cara bernapas.

Di bawah pendar lampu fluoresen yang berkedip lesu, pola hitam pekat itu membentang, mencengkeram dinding utama Node-17.

Bentuknya menyerupai akar raksasa. Atau jalinan urat nadi purba yang membeku di dalam semen. Garis-garis fraktal itu timbul secara fisik di atas beton, memancarkan rasa dingin yang ganjil cukup untuk membuat siapa pun yang berdiri di sana berdoa dalam hati agar benda itu tidak pernah bergerak.

Nazu baru menyadari dadanya sesak ketika paru-parunya menuntut oksigen. Ia mengembuskan napas perlahan melalui mulut. Di sampingnya, Kael yang biasanya selalu menjadi orang pertama yang melontarkan celetukan konyol kini hanya mematung dengan mulut setengah terbuka. Touvan menatap dinding itu tanpa sekalipun berkedip.

Axel justru mengambil satu langkah maju.

"Axel," suara Kirel menyentak rendah, penuh nada peringatan.

Langkah Axel terhenti seketika. Bukan semata karena takut, melainkan karena ia tahu insting protektif Kirel tidak pernah salah dalam situasi kritis. Keduanya saling tatap selama beberapa detik dalam ketegangan yang pekat, sebelum Kirel menggeleng tipis. "Jangan mendekat."

Axel mengangguk kaku. Tangannya merogoh saku, menarik keluar panel diagnostik pribadinya. Suara rana digital berbunyi lirih, membelah kesunyian yang membekukan aula. Ia mengambil gambar dari berbagai sudut, lalu mengaktifkan sensor pemindai spektrum.

"Kamu beneran masih sempat mendokumentasikan benda kayak gitu?" bisik Kael parau.

Axel tidak menoleh sedikit pun. "Kalau dinding ini mendadak hilang seperti data-data sebelumnya, setidaknya kita memegang salinan fisiknya."

"Gimana kalau panelmu ikut tersedot lenyap?"

Gerakan jemari Axel membeku di udara. Matanya menatap antarmuka panelnya sejenak. "Itu variabel yang sangat tidak kusukai."

Kael memaksakan tawa kecil yang terdengar garing. "Syukurlah. Ternyata kamu masih punya rasa takut sebagai manusia biasa."

Tidak ada yang menimpali lelucon itu. Kael mengusap tengkuknya sendiri dengan canggung. "Oke, candaanku jelek. Aku tahu."

Keheningan kembali merapat, kali ini terasa semakin menekan. Nazu mengalihkan pandangannya dari sulur-sulur hitam itu untuk memperhatikan keempat sahabatnya. Kael mulai menggigit bibir bawah kebiasaan lamanya setiap kali rasa cemas melanda. Touvan melipat kedua tangannya di dada, tatapannya terfokus dalam konsentrasi yang dalam. Axel kembali sibuk menyerap data frekuensi.

Dan Kirel... pemuda itu sudah bergeser tanpa suara ke dekat ambang pintu baja. Matanya menyapu lorong luar. Mengawasi langit-langit berdebu, sudut-sudut pipa, dan lantai beton. Tubuhnya condong ke depan, siap bereaksi terhadap ancaman apa pun.

Nazu melangkah mendekatinya. "Kirel? Ada apa?"

Kirel tidak melepaskan pandangannya dari koridor gelap. "Aneh."

"Apanya yang aneh?"

"Terlalu sunyi."

Kael yang ikut mendengar percakapan itu menoleh. "Bukannya makin sepi makin bagus buat kita?"

Kirel menggeleng pelan. "Nggak. Kalau memang ada orang yang masuk ke bunker ini tepat sebelum kita tiba..." Kirel menunjuk lantai berdebu di depan lorong. "...ke mana perginya orang itu?"

Pertanyaan sederhana itu membungkam mereka. Jejak sepatu misterius yang mereka ikuti jelas bermuara ke ruangan ini. Namun tidak ada jejak lain yang mengarah keluar. Node-17 adalah bunker tertutup dengan satu-satunya akses melalui pintu baja yang baru saja mereka lewati.

Touvan melangkah mendekat, lalu berjongkok mengamati lantai di dekat dinding akar. "Kalian sadar sesuatu nggak?"

"Apa, Van?" tanya Nazu.

Touvan menyentuhkan jarinya ke lapisan debu tipis. "Lihat ujung jejaknya."

Nazu dan Kael ikut membungkuk. Jejak sepatu itu melangkah lurus menuju dinding utama, berhenti persis satu jengkal di depan pola akar hitam lalu terputus total. Menguap begitu saja tanpa langkah putar balik. Seolah orang yang memilikinya mendadak lenyap ke dalam dinding.

Kael menelan ludah dengan susah payah. "Oke... sekarang tempat ini resmi jadi lokasi paling terkutuk di kampus."

Lampu tabung di langit-langit berkedip sekali. Dengung trafonya bergetar tajam, sebelum cahayanya kembali stabil. Tidak ada suara gesekan mesin. Tidak ada embusan angin. Hanya ada sensasi dingin yang merayap di bawah pori-pori kulit perasaan bahwa ruangan ini sedang memperhatikan mereka balik.

Nazu kembali memandang jalinan akar raksasa itu. Semakin lama ia menatapnya, semakin kuat rasa familier yang mengusik benaknya. Sulur-sulur itu tidak tumbuh sembarangan. Sudut percabangannya teratur, memiliki ritme pengulangan yang presisi.

Menyerupai susunan simbol. Seperti bahasa asing yang menunggu untuk diterjemahkan.

"Nazu," teguran lembut Touvan menariknya kembali ke alam sadar. "Jangan terlalu dekat."

Nazu tersentak, baru menyadari bahwa tanpa sadar kakinya telah melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari sulur hitam itu. Ia buru-buru mundur dua langkah. "Maaf."

Touvan mengangguk tenang tanpa menuntut penjelasan. Sentuhan pemahamannya yang tanpa kata selalu berhasil menenangkan saraf Nazu.

"Lalu sekarang kita harus apa?" Kael memecah keheningan dengan nada mendesak. "Menurutku kuota uji nyali kita hari ini udah lebih dari cukup."

Axel tampak enggan melepaskan pandangannya dari layar pemindai. "Tapi data anomali gelombangnya belum selesai ditarik "

"Axel," potong Touvan tenang namun penuh wibawa. "Kita nggak tahu apa sebenarnya fasilitas ini, dan kita nggak tahu bahaya apa yang baru saja terjadi. Kalau kita memaksakan diri tinggal lebih lama..." Touvan menyunggingkan senyum tipis yang getir. "...aku khawatir kita pulangnya dijemput tandu medis."

Kael langsung mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi. "Nah, itu dia logika paling sehat sedunia. Kita amankan nyawa dulu, baru mikirin rasa penasaran."

Untuk pertama kalinya sejak mereka menginjakkan kaki di bunker ini, sudut bibir Axel berkedut tipis membentuk senyum enggan. "Poin yang masuk akal."

Kael menoleh dramatis ke arah Nazu dan Touvan. "Tolong catat tanggal hari ini di kalender. Axel baru saja mengakui pendapat orang lain masuk akal. Ini keajaiban sejarah."

Axel mendesah pelan. "Kamu berisik, Kael."

"Tapi kamu nggak membantah, kan?"

Axel hanya memutar bola matanya, sementara Kael tersenyum menang.

Touvan terkekeh renyah, dan Kirel di ambang pintu terlihat menggelengkan kepala seraya menyembunyikan senyum tipis di balik kerah jaketnya. Ketegangan pekat yang sejak tadi mencengkeram aula itu mendadak mengendur, terkikis oleh candaan kecil yang hangat.

Nazu memandangi keempat sahabatnya. Belum ada sepuluh menit yang lalu mereka berdiri kaku di hadapan anomali yang mengancam akal sehat, namun kini mereka masih bisa saling meledek seperti biasa. Ruangan tua berbau karat ini seketika terasa lebih manusiawi.

Sore itu Nazu menyadari satu hal krusial: yang membuatnya tidak hancur oleh rasa takut bukanlah keberanian pribadi, melainkan kenyataan bahwa ia tidak lagi memikul misteri ini sendirian.

"Ayo," Touvan menepuk pundak Nazu. "Kita keluar dari sini."

Mereka berbalik melangkah meninggalkan ruang kendali. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa tepat saat ujung tumit Kirel melewati ambang pintu baja, salah satu sulur hitam di dinding berdenyut halus menyerap pendaran cahaya lampu, sebelum kembali membeku tak bergerak.

*

Lihat selengkapnya