BAB 7
Gema
Malam seharusnya membawa ketenangan, tetapi malam itu tidak seorang pun dari mereka yang benar-benar bisa tidur nyenyak.
Jam digital di sudut meja belajar Nazu berkedip menunjukkan pukul 00.47. Kamar itu hanya diterangi pendar redup dari layar panel pribadinya. Sudah tiga kali ia mematikan layarnya, dan tiga kali pula jemarinya kembali menyalakannya. Bukan karena ada sisa tugas kuliah yang harus diselesaikan, melainkan karena setiap kali ruangan itu tenggelam ke dalam kegelapan total, bayangan dinding bunker Node-17 kembali merebut perhatiannya.
Sulur-sulur hitam fraktal itu memang membeku di atas beton. Namun dalam ingatan Nazu, garis-garis itu terasa hidup seperti sesuatu yang sedang bersabar menanti waktu yang tepat untuk bangun.
Nazu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengembuskan napas panjang, lalu bangkit dari kursi.
Ia membuka daun jendela sedikit lebih lebar. Angin malam yang dingin berembus masuk, membawa aroma tanah basah sisa gerimis sore tadi. Di kejauhan membelah langit malam, puncak Tesla Tower bermandikan pendar biru keemasan. Berdiri begitu menjulang hingga siluetnya membayangi hampir setiap jengkal kota. Dulu, setiap kali memandangi menara baja itu, Nazu hanya merasakan ketakjuban terhadap lambang kemajuan peradaban manusia.
Sekarang, pemandangan itu justru menerbitkan rasa ngilu di dasar dadanya.
Apa sebenarnya yang ditanam di bawah menara itu?
Pikirannya berputar liar dan saling bertubrukan. Kael yang mendadak membeku di taman. Sosok pria pembersih jalanan yang tersenyum ramah tanpa bayangan di tanah. Berkas misterius di panel Axel yang terus membengkak. Semuanya terasa memiliki benang merah yang saling bertaut, namun semakin keras ia mencoba menarik ujungnya, bayangan di kepalanya justru semakin kabur.
Dan di balik semua itu, ada rasa bersalah yang perlahan merayapi tengkuknya: kalau bukan karena keanehan pada diriku... apakah teman-temanku akan terseret sejauh ini?
Getaran pelan di atas meja membuyarkan lamunannya. Nazu menoleh ke layar panel.
00.52
Grup: Orang-Orang Tidak Produktif
Touvan: Belum tidur?
Nazu tersenyum tipis. Belum sempat jemarinya menyentuh tombol balasan, rentetan pesan lain langsung menyusul bertubi-tubi.
Kael: Lagi debat sama nyamuk.
Touvan: Siapa yang menang?
Kael: Nyamuknya. Aku kalah telak.
Nazu tertawa kecil tanpa suara. Baru beberapa jam yang lalu mereka berdiri kaku di depan anomali yang merusak akal sehat, dan tengah malam ini Kael masih sempat melaporkan kekalahan diplomasinya melawan serangga.
Axel: Nyamuk tidak memiliki kapasitas neurologis untuk diajak berdebat, Kael.
Kael: Nah kan. Orang lagi ngelucu malah dikasih kuliah entomologi.
Touvan: Berarti Axel masih normal.
Axel: Aku memang selalu normal.
Kael: Justru kepastianmu itu yang bikin curiga.
Untuk beberapa menit berikutnya, grup obrolan itu ramai oleh perdebatan remeh yang sama sekali tidak berbobot. Tidak ada yang menyinggung nama Node-17. Tidak ada yang berbisik soal sulur akar hitam atau fenomena pria tanpa bayangan. Mereka hanya bersikap seperti biasanya lima anak muda yang saling melempar lelucon konyol di penghujung malam.
Dan obrolan ringan itu, anehnya, berhasil mengangkat sebongkah batu besar yang sejak sore tadi menindih dada Nazu.
*
Di sayap barat institut, lampu Laboratorium Analitik masih menyala benderang di tengah keheningan gedung.
Axel duduk sendirian di depan tiga lengkungan layar transparan. Cangkir kopinya sudah dingin sejak satu jam yang lalu dan ia bahkan tidak berniat meliriknya lagi.
Di hadapannya, salinan data yang ia tarik dari stasiun Node-17 digelar terbuka: diagram spasial, rekaman frekuensi akustik, hingga foto fisik sulur hitam yang terpahat di dinding. Namun mata analitis Axel hanya terpaku pada satu objek yang terus mempermainkan logikanya.
Sebuah berkas tanpa nama. Tanpa format baku. Dan ukurannya terus merangkak naik secara otonom.
Axel menggeser jarinya di udara, membedah rincian properti berkas itu.
18,7 megabita saat mereka melangkah keluar dari bunker.
Dua puluh menit yang lalu, angkanya bergeser menjadi 18,9 MB.
Axel menyipitkan mata, lalu membongkar riwayat sistem operasinya secara paksa. Tidak ada proses penulisan latar belakang. Tidak ada sinkronisasi cloud. Tidak ada alokasi cache sementara yang bocor. Semua log sistem mencatat keheningan total.
"Mustahil," desisnya dengan suara serak.
Jemarinya bergerak cepat di atas konsol. Ia membuat salinan baru berkas itu, mengurungnya ke dalam lingkungan sandbox virtual yang terisolasi total, memutus paksa seluruh koneksi nirkabel laboratorium, bahkan menonaktifkan antena penerima gelombang TeslaWave di perangkatnya. Jika berkas ini kembali berubah, berarti pemicunya bukan berasal dari luar jaringan.
Lima menit berlalu dalam ketegangan yang menyesakkan dada. Axel kembali membuka jendela informasi berkas.
Angka di layarnya telah berganti:
19,0 MB
Axel menatap baris angka itu tanpa berkedip. Seumur hidupnya mempelajari hukum matematika dan struktur komputasi Soulcode, ini adalah pertama kalinya ia berhadapan dengan seonggok data biner yang mampu bertumbuh dengan sendirinya layaknya sel-sel makhluk hidup.
*
Sementara itu di distrik pemukiman lama, Touvan duduk termenung di beranda rumah sewanya.
Segelas teh kamomil mengepulkan uap tipis di udara malam yang sejuk. Tidak ada layar informasi yang melayang di hadapannya. Ia tidak mencoba membongkar kode-kode anomali atau memecahkan misteri bunker tua tadi sore. Touvan hanya bersandar ke kursi rotan, memandangi hamparan bintang yang kembali berpendar setelah kabut tipis tersapu angin.
Biasanya, rutinitas sederhana ini selalu berhasil menjernihkan pikirannya setelah seharian beraktivitas. Namun malam ini, ketenangan itu enggan datang.
Alih-alih memikirkan sulur akar hitam, benak Touvan justru dipenuhi oleh wajah keempat sahabatnya.
Nazu yang belakangan ini semakin sering tersesat dalam lamunannya sendiri. Axel yang sudah pasti sedang menyiksa tubuhnya di laboratorium demi sebuah jawaban angka. Kael yang sore tadi memaksakan tawa hanya untuk menutupi getaran panik di tangannya. Serta Kirel, yang sejak keluar dari bunker tua itu secara naluriah menolak duduk membelakangi pintu masuk.
Touvan tersenyum tipis nan letih ke arah langit malam. "Lima orang..." gumamnya pelan. "...dan nggak ada satu pun yang pintar berpura-pura baik-baik saja."
Panel di sakunya bergetar lembut. Touvan membaca pesan balasan Kael tentang kekalahan melawan nyamuk. Sudut bibirnya terangkat kembali. Setidaknya, mereka masih bisa tertawa. Selama tawa itu belum lenyap di antara mereka, Touvan yakin tali persahabatan mereka belum akan putus.
*
Di kamar asramanya, Kael akhirnya berhasil menepuk nyamuk pengganggunya setelah pengejaran yang melelahkan.
"Menang juga akhirnya," desah pemuda berambut biru itu, meniup telapak tangannya.
Ia menjatuhkan diri ke kasur dengan punggung membentur kasur pegas. Tubuhnya letih luar biasa, tetapi matanya menatap langit-langit kamar tanpa rasa kantuk. Bayangan petugas kebersihan tua tadi sore kembali merayap masuk ke benaknya tanpa permisi.
Senyuman ramahnya. Sorot matanya yang familier. Dan permukaan aspal yang bersih tanpa bayangan di bawah telapak sepatunya saat diterpa sinar matahari senja.
Kael memejamkan mata rapat-rapat, mencoba bernegosiasi dengan kepalanya sendiri. "Pasti cuma salah lihat," bisiknya pada keheningan. "Iya... pembiasan cahaya dari pepohonan. Efek silau. Pasti cuma itu."
Beberapa detik berlalu dalam sunyi. Lalu, tiba-tiba saja, sebaris kalimat melintas begitu saja di dalam kesadarannya sangat jernih, tenang, dan sama sekali bukan berasal dari kemauannya sendiri:
Besok hujan, jam sebelas lewat dua belas.
Kael membuka matanya lebar-lebar, langsung terduduk tegak di kasur. "Hah?"
Ia mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gusar. "Kenapa tiba-tiba aku mikirin jam hujan?!"