BAB 8
Retakan
Pagi itu, kota terbangun seperti biasanya.
Tesla Tower masih berdiri tegak di tempat yang sama, menjulang angkuh menembus lapisan kabut tipis. Jaringan pendar kebiruannya terus berdenyut, memompa energi di antara gedung-gedung pencakar langit bagaikan sistem sirkulasi raksasa yang sehat tanpa cela. Siapa pun yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kawasan ini tidak akan menemukan satu pun alasan untuk percaya bahwa fondasi dunia modern mereka sedang goyah.
Di permukaan, tidak ada hal yang tampak berubah.
"Kata pengumuman fakultas, minggu depan kita punya tiga laporan akhir," Kael menatap layar panelnya dengan ekspresi putus asa, seolah baru saja dijatuhi vonis hukuman seumur hidup. "Tiga laporan. Satu presentasi kelompok. Dua jadwal praktikum. Semuanya berdesakan di dalam minggu yang cuma punya lima hari kerja." Pemuda berambut biru itu mendongak menatap langit. "Aku mulai curiga para dosen sengaja mendesain kurikulum ini cuma buat menguji batas ketahanan mental manusia."
Touvan menyesap cangkir kopinya dengan tenang. "Bukan."
"Lalu apa?"
"Mereka cuma lupa bagaimana rasanya menjadi mahasiswa."
Nazu tertawa kecil di samping mereka. "Penjelasan yang sangat akurat."
Kael menatap keduanya bergantian dengan ekspresi tersinggung yang dibuat-buat. "Kalian berdua ini, bukannya menyemangati sahabat yang sedang berada di ambang krisis eksistensial."
"Kami cuma bersikap realistis, Kael," sahut Touvan santai.
"Justru fakta realistis itu yang menusuk hati."
Mereka bertiga melangkah santai menyusuri koridor utama kampus. Suasana institut sudah dipadati hiruk-pikuk ribuan mahasiswa. Beberapa orang berlari tergesa-gesa mengejar jam kuliah pagi, sekelompok mahasiswa tingkat akhir duduk melingkar berdebat di tepi taman, sementara drone-drone logistik fakultas teknik mendengung rendah di udara membawa tabung-tabung modul fisik.
Segalanya terasa begitu hidup. Begitu normal. Sangat kontras dengan kebekuan yang menyelimuti bunker Node-17 dua hari yang lalu.
"Eh, lihat itu," Kael tiba-tiba menahan langkah.
"Ada apa lagi?" tanya Touvan, ikut berhenti.
Kael menunjuk ke arah persimpangan koridor di depan mereka. Di sana, sebuah robot pembersih otomatis berbentuk silinder sedang meluncur anggun membawa nampan kopi pesanan staf. Dari arah koridor samping, robot asisten perpustakaan dengan model serupa melaju membawa tumpukan buku modul tebal.
Sensor jarak kedua mesin itu mendeteksi halangan secara bersamaan.
Keduanya mendadak berhenti. Maju beberapa sentimeter. Mundur. Maju lagi. Mundur lagi. Keduanya terjebak dalam lingkaran logika algoritma navigasi yang saling mengunci.
Lalu tok.
Kedua silinder logam itu bertubrukan pelan. Gelas kopi di atas nampan bergoyang nyaris tumpah, dan tumpukan modul di robot kedua miring beberapa derajat. Kedua mesin itu terdiam kaku selama beberapa detik di tengah jalan, seolah sedang saling memaki dalam kode biner.
Kael langsung menepuk tangannya girang. "Nah, itu bukti empiris paling nyata. Bahkan robot tercanggih pun otaknya bakal eror kalau dipaksa kerja pagi-pagi tanpa asupan kafein."
Touvan terbahak, sementara Nazu tersenyum lebar.
Robot pembersih akhirnya mengeluarkan suara sintetis datar dari pengeras suaranya: "Mohon maaf. Jalur operasional saya terhalang."
Robot perpustakaan merespons dengan nada dan intonasi yang persis sama: "Mohon maaf. Jalur operasional saya juga terhalang."
Keduanya kembali mematung di tempat, menolak mengalah.
Kael menggeleng-gelengkan kepala dengan takjub. "Kalau dua robot itu suatu hari menikah, anak-anaknya pasti bingung siapa yang harus minta maaf duluan kalau ada masalah rumah tangga."
Di barisan belakang, Kirel yang biasanya memasang raut sedingin dinding batu mendadak mengembuskan tawa pendek dari hidungnya.
Sangat pelan. Namun cukup membuat Kael menoleh dengan tatapan puas.
"Lihat itu," bisik Kael bangga sambil menepuk dadanya sendiri. "Pagi ini aku berhasil bikin Kirel tertawa dua persen."
Bel pergantian jam perkuliahan berdentang nyaring di seluruh koridor, memecah tawa mereka. Mahasiswa di sekitar mereka mulai bergegas masuk ke ruang kuliah masing-masing. Di kejauhan, siluet baja Tesla Tower masih mengintip dari sela-sela atap gedung akademik. Berdiri membisu tanpa gerakan.
Namun entah kenapa, pagi ini Nazu merasa menara raksasa itu berdiri sedikit lebih dekat daripada biasanya. Bayang-bayang puncaknya seakan menimpa tengkuknya, dingin dan menyesakkan.
Nazu buru-buru membuang muka.
"Ada yang mengganjal, Naz?" tanya Touvan yang memperhatikan perubahan ekspresinya.
Nazu menggeleng tipis. "Nggak ada apa-apa, Van. Cuma... perasaan aneh aja."
Touvan tidak mendesak. Ia hanya mengangguk pelan. Pemuda itu selalu tahu kapan harus memberi ruang, dan kepekaan tanpa kata itu membuat Nazu merasa sedikit lebih lega.
*
Kelas Sejarah Peradaban Modern berlangsung hampir satu jam di ruang amfiteater.
Profesor Arman sedang berdiri di depan podium, menjabarkan bab lanjutan mengenai infrastruktur pemulihan pasca-krisis energi global.
"...karena itulah seluruh arsitektur jaringan energi TeslaWave dirancang dengan prinsip redundansi mutlak pada setiap node utamanya," jelas Profesor Arman tenang, jarinya memproyeksikan diagram interkoneksi benua di udara. "Tidak ada satu pun titik tunggal yang mampu melumpuhkan distribusi global. Sistem ini dibangun untuk tidak pernah mati."
Axel, yang duduk di barisan tengah, mencatat penjelasan itu dengan ritme yang jauh lebih cepat dari biasanya. Bagi Axel, kata node kini membawa gravitasi yang sepenuhnya berbeda. Sementara sebagian besar mahasiswa lain hanya menandai poin-poin yang berpotensi keluar di lembar ujian.
"Kalau sistem ini seandal itu..." gumam Kael berbisik seraya menopang dagu dengan malas, "...kenapa sinyal terminal di kamar asramaku masih sering putus tiap jam sepuluh malam?"
Nazu menahan tawa di kursinya, menyembunyikan seringai di balik kerah jaket.
Sayangnya, bisikan Kael tertangkap oleh sensor akustik podium. Profesor Arman menghentikan kuliahnya sejenak.
"Kael Kayhan."
Kael langsung menegakkan punggungnya secara kaku. "Hadir, Pak."
"Kualitas pemancar di lantai asramamu bukan bagian dari silabus ujian tengah semester ini."
"Sayang sekali, Pak. Padahal itu krisis paling nyata yang dihadapi generasi muda hari ini."
Seluruh ruangan amfiteater pecah oleh tawa puluhan mahasiswa. Suasana kuliah yang semula membosankan mendadak mencair. Dan selama beberapa menit, dunia di sekitar mereka terasa begitu normal, aman, dan tanpa ancaman.
Hingga kemudian, segalanya direnggut tanpa peringatan.
Tidak ada tanda-tanda penurunan voltase. Tidak ada alarm peringatan sistem.
KLIK.
Suara pemutus sirkuit itu sangat halus, namun di dalam ruangan amfiteater yang mendadak hening, bunyi itu terdengar seperti letupan keras di telinga Nazu.
Lampu-lampu penerangan di langit-langit padam serentak. Pendingin ruangan berhenti berdesis. Proyeksi diagram holografik Profesor Arman lenyap seketika, dan seluruh konsol di meja para mahasiswa menghitam menjadi lempengan kaca mati.
Keheningan total menyergap seisi ruangan.
Bukan karena orang-orang mendadak kehilangan suara, melainkan karena seluruh dengung mekanis yang selama ini menjadi detak jantung kota tiba-tiba dicabut dari akarnya. Tidak ada dengungan mesin. Tidak ada getaran kipas ventilasi. Tidak ada alur data Soulcode.
Hanya ada suara embusan napas puluhan manusia yang mendadak diselimuti kebingungan.
Nazu menoleh cepat ke arah jendela kaca besar di samping amfiteater.
Di luar sana, seluruh pemandangan kampus membeku layaknya lukisan mati. Kendaraan-kendaraan listrik berhenti mendadak di tengah jalan raya. Kapsul lift kaca di gedung fakultas seberang macet di pertengahan lantai empat. Lampu-lampu pemandu jalanan menghitam total. Di atas langit, seekor burung melintas rendah, dan untuk pertama kalinya seumur hidup Nazu, kepakan sayap hewan itu terdengar begitu nyaring membelah keheningan kota yang lumpuh.
Seluruh peradaban seakan-akan sedang menahan napas dalam kegelapan.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.