DATASOUL TESLA TOWER

Zimaav
Chapter #9

BAB 9 Senna

BAB 9

Senna


Udara pagi masih menyisakan hawa dingin dari sisa gerimis semalam. Aspal basah yang membentang menuju gerbang utama Tesla Institute memantulkan cahaya matahari muda dalam genangan-genangan air tipis. Setiap kali langkah sepatu mahasiswa melintas, riak-riak kecil menjalar sesaat sebelum kembali tenang. Aroma tanah lembap yang berpadu dengan wangi seduhan kopi dari deretan kios di depan kampus selalu berhasil mengingatkan Nazu pada hari-hari pertamanya sebagai mahasiswa baru.

Di kejauhan, Tesla Tower berdiri tegak seperti biasa. Puncaknya menyentuh langit pagi yang mulai memucat. Jalur-jalur cahaya kebiruan mengalir di permukaan baja menara pelan, teratur, menyerupai hembusan napas panjang yang tidak pernah berhenti. Hampir setiap pagi Nazu melihatnya, dan hampir setiap pagi pula ia menganggap menara itu hanyalah latar belakang mati dari peradaban kota.

Hampir.

Pagi ini, tatapan Nazu hanya singgah sepersekian detik pada siluet menara tersebut sebelum ia buru-buru memalingkan wajah. Ia belum sanggup menatap puncaknya terlalu lama tidak setelah gambar retakan bergerigi dan tulisan Lihat lagi di buku catatannya tadi malam merampas sisa tidurnya.

"Nazu!"

Suara seruan Kael memecah lamunannya. Nazu menoleh ke arah pelataran parkir sepeda listrik. Kael sedang berlari kecil menghampirinya. Tali ranselnya hanya tersampir asal di satu bahu, sementara sepotong roti bakar di tangannya tinggal tersisa separuh. Entah bagaimana caranya, pemuda berambut biru itu masih sempat melambaikan tangan dengan heboh sambil mengunyah makanannya.

"Tolong bilang padaku kalau dosen belum masuk kelas," seru Kael begitu jarak mereka tinggal dua langkah.

"Aku juga baru sampai, Kael."

"Syukurlah," Kael mengembuskan napas lega yang dilebih-lebihkan, lalu menyeka remah roti di sudut bibirnya. "Kalau sampai aku telat di kelas Arsitektur Jaringan hari ini, namaku pasti langsung dicoret dari daftar beasiswa."

Touvan yang berjalan santai di belakang Kael tersenyum geleng-geleng kepala. "Makanya jangan begadang sampai jam dua pagi cuma buat berburu nyamuk."

"Itu urusan kehormatan teritorial, Touvan," kilah Kael tanpa rasa bersalah.

Nazu tertawa kecil. Kehadiran dua sahabatnya itu perlahan mencairkan hawa dingin yang sejak semalam mencengkeram dadanya.

"Ngomong-ngomong," kata Nazu seraya melangkah masuk ke koridor kampus, "perpustakaan pusat buka lebih pagi dari jadwal kuliah biasa, kan?"

Touvan menoleh heran. "Seharusnya iya. Kenapa memangnya?"

Nazu mengangkat bahunya pelan. "Nggak tahu. Tiba-tiba saja perasaanku menyuruhku ingin mencari referensi buku fisik ke sana."

Kael langsung menghentikan langkahnya dan menatap Nazu dengan mata menyipit. "Ke perpustakaan? Nyari buku kertas?"

"Iya."

"Serius?"

"Iya, Kael."

Kael tanpa ragu menempelkan punggung tangannya ke dahi Nazu. "Aneh. Suhunya normal. Kamu nggak lagi demam tinggi."

Nazu menepis tangan sahabatnya itu sambil tertawa geli. "Apaan sih."

"Kamu yang aneh, Naz. Biasanya kamu yang paling getol menyeret kami ke kantin kalau jam kuliah lagi kosong," gerutu Kael.

"Aku cuma ingin melihat-lihat rak arsip tua."

Kael menoleh ke arah Touvan dengan raut wajah memelas. "Dia kenapa lagi sih, Van?"

Touvan tersenyum simpul seraya menepuk bahu Kael. "Biarkan saja. Sesekali membiarkan rasa penasaran menang melawan rasa malas itu bagus buat perkembangan otakmu juga."

Kael menghela napas panjang dan dramatis. "Baiklah. Kalau begitu sehabis kelas teori pagi ini, kita kawal detektif kita ini ke sarang buku berdebu."

*

Tepat pukul sebelas siang, bel pergantian sesi mengakhiri kuliah teori.

Koridor lantai tiga gedung utama kembali dibanjiri gelombang mahasiswa. Derap langkah kaki berbaur dengan dengung obrolan dan desis robot pembersih yang meluncur di tepi dinding. Nazu, Kael, Touvan, Kirel, dan Axel melangkah beriringan menyeberangi jembatan penghubung menuju Gedung Perpustakaan Pusat.

Berbeda dengan terminal digital yang biasa mereka gunakan, bagian barat perpustakaan ini menyimpan ribuan jilid buku fisik peninggalan era pra-krisis. Rak-rak kayu ek raksasa menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit berkubah kaca, memancarkan aroma kertas tua, lem jilid, dan pelitur kayu yang menenangkan.

"Tempat ini selalu terasa seperti melangkah mundur dua ratus tahun ke masa lalu," gumam Touvan pelan seraya memandangi deretan rak ensiklopedia tebal.

"Dan tempat ini wangi banget," timpal Kael seraya menghirup udara dalam-dalam. "Jauh lebih manusiawi daripada bau cairan pendingin server di labnya Axel."

Axel yang melangkah di sampingnya hanya memutar bola mata, mengabaikan sindiran itu dan tetap fokus memeriksa status pemindaian di panel sakunya.

Nazu memisahkan diri beberapa langkah, menyusuri celah di antara dua rak tinggi bertuliskan Arsip Sosiologi & Arsitektur Kota Kuno. Jemarinya menyentuh punggung-punggung buku bersampul kain yang berdebu tipis.

Lalu pandangannya terpaku pada sudut terjauh lorong tersebut.

Di dekat jendela kaca besar yang membingkai taman belakang institut, seorang mahasiswi sedang duduk sendirian di meja kayu panjang.

Cahaya matahari siang jatuh miring melalui kaca patri, memandikan meja tersebut dengan pendaran keemasan yang tenang. Perempuan itu mengenakan jaket katun abu-abu longgar yang lengannya tergulung hingga siku. Rambut hitam sebahunya diikat asal ke belakang dengan jepit kayu sederhana, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai sisi wajahnya.

Di hadapannya, sebuah buku tebal bersampul kulit cokelat terbuka lebar.

Perempuan itu membalik satu halaman perlahan tanpa suara, meratakannya dengan telapak tangan, lalu terdiam sejenak. Tatapannya menatap lurus ke arah luar jendela memperhatikan dahan-dahan pohon yang bergoyang tertiup angin.

Ada ketenangan yang ganjil dari pembawaan perempuan itu. Bukan ketenangan seorang mahasiswa yang sedang menikmati waktu luang, melainkan ketenangan seseorang yang sudah sangat terbiasa berada dalam kesendirian yang panjang.

Belum sempat Nazu mencerna perasaannya, perempuan itu mendadak menoleh.

Pandangan mereka beradu di udara.

Nazu refleks menahan napas, merasa tertangkap basah sedang mengamati orang asing. Namun perempuan itu sama sekali tidak tampak terkejut atau risih. Ia hanya memandang Nazu dengan sorot mata yang tenang, lalu menganggukkan kepalanya pelan sebuah sapaan mikro yang teramat wajar, seakan ia memang sudah menduga Nazu akan berdiri di sana.

"Ketemu," bisik Kael yang tiba-tiba melongok dari balik pundak Nazu, membuat Nazu tersentak kaget.

"Bisa nggak jangan bikin jantungan terus?" tegur Nazu pelan.

Kael menyeringai tipis, lalu melirik ke arah meja di dekat jendela. "Jadi itu orang yang dari tadi duduk sendirian di pojokan? Tipe manusia purba yang hobi baca buku tebal ya."

Nazu memperhatikan meja tersebut sekali lagi, dan satu detail aneh langsung menyita perhatiannya.

Di atas meja perempuan itu, tidak ada sepetak pun layar panel digital Soulcode. Tidak ada terminal saku. Tidak ada proyektor holografik. Di zaman di mana setiap mahasiswa selalu dikelilingi tiga sampai empat bilah antarmuka virtual ke mana pun mereka pergi, perempuan ini sepenuhnya bersih dari perangkat teknologi modern.

Sebelum Nazu sempat mendiskusikannya, perempuan itu menutup bukunya secara perlahan. Bunyi debuman halusnya memecah keheningan lorong.

Ia bangkit dari kursi, menyelipkan buku tebal itu di bawah lengannya, lalu melangkah santai menghampiri rak tempat Nazu dan Kael berdiri.

Langkahnya teratur, tanpa suara gesekan sepatu yang terburu-buru. Wajahnya yang bersih memiliki garis rahang yang tegas namun tenang. Ketika ia berhenti berjarak dua langkah di hadapan mereka, aroma samar dedaunan basah dan kayu manis tercium di udara.

Lihat selengkapnya