DATASOUL TESLA TOWER

Zimaav
Chapter #11

BAB 11 Sinkronisasi

BAB 11

Sinkronisasi


Pagi di Tesla Institute berjalan seperti biasanya.

Pintu-pintu geser otomatis membuka dan menutup di sepanjang selasar utama. Kendaraan logistik tanpa pengemudi meluncur senyap di jalur servis samping. Dari balkon lantai dua gedung fakultas, dua mahasiswa memanggil teman mereka yang berjalan tergesa menuju lift. Sebuah robot pembersih lantai sempat berhenti di tengah lobi karena jalurnya terhalang tiga orang yang mengobrol, membunyikan nada peringatan pendek berulang kali sampai ketiga orang itu bergeser.

Rutinitas kampus bekerja dengan rapi.

Hanya proyeksi di dinding utama lobi yang membuat langkah kaki Nazu tertahan.

PEMERIKSAAN SINKRONISASI SOULCODE SEMESTERAN

GELOMBANG FAKULTAS REKAYASA & TEKNIK TERAPAN

STATUS: KEHADIRAN WAJIB

Nazu sudah menerima notifikasi itu di panel pribadinya sejak pukul lima pagi. Namun melihat kalimat tersebut terpampang di dinding lobi tetap memberi jeda yang tidak nyaman di dadanya.

"Jadwal kita jam sepuluh tepat di auditorium barat."

Suara Kael muncul dari samping. Pemuda itu mengunyah sisa roti dari kantin, tas ranselnya tergantung di satu bahu.

Nazu meliriknya sekilas. "Kamu sudah dari tadi?"

"Dari anak tangga taman," sahut Kael seraya menelan rotinya. Ia memperhatikan Nazu. "Punggungmu kaku banget, Naz."

Kael menatap layar proyeksi sejenak, lalu menurunkan suaranya. "Menurutmu... bakal ada masalah?"

Nazu tidak langsung menjawab. Bayangan berkas ARCHIVE-00172 dari ruang arsip bawah tanah subuh tadi masih melekat di kepalanya gambar menara yang sama, bertanggal lima ribu tahun lalu, dengan lima siluet manusia di kakinya.

"Paling cuma seperti semester lalu," kata Nazu pelan. "Persentase sinkronisasi tertahan, lalu disuruh evaluasi manual."

"Semoga," gumam Kael, meski nada suaranya tidak sepenuhnya yakin.

Pukul sembilan lewat empat puluh, auditorium barat sudah dipadati ratusan mahasiswa tingkat satu dan dua. Ruangan besar bertingkat itu ditata menyerupai fasilitas medis semi-industri. Di panggung utama, berjejer sepuluh bilik kapsul silinder kaca transparan setinggi dua setengah meter: Pod Sinkronisasi Resonansi.

Di samping masing-masing pod, terdapat terminal pemantau yang menampilkan grafik gelombang otak, detak jantung, dan integrasi sirkuit Soulcode secara real-time.

Axel, Touvan, dan Kirel sudah menunggu di deretan kursi tribun tengah ketika Nazu dan Kael masuk.

"Bagaimana drive portabelnya, Ax?" bisik Nazu seraya duduk di sebelah Touvan.

"Tersimpan offline di saku dalam," jawab Axel tanpa menoleh, matanya mengamati operator teknis yang sedang mengalibrasi sensor pod di panggung. "Jangan dibahas di sini. Seluruh frekuensi nirkabel auditorium ini disadap oleh sistem pemantau fakultas selama sesi berlangsung."

Touvan menoleh pada Nazu, menyodorkan sebotol air mineral. "Minum dulu, Naz."

Nazu menerima botol itu. "Terima kasih, Van."

"Giliranku dan Kael kemungkinan di kelompok tiga," kata Kirel dari samping Axel, suaranya tenang dan teratur. "Kamu dan Axel di kelompok lima."

Pemeriksaan dimulai tepat pukul sepuluh.

Satu per satu mahasiswa dipanggil ke panggung oleh suara komputer terpadu. Mereka melangkah masuk ke dalam bilik kaca, memasang sensor pelat dahi dan pergelangan tangan, lalu pintu pod menutup rapat. Dalam hitungan lima belas detik, cincin medan magnetik di sekeliling tabung berputar cepat, memancarkan pendar biru lembut yang menyelaraskan frekuensi tubuh dengan jaringan kota.

Layar di atas panggung menampilkan status:

SYNCHRONIZATION: 98.4%   STABLE

HARMONIC DEVIATION: 0.12%   TOLERANCE MET

RESULT: PASS

Sebagian besar mahasiswa keluar dari pod dalam waktu kurang dari satu menit dengan senyum lega. Bagi mereka, pemeriksaan ini hanyalah formalitas birokrasi semesteran untuk memperbarui akses transportasi dan fasilitas publik.

Namun bagi Nazu, waktu berjalan lambat.

Pukul sebelas lewat seperempat, giliran kelompok lima akhirnya dipanggil.

PEMANGGILAN NOMOR URUT: 041 SAMPAI 050

SILAKAN MEMASUKI POD MASING-MASING

Axel menepuk bahu Nazu singkat sebelum berdiri dan berjalan menuruni tangga tribun menuju Pod 2. Nazu menarik napas perlahan, lalu melangkah menuju Pod 6 di tengah panggung.

Kael mengangkat dua jari dari tribun sebagai tanda dukungan. Touvan mengangguk kecil.

Nazu melangkah masuk ke dalam bilik kaca Pod 6. Udara di dalamnya dingin, berbau alkohol pembersih dan ozon. Ia duduk di kursi ergonomis logam, memasang sensor di pelipis kanannya, lalu meletakkan pergelangan tangan kirinya di atas bantalan pemindai Soulcode.

Pintu kaca bergeser menutup. Suara bising auditorium di luar langsung teredam menjadi keheningan kedap udara.

Suara mekanis wanita terdengar dari kisi-kisi atas:

MEMULAI KALIBRASI FREKUENSI PRIBADI.

HARAP RIELKS DAN TETAPKAN POSISI TUBUH.

Cincin logam di sekeliling tabung mulai bergerak naik. Udara di dalam bilik terasa sedikit bergetar ketika frekuensi gelombang rendah mulai memindai sistem sarafnya.

Di layar monitor luar yang menghadap ke panggung, grafik data Nazu mulai berjalan:

INITIALIZING SOULCODE HANDSHAKE...

FREQUENCY CAPTURED: 142.8 MHz

MATCHING CORE REGISTRY: 20% ... 35% ... 48% ...

Angka itu berhenti tepat di lima puluh satu persen.

Cincin pemindai yang semula berputar mulus mendadak melambat, mengeluarkan bunyi klik berulang-ulang seperti roda gigi yang kehilangan traksi. Grafik gelombang yang seharusnya membentuk kurva harmonis melengkung patah-patah, menghasilkan pola garis tak beraturan yang saling bertumpuk.

WARNING: RESONANCE ASYMMETRY DETECTED.

CORE RETRY 1/3... RETRY 2/3... RETRY 3/3...

Lihat selengkapnya