DATASOUL TESLA TOWER

Zimaav
Chapter #12

BAB 12 Anomali

BAB 12

Anomali


Surat itu masih tergeletak di meja belajar Nazu ketika ia membuka mata di pagi hari. Kertas serat kasarnya dingin di bawah ujung jari, dan teksnya tidak berubah:

TESLA TOWER AUTHORITY

JADWAL: 16:40

LOKASI: SEKTOR R-09 // FASILITAS 03 AKSES TIMUR

STATUS: KEHADIRAN MUTLAK

Pencarian yang mereka lakukan di saluran terenkripsi semalam berakhir sama: nihil. Nama Tesla Tower Authority tidak ada di registri publik kementerian, tidak terdaftar di direktori kota, dan tidak pernah tercatat di arsip lembaga lama.

Pukul empat sore, mereka berlima sudah berada di peron stasiun kapsul transit lingkar luar. Angin musim gugur bertiup rendah melintasi beton peron yang sepi.

"Jalur transit terakhir berhenti satu kilometer sebelum koordinat itu," kata Axel seraya menunjukkan peta di tabletnya. Layar menampilkan batas terluar institut yang bersisian dengan lahan kosong. "Setelah itu kita jalan kaki lewat jalan servis lama."

"Bagus," sahut Kael seraya merapatkan jaketnya. "Jalan-jalan sore ke kawasan industri mati. Rencana akhir pekan yang rapi."

"Simpan energimu, Kael," kata Touvan pelan.

Kirel berjalan di depan, mengawasi jalan setapak berkerikil yang membelah padang ilalang. Di kejauhan, siluet Menara Tesla berdiri tegak, pendar cincin energinya berputar teratur di bawah langit kelabu.

Setelah berjalan hampir dua puluh menit menyusuri pagar kawat berkarat, mereka tiba di depan kompleks bangunan rendah berlantai tiga.

Fasilitas 03.

Gedung itu tampak seperti peninggalan era transisi sebelum otomatisasi penuh diterapkan. Dinding betonnya kelabu kusam dipenuhi noda lumut kering, jendela-jendelanya buram berdebu. Di atas pintu masuk besi yang berat, sebuah papan nama tergantung miring:

RESEARCH FACILITY 03 // RESTRICTED AREA

TESLA TOWER AUXILIARY SYSTEM

Di samping undakan beton yang retak, Senna sudah berdiri menunggu. Buku bersampul kain abu-abu yang dibawanya sejak subuh terselip di bawah lengan.

"Kak Senna datang dari tadi?" tanya Nazu saat mereka mendekat.

"Sepuluh menit lalu," jawab Senna singkat, matanya menyapu kelima pemuda itu. "Kalian yakin mau masuk?"

"Surat itu memanggil Nazu," kata Kirel datar. "Dan kami nggak membiarkan dia jalan sendirian ke gedung kosong."

Senna menatap Kirel sejenak, lalu mengangguk kecil. "Pintu utama terkunci mekanis. Kita lewat pintu darurat sayap timur."

Ia memimpin jalan memutari dinding samping gedung yang dipenuhi pipa drainase berkarat. Di dekat tumpukan palet kayu lapuk, ada pintu besi tanpa pegangan luar. Senna menarik kait baja tersembunyi di bawah kusen, lalu mendorongnya perlahan.

Pintu terbuka dengan derit pelan.

Udara di dalam Fasilitas 03 dingin dan pengap, berbau debu basah dan besi berkarat. Tidak ada lampu penerangan aktif. Cahaya sore hanya masuk tipis melalui jendela-jendela tinggi yang kotor.

Axel menyalakan lampu kecil di tabletnya, mengarahkan sorotannya ke denah evakuasi gedung yang terpasang di dinding lorong:

LANTAI 1: LABORATORIUM PEMELIHARAAN SISTEM

RUANG 101 SAMPAI 106 // RUANG 108 SAMPAI 112

Axel menghentikan sorotan lampunya. "Ada yang aneh."

Nazu menoleh. "Apa?"

"Lihat urutannya," kata Axel, mendekatkan lampu ke denah logam itu. "Ruang 106 langsung melompat ke 108. Di denah ini, Ruang 107 tidak digambar."

Senna melangkah mendahului mereka menyusuri lorong berlantai ubin kusam. "Bukan tidak digambar. Tapi memang sengaja disekat."

Ia berhenti di antara dua pintu laboratorium yang tertutup rapat. Di antara Ruang 106 dan Ruang 108, terdapat dinding beton polos selebar tiga meter. Tidak ada pintu, tidak ada ventilasi, dan tidak ada plakat nama.

Senna menyapukan tangannya ke sambungan dinding beton di sisi kanan. Jarinya menekan sebuah tonjolan pelat tembaga kecil yang tersamar cat mengelupas.

KLIK.

Dinding beton selebar satu meter bergeser ke dalam beberapa sentimeter, lalu meluncur ke samping, membuka sebuah celah lorong sempit yang dilapisi lempengan tembaga murni.

Di dalamnya, sebuah ruangan kecil seluas empat kali empat meter terbentang sunyi.

Tidak ada perabotan mewah. Hanya ada sebuah meja konsol baja berat di tengah ruangan, dan di atasnya berdiri sebuah monitor tabung CRT dengan deretan lampu filamen analog serta keyboard mekanis tebal. Di sudut meja, terpasang sebuah unit pembaca kartu magnetik kuno.

"Ruang 107," bisik Nazu.

"Terminal ini sepenuhnya terisolasi dari jaringan luar," kata Axel, melangkah masuk seraya memeriksa kabel-kabel tembaga tebal yang terpasang mati ke lantai. "Pelat tembaga di dinding ini berfungsi sebagai sangkar Faraday. Sinyal nirkabel apa pun dari luar tidak bisa masuk atau keluar."

Nazu meletakkan amplop abu-abu dari saku jaketnya ke atas meja konsol.

Saat permukaan amplop menyentuh pelat baja meja, lampu filamen di samping monitor tabung mendadak berkedip jingga.

Layar CRT berdengung halus, lalu menampilkan satu baris teks hijau:

INPUT PASSKEY REQUIRED.

"Passkey?" gumam Touvan dari pintu. "Kita nggak punya kodenya."

Nazu membalik amplop di tangannya. Di balik segel lilin hitam yang patah, ada deretan dua belas angka kecil yang dicap timbul di lipatan kertas: `3127-0017-0000`.

"Coba nomor ini, Ax," kata Nazu seraya menunjuk deretan angka itu.

Axel menekan tombol-tombol keyboard baja. Dua belas digit dimasukkan, diikuti ketukan tombol Enter.

Lihat selengkapnya