DATASOUL TESLA TOWER

Zimaav
Chapter #13

BAB 13 Pemburu

BAB 13

Pemburu


Perjalanan kembali dari kawasan industri Sektor R-09 berlangsung dalam keheningan yang tegang.

Mereka tidak menaiki kapsul transit utama. Di bawah arahan Senna, mereka mengambil rute memutar melewati jalan servis logistik tua dan gorong-gorong drainase kering yang membentang di perbatasan luar kampus. Sepanjang perjalanan, lampu-lampu pemindai di gerbang fakultas tampak berkedip lebih sering dari biasanya, menyapu jalanan dengan sinar inframerah tipis yang mencari jejak frekuensi.

"Perpustakaan lama," bisik Senna saat mereka merapat di balik deretan pohon pinus sayap barat. "Sektor arsip mikrofilm bawah tanah. Tempat itu tidak punya pemancar aktif sejak tiga puluh tahun lalu. Itu titik buta jaringan paling aman malam ini."

Pukul tujuh malam, mereka sudah berada dua lantai di bawah tanah perpustakaan tua. Udara di ruangan sempit itu berbau kertas lapuk, minyak pelumas mesin mikrofilm, dan debu kering. Deretan rak besi tinggi berisi rol film seluloid membatasi meja kayu panjang di tengah ruangan.

Senna meletakkan bukunya di meja, lalu merogoh kantong kanvas dari balik mantelnya.

Enam tabung silinder kecil berwarna hitam kusam dikeluarkan dan diletakkan berjejer di atas meja.

"Pasang di bagian belakang gelang panel kalian," kata Senna datar. "Filter peredam resonansi frekuensi rendah. Alat ini bikin emisi perangkat kalian terbaca seperti gangguan statis acak di sistem pemantau kampus."

Axel mengambil salah satu silinder, memeriksanya di bawah lampu meja yang redup. "Ini perangkat analog lama. Standar pemeliharaan instalasi tertutup."

"Pasang saja kalau kamu masih mau tabletmu bisa dipakai," sahut Senna pendek seraya memasang miliknya.

Satu per satu mereka menempelkan silinder itu ke sisi dalam gelang. Lampu indikator pada perangkat Nazu berkedip sekali, lalu meredup menjadi garis putih tipis.

Keheningan kembali turun di antara rak-rak besi.

Touvan bersandar pada salah satu tiang rak, kedua tangannya terlipat di dada. Matanya yang biasanya ramah menatap Axel dengan ketenangan yang dingin dan lelah.

"Sekarang," kata Touvan pelan, suaranya tenang namun berat. "Apa langkahmu berikutnya, Axel?"

Axel tidak mengangkat kepala dari tabletnya. Jarinya mengetik memeriksa sisa berkas biner dari Ruang 107. "Aku perlu membongkar struktur rekaman tadi sore. Pesan itu menyebutkan sistem sebelum Soulcode. Kalau ada arsip yang bisa melacak ke mana arah protokol pembersihan itu "

"Berhenti, Ax," potong Touvan. Nada suaranya tidak tinggi, tetapi ada ketegasan mutlak di dalamnya.

Axel menghentikan ketikannya, menatap Touvan. "Maksudmu?"

"Maksudku, kita berhenti di sini," kata Touvan, menatap lurus ke mata sahabatnya. "Gedung tiga lantai baru saja hilang dari tanah kurang dari dua jam lalu. Kita hampir tertimpa tangga beton. Sekarang kita sembunyi di ruang bawah tanah pakai peredam frekuensi yang jelas bukan barang resmi kampus. Kamu masih berpikir ini cuma soal membedah data?"

"Touvan, kalau kita nggak tahu apa yang mencari kita "

Lihat selengkapnya