DATASOUL TESLA TOWER

Zimaav
Chapter #14

BAB 14 Echo

BAB 14

Echo


Pesan dari Senna masuk ke panel pribadi Nazu menjelang pukul empat sore.

Pesan itu sangat singkat, tanpa basa-basi ataupun penjelasan panjang:

Senna: Gerbang utara. Jam lima.

Senna: Jangan bawa barang yang nggak perlu.

Kael merespons di obrolan grup kurang dari satu menit kemudian:

Kael: Definisi "nggak perlu" itu sangat subjektif, Kak.

Kael: Laptop?

Tidak ada balasan dari Senna.

Kael: Camilan?

Touvan menimpali hampir seketika:

Touvan: Makanan selalu perlu.

Kael: Terima kasih, Touvan. Kamu memang pilar moral kelompok ini.

Axel sama sekali tidak ikut berkomentar di grup. Sejak menemukan baris status ACTIVE ANOMALY COUNT: 6 di ruang arsip mikrofilm semalam, pemuda berkacamata itu lebih banyak bungkam daripada biasanya. Tatapannya lurus menatap ruang kosong di depannya, sibuk membedah data yang belum menemukan muara.

Nazu membaca pesan-pesan itu sambil duduk di undakan tangga batu di luar gedung perkuliahan. Sinar matahari sore menyapu pelataran kampus dengan rona keemasan yang hangat, memantul pada fasad kaca fakultas. Ratusan mahasiswa melangkah keluar dari kelas sore, saling melempar lelucon tentang praktikum yang melelahkan, menenteng gelas kopi kertas, dan merencanakan makan malam.

Pemandangan yang luar biasa normal.

Nazu memandangi kerumunan itu dalam diam. Belum genap satu semester ia berada di institut ini, namun ia baru menyadari betapa cepatnya rasa normal itu bisa berubah menjadi sesuatu yang berjarak.

Di pergelangan tangan kirinya, silinder peredam hitam pemberian Senna terpasang di balik tali jam tangan.

Sejak alat itu dipasang semalam, intensitas pemindaian terasa mereda. Tidak ada lagi lensa kamera pengawas jalanan yang berputar kaku mengikuti langkahnya. Tidak ada panel navigasi kampus yang menyuntikkan pesan acak. Pemburu itu seolah kehilangan jejak mereka di tengah keramaian.

Setidaknya, untuk sementara waktu.

*

Pukul lima lewat sepuluh menit, kelima sahabat itu telah berkumpul di samping gerbang utara kampus. Gerbang ini adalah portal tua berpilar batu yang jarang dilalui mahasiswa, berbatasan langsung dengan kawasan konservasi hutan lindung yang dikelola institut.

Senna sudah berdiri menunggu di balik bayang-bayang pohon ek tua. Gadis itu mengenakan kemeja katun abu-abu longgar dan celana jins pudar, rambutnya dibiarkan tergerai menutupi pundak. Tidak ada buku bersampul kain lusuh yang didekapnya sore ini. Kedua tangannya dimasukkan ke saku jaket.

"Semuanya lengkap?" tanya Senna pelan seraya menatap mereka satu per satu.

"Lengkap," jawab Kirel seraya membetulkan tali ranselnya. "Dan seperti instruksimu, kami cuma bawa air minum dan beberapa roti dari kantin."

Senna mengangguk kecil. "Ikuti aku. Jangan menyalakan panel atau memancar sinyal nirkabel selama kita berjalan."

Senna membalikkan badan, melangkah menembus celah pagar kawat yang terbuka di balik semak belukar. Kelima pemuda itu melangkah mengikutinya dalam barisan rapat.

Jalan setapak yang mereka lalui bukan jalan aspal ataupun paving blok modern, melainkan undakan batu kali purba yang sebagian besar permukaannya telah tertutup oleh lapisan lumut hijau tebal. Pohon-pohon pinus dan ek berbatang besar berdiri menjulang di kedua sisi, membentuk kanopi dedaunan rapat yang menyaring cahaya senja menjadi temaram kehijauan yang tenang.

Semakin jauh mereka melangkah ke dalam hutan, dengung frekuensi tinggi dari menara Tesla di pusat kota perlahan surut dan menghilang. Suara desing turbin pendingin, deru kereta levitasi, dan gaung peradaban modern tergantikan sepenuhnya oleh gemericik air sungai kecil, desau angin yang menggesek dahan pinus, dan derak ranting kering yang patah di bawah pijakan sepatu mereka.

Udara di sini berbau tanah basah yang dingin, getah pinus yang tajam, dan kesegaran basah yang kontras dengan udara penyejuk ruangan asrama.

"Kawasan ini..." gumam Axel pelan seraya menatap puncak-pohon yang bergoyang ditiup angin. "Tidak ada nodus TeslaWave di radius lima ratus meter. Sensor medanku mati total."

"Bagus kalau mati," sahut Senna tanpa menoleh. "Ini satu-satunya petak tanah di seluruh lembah ini yang sengaja dibiarkan berada di luar jaringan."

Setelah mendaki lereng berbatu selama hampir lima belas menit, jalur setapak itu berakhir di sebuah pelataran terbuka yang sunyi.

Sebuah taman tua pra-institut.

Tempat itu menyerupai halaman reruntuhan kuno yang asri. Dinding-dinding batu rendah yang sebagian telah runtuh ditumbuhi sulur tanaman merambat. Di bagian tengah pelataran, terdapat sebuah kolam air jernih yang bersumber dari mata air alami, dikelilingi oleh susunan bangku-bangku batu panjang yang berlumut.

Namun yang paling menarik perhatian Nazu bukanlah kolam ataupun pepohonannya.

Tepat di tepi kolam, berdiri sebuah monolit batu hitam tunggal setinggi dada manusia.

Batu itu tidak dipahat halus seperti monumen modern. Bentuknya kasar, padat, dan sedikit condong ke samping, dengan urat-urat mineral abu-abu keperakan yang meliuk di antara lapisan lumut kering. Keberadaannya di tengah taman itu memancarkan aura gravitasi yang ganjil seolah batu purba itu telah berada di sana jauh sebelum manusia pertama mengenal kabel dan frekuensi.

"Duduklah," ujar Senna seraya menunjuk deretan bangku batu di tepi kolam.

Kael langsung menjatuhkan dirinya ke bangku terdekat, mengembuskan napas panjang. "Akhirnya... lututku rasanya mau lepas. Sumpah, Kak Senna, kalau tujuanmu cuma mau mengajak kita piknik ke hutan, tempat ini sebenarnya tenang banget."

Touvan tersenyum tipis seraya membuka tas kainnya, membagikan botol-botol air dingin dan bungkusan roti ke tengah meja batu. "Makan dulu, Kael. Biar energimu balik."

Lihat selengkapnya