BAB 15
Sebelum Retak
Pesan dari Axel masuk ke panel pribadi Nazu tepat saat kuliah teori elektromagnetik pagi baru saja berakhir.
Pesan itu sangat singkat, khas gaya bicaranya yang hemat kata dan langsung pada inti persoalan:
Axel: Ruang diskusi empat.
Axel: Sekarang, kalau bisa.
Kael membalas di obrolan grup kurang dari satu menit kemudian:
Kael: Ini panggilan hidup-mati, atau kamu cuma mau pamer karena simulasi praktikummu akhirnya berhasil?
Axel: Datang saja.
Kael: Nada bicaramu selalu bikin orang cemas, Xel.
Touvan: Sepuluh menit lagi aku sampai. Bawa roti kantin.
Kirel tidak mengetik balasan, hanya menyematkan tanda centang bahwa ia telah membaca pesan tersebut.
Nazu memasukkan panelnya ke saku jaket, lalu melangkah keluar dari auditorium besar bersama gelombang mahasiswa lainnya. Matahari siang bersinar terik di langit tanpa awan, memantulkan cahaya putih pada jalur pejalan kaki yang masih basah oleh semprotan air otomatis taman kampus. Di depan kantin sayap barat, antrean mahasiswa yang membeli minuman dingin mengular hingga melewati teras luar. Dua orang mahasiswa tingkat pertama berjalan tergesa melintasi halaman rumput seraya memegangi map karton mereka yang terlipat ditiup angin.
Pemandangan kampus berjalan normal, persis seperti hari kuliah biasa.
Bahkan kaca pembatas halte transit yang dilewati Nazu beberapa menit kemudian hanya memantulkan bayangan orang-orang yang melangkah biasa. Tidak ada senyuman ganjil yang mendahului gerak bibirnya seperti di halte semalam. Bayangan di kaca bergerak serempak dengan tubuh fisiknya, tanpa ada jeda sepersekian detik pun.
Nazu mengembuskan napas perlahan. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya percaya bahwa ketegangan di taman tua kemarin hanyalah mimpi buruk yang mulai surut ditelan matahari siang.
Ruang Diskusi 4 terletak di lantai tiga perpustakaan pusat, terselip di antara deretan ruang belajar kelompok yang dilapisi dinding kaca buram kedap suara. Begitu Nazu mendorong pintu gesernya, ia mendapati Axel sudah menguasai separuh meja kayu panjang.
Namun tidak seperti biasanya, meja itu tidak dipenuhi tumpukan sirkuit terbuka atau kabel optik yang berantakan. Hanya ada satu unit tablet transparan yang layarnya memancarkan pendar biru tenang, sebuah proyektor holografis saku, dan tiga cangkir kopi kertas yang sudah dingin.
Kael sudah duduk bersandar di kursi putar seraya memutar pulpen di jemarinya. Touvan baru saja meletakkan kantong kertas cokelat berisi roti kayu manis hangat di tengah meja, sementara Kirel berdiri bersandar di sudut dinding dekat pintu, mengawasi koridor luar melalui celah kaca buram.
"Duduk, Naz," kata Axel tanpa mengangkat wajah dari layar. Jarinya mengetuk pelan tepi meja.
Nazu menarik kursi putar di samping Touvan dan duduk. Aroma mentega dan kayu manis dari kantong kertas di depannya terasa menenangkan. "Apa yang kamu temukan, Xel?"
Axel menggeser proyektor saku ke titik tengah meja, lalu menekan tombol aktif.
Klik.
Sebuah diagram tiga dimensi berwarna biru redup membumbung ke udara di atas meja. Itu adalah peta topografi arsitektur bawah tanah Tesla Institute dan kawasan kota di sekitarnya, namun dengan lapisan-lapisan vektor yang belum pernah Nazu lihat di kurikulum akademik mana pun.
"Semalam, setelah kita berpisah dari taman tua, aku tidak bisa tidur," buka Axel, suaranya tenang namun sarat fokus. "Aku memasukkan data osilasi frekuensi yang kita rekam di Node-17 ke dalam simulasi peluruhan biner dari berkas Fasilitas 03 yang kita ambil kemarin sore."
Kael memajukan badannya, menumpukan kedua siku ke meja seraya menatap jalinan garis biru di udara. "Dan hasilnya?"
"Hasilnya adalah ini." Axel menyapukan jarinya di udara, memperbesar sektor terbawah yang berada tepat di bawah fondasi kota. Proyeksi berputar lambat, menampilkan sebuah struktur silinder panjang yang meliuk di antara jaringan pipa limbah dan kabel transmisi utama. "Saluran pembuangan panas pasif pra-krisis. Saluran ini dibangun sebelum era otomatisasi Soulcode diterapkan secara global, dirancang murni dengan prinsip mekanis untuk membuang uap panas reaktor bawah tanah langsung ke celah lembah luar."
Touvan menyipitkan mata, meneliti alur garis silinder itu. "Terowongan sepanjang ini... ujungnya bermuara ke mana, Xel?"
Axel mengangkat pandangannya, menatap mereka satu per satu di balik lensa kacamata. "Langsung menembus ke cincin fondasi terbawah Tesla Tower."
Ruang diskusi yang kedap suara itu seketika hening.
Kael berhenti memutar pulpennya, menatap diagram itu lekat-lekat. "Maksudmu... ada jalur fisik langsung menuju lantai dasar menara tanpa harus lewat gerbang dekanat atau pos pemeriksaan?"
"Secara teknis, iya," sahut Axel. "Terowongan pembuangan ini tidak menggunakan kabel transmisi modern. Tidak ada pemindai biometrik Soulcode di sepanjang jalurnya, tidak ada kamera pengawas jaringan yang terhubung ke server kampus, dan tidak ada nodus sensor medan yang aktif. Karena secara administratif, saluran ini sudah dicatat sebagai terowongan kering yang dibeton mati sejak empat puluh tahun lalu."
"Tapi terowongan itu belum dibeton mati?" kejar Kirel dari posisinya di dekat pintu.
"Sensor sonar pasif yang kuintip melalui lubang inspeksi drainase subuh tadi membuktikan rongga udaranya masih utuh," jawab Axel seraya menyunggingkan senyum tipis senyum langka seorang analis yang berhasil membuktikan hipotesisnya. "Filter penutup di mulut terowongan hanya disegel oleh pelat baja mekanis di sektor barat daya, tertutup semak belukar. Kita bisa memotong engselnya dengan alat potong hidrolik dalam waktu kurang dari lima belas menit."
Nazu menatap proyeksi silinder itu dengan dada yang berdegup teratur.
Sejak insiden evaluasi di Pod Enam dan teror pelacakan di ruang arsip mikrofilm, mereka selalu berada dalam posisi bertahan bersembunyi di balik dinding tua dan menanti ke mana arah sistem membidik mereka.
Namun sekarang, untuk pertama kalinya, mereka memiliki peta. Sebuah celah fisik menuju pusat struktur yang mengendalikan kota.
"Kapan waktu paling aman untuk masuk, Xel?" tanya Nazu.